Jujur tapi Nakal?

Terinspirasi majalah GATRA minggu ini yang dalam artikelnya menulis: “Jurnal Pengisi Ruang Kosong”, saya langsung tertarik untuk mengupas tentang jurnal yang menurut saya singkatan dari jujur dan nakal.  Apakah remaja jaman sekarang (yang lahir di tahun 80-an) kenal dengan majalah/ jurnal PRISMA? Saya termasuk anak yang lahir di tahun 80-an dan saya pernah tahu sebuah media bernama PRISMA. Kok bisa? Ya, karena Paman saya yang kelahiran 60-an memiliki beberapa edisi jurnal tersebut. Apa sih Prisma itu?Kalau tidak salah ingat, bentuk Prisma tergolong mungil namun tebal. Digawangi oleh Bung Dawam Raharjo dkk. Hampir seukuran Intisari atau Reader Digest. Isinya adalah jurnal lintas disiplin, mengupas berbagai hal baik dalam kajian budaya, agama, politik dan isu-isu menarik lainnya. Kata paman saya, Prisma itu diisi oleh para jurnalis yang kritis reflektif dan mendalam. Tidak seperti saat ini yang didominasi “intelektual koran”. 

Rupanya keinginan banyak pihak (saya lebih cenderung menyebutnya “kaum tua”), ditanggapi oleh sebagian orang. Dalam obrolan santai di milis Kahmipro (dikelola para alumni HMI) kerinduan itu tersembul dan menyemangati diluncurkannya jurnal Reform Review. Diangkatlah A.E Priyono sebagai Pemred RR.

Semoga jurnal ini benar-benar menjadi media lintas disiplin, populer namun cenderung semi-akademis, isunya oke semua tanpa terjebak isu temporer sekelas koran atau majalah, namun juga jangan terlalu spesifik dan teknis, dan yang terpenting: kedalaman ide dan gagasan para jurnalisnya.

kopidangdut tetap berpesan ingin jurnal itu sesuai kodratnya: Jujur dan Nakal!

5 pemikiran pada “Jujur tapi Nakal?

  1. wah…rajin banget pagi-pagi dah nulis, gak olahraga apa?
    bagus tulisan2nya…..saya suka.

    btw, di gd mana nih? A,B,C,D atau tipikal ?
    salam kenal ya :)

  2. Prisma, pada zamannya, memang telah menjalankan tugasnya dengan baik. Mottonya: arus pemikiran masa kini.

    Dulu ketika cengekeraman rezim amat kuat, kebebasan pers hanya impian, apa yang cuma bisik-bisik dan obrolan warung kopi (dangdut) bisa muncul di Prisma sebagai telaah.

    Setelah pers lebih bebas, dan sebelum itu hnor tulisan instan di kolom koran lebih sexy, menulis untuk jurnal kayaknya kurang disukai sebagian akademisi. Bayangkan, untuk edisi dua-tiga bulan mendatang naskahnya harus rampung sekarang :D Bandingkan dengan koran, yang ordernya kadang by phone dab by email, buat edisi besok, honor segera ditransfer. :P

  3. @ evi: “Hussssh..jangan bilang-siapa2 ya..”

    @ Paman Tyo: Hahaha, akhirnya saya berhasil mengundang Paman kemari..Prisma, Top Abis Paman!

    @tikabanget: wuih!!! TIKA?
    saya punya bapak..!saya punya bapak..!! hehehe;)

  4. salam kenal om,
    kebetulan saya lagi nulis skripsi tentang prisma..agak aneh karena jurnal itu udah almarhum dan teman-teman segenerasi (yang lahir pertengahan 80-an) banyak yang ga tau, bahkan denger aja belum..Yang tau ya cuma dosen-dosen yang pas kuliahnya di tahun-tahun 80-an itu..Padahal banyak data-data/referensi kuliah yang bisa diambil dari situ (Prisma).

    Mau tau lebih jauh tentang jurnal Reform Review, boleh?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s