:::Negeri Cinta:::

Wahai kawan, ayo kita duduk melingkar. Silahkan, sembari menikmati kopi hangat dan hangatnya api unggun, kau dengarkan kisahku ini. Merokok pun boleh. Asal jangan tiba-tiba ngentut, nanti baunya mengganggu suasana. Kalau bisa, tahan sajalah. Hingga akhir cerita.

“Huahaha…”

Kawan-kawanku,
Ini adalah ceritera tentang sebuah negeri. Namanya Negeri Cinta. Dikepalai oleh seorang Raja yang amat berkuasa. Mau tahu namanya?

“Yoi, Bro..siapa tuh?”

Mas ~kopidangdut~ nama rajanya.

“Huuuuu…”..”Pakai acara punya putri cantik jelita nggak?”

“Hmm..tentu saja, nama putri itu adalah Marécinta!”

“Akh, gombal..! Itu kan nama putri sampeyan sendiri, gak mutuuu?!” (Tidak berkualitas).

Ohoo, ini ceritera tanpa nuasa nepotisme, hanya sedikit unsur kekeluargaan, efek samping rasa cinta pada keluarga..Ok? Ojo protes, sik tho..!” (Jangan protes, bentar dulu dong..!).

“Huahaha..oke lah..lanjuuut.”

Nah,
Alkisah kerajaan Cinta ini memiliki seorang ratu yang ayu, kenes, ngangeni (membuat kangen), sedikit centil namun daya tariknya luar biasa, sehingga membuat milik sang Raja dapat mengalahkan gaya tarik bumi!”..

“Huahahaha…”

”Ratu ini adalah aset kerajaan yang paling berharga”. Ibarat kata, tanpa Ratu, maka Raja layaknya tanpa mahkota..!

“Ciyeee, mahkota nih ye..”

“Rajanya punya selir gak?”..”Mesti buanyak banget, tho..?ayo ngaku..!”

Oh, maaf, sudah aku bilang di awal tadi, ini adalah Negeri Cinta, sehingga hanya cinta yang mulia dan disahkan agama saja yang ada di negeri Cinta..Top banget, tho…?

“Uohhh..dikira saya, Rajanya Negeri sampeyan seperti Raja Dangdut, gitu lohhh..!”

Hihihi. Baik. Keadaan negeri Cinta sangat luar biasa. Matahari bersinar penuh gegap gempita. Tanpa pernah ngambek untuk melakukan aksi gerhana.

“Wah, berarti gak ada bulan dong?”

Memang. Karena bulan, telah pindah ke paras Ratu yang cantik jelita.

“Weekk, gaya mu, Yo..Yo…!” (Cih, gaya kamu itu, ~kopidangdut~..~kopidangdut~..!).

Tenang-tenang..ayo kawan-kawan sruput dulu kopinya. Jangan terbawa nafsu. Kawan-kawanku tak perlu banyak mengeluarkan energi untuk memprotes cerita, karena sudah final sifatnya. Dalam proses penceritaan ceritera ini, tidak diadakan surat-menyurat bahkan untuk urusan titik koma. Penambahan sedikit saja, terutama intonasi yang berlebihan atau tanda baca, dapat mempengaruhi akhir cerita. Pokoknya dengar, rasakan dan nikmati.

“Siiiiip lah!”..”Lanjut!”

Sampai mana tadi? Oh ya, karena tanpa gerhana, maka negeri ini tidak pernah ada mitos sang kala dimakan Buto Ijo. Rakyatnya gemar bermain logika. Tidak ada cerita masalah tahayul, sulap-sulapan hingga ilmu hitam. Semuanya, berdasarkan fakta, dan yang terpenting semuanya love melulu. Cinta semua.

Pada suatu hari sang raja ingin sekali berlibur ke negeri seberang, namanya negeri Indonesia. Konon ceritera negeri itu tidak kalah indah pemandangannya dengan negeri Cinta. Hanya saja, Raja ke sana bukan karena itu. Raja ke sana untuk beranjang sana, bersilaturahmi dengan Sang Kepala Negara, dan hendak memberikan hibah kepada proyek-proyek infrastruktur yang ada di Negeri Indonesia.

Namun sang ratu Karima, oh ya nama sang ratu tadi Karima, mencegah Raja untuk ke sana. Alasan beliau adalah bahwa Indonesia sudah aneh semua warganya. Mereka percaya Pencipta namun kerjaannya merusakkan segala kekayaan alam yang ada. Katanya memegang amanah, tapi nyatanya banyak pengkhianatan di mana-mana. Katanya rajin ibadah namun saling sakit-menyakiti di antara warganya. Dan parahnya ideologi Negeri indonesia sangat bertentangan dengan Negeri Cinta, karena mereka berideologi: Selingkuh hal biasa, asal suka-sama suka! Gilaaa…
Bukan sekadar selingkuh soal cinta, namun selingkuh politik, selingkuh agama dan selingkuh membohongi Tuhannya.

