“Ketika jalanan kota sepi pria wanita yang bergegas,
Lampu-lampu taman berdansa liar dalam keremangan..”
Malam yang berembun.
Tilpun berdering. Nama “Fayna” tertera pada layar, di seberang sana menungguku untuk menjawab.
“Hallo..”,Ku jawab.
“Belum tidur?”
“Hmm..belum. Ingat kamu”.
Fayna terdiam. Mungkin jenuh akan jawabanku.
“Aku gak bisa tidur..ngobrol, yuk!”. Dia merajuk.
Arghh..kutau pasti dia, Fayna, sedang bermasalah.
“Kopdang, apakah tulus itu? Terbuat dari apakah sebuah tulus itu?” Mulai lagi.
Pertanyaan macam apalagi ini? Jakarta, please, jangan pernah merayuku! Malam berembun dan seorang wanita menilpunku. Kutengok istriku di sebelah. Tertidur pulas.
“Ada apa Fayna?”
“Jawab saja pertanyaanku!”
Aku berpikir. Aku belum tidur. Membaca Koran pagi yang luput terbaca dan mendengar Diana Krall mengalun merdu dan tiba-tiba muncul pertanyaan yang sungguh tak kuduga. “Tulus?”…Arghh.. Aku sulit berpikir serius saat ini.
Kujawab:
“Tulus adalah saat tak ada yang tersakiti”;
Dia terdiam. Lama terdiam. Isak tangis terdengar dan mengeras..
Ah, malam berembun, kuterima tangis seorang wanita. Mestinya aku yang bertanya terbuat dari apakah wanita ini? Tangis malam yang sungguh membingungkan. Aku luluh. Siapakah yang tak luluh pada wanita yang menangis? dan hanya aku sendiri yang mendengarkannya.
“Kenapa Fayna?” Aku makin penasaran. Kutengok lagi istriku. Masih tertidur pulas.
“Dia mencampakkanku! Huaaaaa..”
“Campak? Sakit?”
“Jangan konyol, Kopdang!” Dia menghardik.
“Aku kembali dicampakkan. Sakit…sakittt!”
Ah, wanita. Bukan kamu saja yang sakit. Siapapun sakit bila seperti itu.
“Aku tulus..”, Dia melanjutkan.
Apakah ketulusan wajib dibalas dengan ketulusan. Bukankah malah tidak tulus apabila ketulusan mengharapkan ketulusan kembali. Tulus adalah bayar tunai tanpa pernah minta kembali.
“Kopdang,..kamu masih mendengarkan?”
Aku malah tidak yakin pada ketulusannya.
“Kopdang..Haloo..kamu masih di situ?”
“Iya..aku di sini, mendengarkanmu. Fayna, yakin kamu tulus?”
“Huaaa…!” Nah, lho? Dia semakin semangat memamerkan kesedihannya. Aku semakin bingung. Kutengok istriku. Digaruknya pipinya sendiri disertai pukulan kecil. Pasti gara-gara nyamuk lagi. Musim Panas yang masih sering turun hujan memang kesukaan segerombolan pasukan nyamuk dari belakang rumah.
“Fayna, sekarang aku tanya. Apakah semerbak parfum Chanel-mu di pagi buta adalah perwujudan tulusmu? Apakah belaian lembut jemarimu saat memukulku adalah ketulusanmu. Apakah telponmu lima menit lalu hingga saat ini adalah ketulusan? Tolong jawab!”
“Iya. Ya, iyalah..!” Ada nada ragu yang merebak.
“Sungguh?”
“Hey, kamu menuduhku tidak tulus?” Aku mendengarkannya. Diam.
“Kopdang sayang, Chanel-ku adalah pemberian kekasihku. Kupakai untuknya. Lembut? Kurang keras apalagi bila aku memukulmu karena ocehanmu yang merendahkanku. Lima menit yang lalu aku telpon kamu, karena aku butuh kamu. Aku butuh kamu yang mau mendengar.”
“Bagaimana kalau istriku pun mendengarnya?”
“Emang kenapa?.. It’s fine!”
“Oh ya..? Bunda, Tante Fay…”. Sedikit kukencangkan suaraku.
“KOPDANG..jangan main-main!” Aku paham. Perbincangan dua orang, lelaki dan wanita di waktu malam, selalu saja patut diduga tentang asmara. Aku beristri dan dia hampir bersuami. Dia menghormati istriku, walau aku ragu dia menghormatiku.
“Kopdang, si bangsat itu meninggalkanku begitu saja. Pesan terakhir disampaikannya lewat Reita. Kamu ingat kan Reita?”
Reita, Donna, Agnes, Prita, Maya, Mela. Sekumpulan wanita yang tak mungkin aku lupa. Reita, Bvlgary. Donna, Givenchy. Agnes, DKNY. Prita, BOSS. Maya, Body Shop, Mela, Kenzo. Mereka wangi, dari jarak limabelas meter di depanku. Mana mungkin aku lupa!
“Ingat.”
“Si bangsat itu menyelipkan surat pada dia! Untukku!”
“Si bangsat? Ke mana si tampanmu? Kau sembunyikan di mana Pangeranmu? Si Bangsat? Julukan baru untuknya?” Ah, wanita..betapa cekatannya menyebut lelaki sesuai suasana hati.
“Hik..hik..”
Mulai lagi, deh.
“Tau gak sih, Kop…bahkan untuk menelponku pun Dia enggan.”
“Tapi kalau berpapasan dengan kamu, Dia masih nyapa, kan?”
“Iya..tapi..”
“Kalau bertemu teman-teman kamu, dia masih genit-genit lincah kan? Masih mau ngajak makan bareng kan? Udah lah..gak usah pusing!” Dia mulai mereda.
Kubayangkan wajahnya di balik sana. Tangan kanan menggenggam telpon. Jemari tangan kiri menyeka rambut. Dan bibir mungil yang merekah. Terdiam. Berpikir. Kotak tissu sejauh jangkauan tangan kirinya. Apakah dia memakai daster? Atau malah tidak? Arghh…! Kembali kulihat wajah istriku. Tidak bisa. Dia membelakangiku sekarang.
“Biasanya dia mengajakku berjalan-jalan seusai kerja di saat senja. Biasanya dia memborbardirku dengan pesan-pesan anehnya.”
“Dan Kamu suka?”
“Hmm..”
“Kamu merasa kehilangan?”
“Hmm..”
“Udah lah..sekarang kamu tidur. Don’t let anyone to tease You, because that’s My Job!”
“Hahaha…”.
Entah apa yang ditertawakannya. Ini serius. —–—–
waaaaaaaaksss …. bagus. aku menjura deh pada sampean.
Ping-balik: cara kopidangdut menikmati hidup Obrolan Malam : Cermin 2 «
kok bisa tau banget sich tentang wanita yang lagi patah hati….
@ ndorokakung: wah, senangnya dipuji maestro..! sering mampir ya ndoro..monggo pinarak
@ widia: Masa sih? coba deh baca “obrolan malam cermin 2?” kayak gitu gak? beda kan?
Ping-balik: Ku Lupa Wajahnya, Namun Yang Ku Ingat Wangi Tubuhnya « Mas Kopdang: the MARKET MAVEN
Wiks…. gak kusangka ini tulisan sampeyan….
….
bagus, ringan dan ngalir kayak air. Kapan nih bisa berbagi ilmunya….
Salut buat Mas Kopdang
Mas Kopdang: Terima kasih, mBak Dayu..
selingkuh memang indah.. butuh seni dan ilmu tingkat tinggi …
tapi saya belum bisa beralih dari sekedar Roll On deodorant…
weee markotop tenan….juragan curhat rupane
ini cerita perselingkuhan apa promo parfum?? whehehehehe
“Udah lah..sekarang kamu tidur. Don’t let anyone to tease You, because that’s My Job!”
“Hahaha…”.
salam kenal
Reita, Bvlgary. Donna, Givenchy. Agnes, DKNY. Prita, BOSS. Maya, Body Shop, Mela, Kenzo.
Naah kalo sarah itu kalo siang pake bulgary atau J.lo truss ntar kalo malem sih enakan pake Angel.. hi hii
serasa baca femina online
bagus mas, kirim-kirim ke majalah.
mmm… bagus sekali neee.!!!!
mas kopdang ini pandai berempati…. atau mungkin sangat berpengalaman dengan wanita… hehehehe…
Wah, menghanyutkan ini.
pengalaman pribadi brur?
tulisan yang sangat enak dibaca… dan perlu.. *halah-koyoiklan*
Ping-balik: Merepih Kopidangdut « Mas Kopdang
cerita yang indah. dikumpulkan dan dinovelkan saja. atau, dibikin jadi sinetron? hehe..
semoga banyak merenung dari obrolan malam ya
Cewek patah hati memang hanya ingin didengarkan…..
saya seneng bagian yang “tulus,..”
keliatannya kok menyenyuh banget,..
seru… seru..
wah klo laki gw tengah malam telponan ama wanita, gw potong-2 dah…
Bah… Ternyata cuman cerpen ya?
Udah sampe emosi awak bacanya. Kupikir Mas Kopdang ini emang “ada main”.
Hahaha…