“Lha, kok bisa?”

Bisa! Sehabis korupsi, sebagian rejekinya dipakai buat berderma. Sebagian lagi buat datang ke negeri Kabah. Semakin banyak uang korupsi, semakin banyak mereka menengok kabah. Makanya, untuk mengetahui besarnya dana yang dikorupsi, maka dapat diukur dari berapa kali dan berapa sering pergi haji dan pergi umroh bersama keluarga.

“Nyindiiiir..!”

Ini bukan soal sindir-menyindir.

“Huoy, nasib Putri Marecinta, piye..? Kok gak dibahas-bahas…?

Oh, itu nanti..maklum, biasanya tokoh utama selalu mulai panas di pertengahan cerita.

Singkat ceritera, Sang Raja memutuskan untuk tetap melakukan acara kenegaraan ke Negeri Indonesia. Namun, demi menjaga stabilitas Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya dan Pertahanan Keamanan Kerajaan, dibuatkanlan surat wasiat buat Keluarga tercinta. Sebuah surat yang diketik dalam format soft copy, dengan kode enkripsi yang teramat canggih, sehingga apabila aku jelaskan kepada kawan-kawan betapa canggihnya tingkat keamanan surat wasiat ini, Kawan-kawan bakalan tetap gak ngerti, jadi pada intinya canggih lah! Titik.

“Huuuuu…!”

Surat wasiat ini dibuat dari beberapa paragraf, yang secara bergantian ditujukan kepada Sang ratu Karima dan Putri Marecinta. Paragraf satu buat Ratu, dua buat Putri, tiga buat Ratu dan terus begitu selanjutnya. Entah mengapa Raja Mas ~kopidangdut~ melakukan ini. Ketika ditanya, apa jawabnya? “Ini semata-mata demi keadilan bersama, tidak menciptakan fitnah dan yang terutama: ngirit kapasitas bandwidht, bow!”

“Huahahaha…”

Ini isi suratnya:

SURAT WASIAT
(Teriring dengan segenap jiwa penuh cinta yang mengembara dari Zaman Purba hingga dominasi Nokia. Mohon jaga baik-baik dan amalkan makna apa yang ada di dalamnya!)

Ratu Karima,
Apa pun yang terjadi, kakandamu selalu cinta kamu. Titik. Ingat selalu itu. Cinta yang melebihi Romeo dan Juliet, Sampek dan Engtay, Lois dan Clark, apalagi Toyib dan Juleha.

Marecinta,
Ayah anggap kamu sudah dewasa, sehingga anggaplah ini adalah surat antara Lelaki dewasa dan perempuan yang akan dewasa. Lewat wasiat ini, kutuliskan sebuah kisah tentang seorang perempuan mulia. Karima namanya. Teriring rasa kagum dan hormat padanya. Bukan berarti kamu harus seperti Dia. Bukan. Sama sekali tidak.

Karima, Cintaku.
Kutuliskan penggalan perasaan ini di saat tubuhmu berbalut gaun keletihan hidup. Mengurusi Kerajaan Cinta yang semoga selalu abadi. Berdampingan bersamaku, selama ini dengan segala warna. Bila ada sumber energi selain matahari, pada dunia Cinta ini, maka itu adalah kamu, Cintaku. Dengan gagah berani mengatasi segala keadaan sulit dengan penuh luapan cinta. Pemberontakan dari pasukan keputusasaan, gerombolan gundah-gulana, dan dari berbagai percobaan kudeta rasa cemburu.

Marecintaku.
Kemarilah sini, Sayang. Peluk aku dalam keremangan senja. Minum teh bersama. Makan kue serabi di beranda. Bawa serta boneka kesukaanmu. Bukan kita yang mencoba untuk menghadirkan kenangan-kenangan masa lalu, namun memang hidup kita sepertinya menjemput kita untuk selalu menghadirkan cinta. Lihatlah, di kebun belakang ini, dahulu, kamu mencoba untuk belajar berjalan. Tertatih-tatih memang, di awalnya. Namun lihatlah sekarang, berlari ke mana pun, Kau pasti sanggup. Asalkan jangan berlari dari kenyataan hidup. Marilah kita selalu berembug bersama. Mencari apa sebenarnya sebuah arti keluarga.

Karima sayangku.
Merapatlah kesini. Biarkan aku melihat kembali kerling matamu yang indah itu. Ah, masih dengan sorot mata yang sama. Masih dengan kuluman senyum yang mempesona. Apakah Tuhan begitu sayangnya padaku, hingga ciptakan kamu. Tatap dalam-dalam mata cintaku untukmu. Kupercayakan buah cinta kita kau didik dengan rasa welas asih, dengan kehangatan seorang Bunda.

Marecinta,
Bila tetes air mata menandakan kelemahan manusia dalam menjalani hidupnya, maka ijinkan aku meneteskan air mata saat ini. Air mata kegembiraan hidup yang meluap-luap. Bahagia menyaksikanmu beranjak dewasa. Belajarlah mengatasi kesulitan-kesulitan dengan lapang dada. Percayalah Tuhan takkan memberikan satu gayung kendala pada gelas mungil hidupmu, kecuali kamu belum paham saja, betapa lautan hidupmu dapat mengahadapi segala macam badai kehidupan. Belajarlah dari Bunda.

Duhai Karima,
Ingatkah kamu? Saat bahu-membahu bersamaku, dari titik kurang? Bukan dari titik nol, yang orang lain selalu katakan. Mendengar itu dariku, kaupun hanya menanggapinya dengan tertawa renyah. Ah, betapa cantiknya kamu saat-saat seperti itu.
Dan ingatkah kamu betapa kuatnya dirimu menghadapi kelemahan-kelemahan diriku? Kau sediakan waktu untuk menjadi perempuan pembasuhku. Membasuh sekujur tubuhku dari keletihan urusan dunia. Kau basuh wajah hingga telapak kakiku sembari kuberbaring pada sofa cokelat itu dengan bersandar di tungkai kakimu.
Ah, indahnya saat-saat itu.
Perempuan pembasuhku, tak terkira rasa terima kasih kuberikan padamu.

Wahai Marecinta,
Bila kelemahan diindentikkan dengan sebuah kekalahan, maka jangan takutlah pada hal ini. Lemah lembutlah kamu pada siapa pun juga. Melemahlah pada kesulitan hidup orang lain. Melemahlah ketika menyaksikan betapa Rakyat kita butuh untuk dicintai. Dari sini. Dari hati di sisi dadamu, terbukalah untuk merasakan betapa perlunya melemahkan rasa harga diri demi menjaga sumbu kebahagiaan Negeri Cinta. Cintai Rakyat Negeri Cinta seperti Kamu mencintai Tuhan.

Karimaku,
Mari kita hening sejenak. Cukuplah kita sekadar tatap-menatap. Jangan kau ijinkan satu kata pun hadir di antara kita. Kadangkala diam adalah lebih dari sejuta makna. Adanya kata terlalu menyederhanakan perasaan kita sebenarnya. Perasaan Cinta yang meluap-luap yang mengalahkan segala. Tatap hatiku lewat sorot mata ini. Teruslah tatap.
Hening.
Tatap lekat-lekat wajah cintaku padamu.
Bahkan ini bukan sekadar cinta.
Entah apa namanya.
Lebih mulia dari sekadar rasa cinta.
………………….
…..

TETOTTTTTTTT…..!

“Ayo, Bapak-bapak..waktu istirahat selesai, silahkan kembali ke kamar masing-masing. Yang belum habis makannya ayo cepat habiskan dahulu. Obatnya juga diminum..Ayo cepat!”..”Hey, siapa yang bakar ranting pohon di sini? Apa maksudnya…?”

“Ah, Pak Bungsu, kami kan sedang dengar Cerita Mas ~kopidangdut~..”
“Iya Pak Bungsu, api unggun kami jangan dimatikan ya.., Please..?”
“Buat besok lagi…”
“Pak Bungsyu mau kopi?, tapi Pak Bungsyu masyih punya rokok kan? Untuk syaya syatu ya?”

“Sudah, nanti bisa dilanjutkan..Sebentar lagi Dokter Reita dan Dokter Pusti datang!”
“Ayo, pada mandi, jangan lupa sabunan dan gosok gigi, biar cakep dan wangi…”

Demikianlah kawan-kawan, sepenggal kisah dari balik gedung megah di bilangan Grogol sana.
Bagaimana dengan anda semua?
Terima kasih. Terima kasih. Dan terima kasih.

~kopidangdut~,
Kayumanis, 28 Juni 2006.

8 pemikiran pada “:::Negeri Cinta:::

  1. Ping-balik: Saya Bambang « Kopidangdut: Antara Idea dan Realita Kehidupan …

  2. Ping-balik: Berkeluarga dan Cobaan yang Menerpa « Mas Kopdang

  3. Ping-balik: Merepih Kopidangdut « Mas Kopdang

  4. Ping-balik: Usia Bapak Usia Anak « Mas Kopdang

  5. Ping-balik: Ibun… « Mas Kopdang

  6. Ping-balik: empat « Mas Kopdang

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s