Tumbal Tambal Tumpeng

Para Sahabat-ku,

Tahukah Anda dengan agama Kapitayan, agama tauhid pra-Hindu?

Inilah agama yang oleh Syeh Siti Jenar diakui keberadaannya dan perlu kearifan budaya lokal untuk menyikapinya. Bagi dia, untuk menyebarkan Islam, di Pulau Jawa yang sebagian besar penduduknya telah lama memeluk Hindu, maka perlu modifikasi dalam tata cara berdakwahnya. Butuh sistem manajemen terencana dengan mengenali karakter dan budaya yang melekat.

Menurutnya, kalau untuk menyembah Tuhan, bagi dia tak usah pakai istilah salat. Sebab, agama Kapitayan sudah pakai istilah sembah Hyang. Kata itu lalu dipakai. Hyang itu dalam bahasa Kawi artinya dewa.

Lho, kok tiba-tiba saya memunculkan topik ini. Ada apa? Tak ada apa-apa. Jalan pikiran saya seperti ini: Saya sedang dalam puncak rasa patriotis yang membara karena 17an. Sehingga saya senang membaca artikel semingguan ini yang berkaitan dengan ”kemerdekaan”. Salah satunya mengenai ”budaya” sebagai sara memerdekakan atau justru memenjarakan jiwa merdeka anak bangsa. Juga tentang ”Selametan”, Tirakatan yang membuat saya tersesat kepada web yang membahas mengenai Syeh Siti Jenar.

Masalah apakah 17an berkaitan dengan Syeh Siti Jenar saya malah bingung sendiri, namun ada sebuah nukilan wawancara yang menarik minat saya. Inilah secuplik artikel itu:

Bagaimana memodifikasi Hyang sebagai dewa jadi Hyang sebagai Allah?

Begini! Ajaran Kapitayan itu memuja dewa utama bernama Sang Hyang Toyo. Dalam bahasa Jawi, Toyo itu berarti kosong, hampa, suwung. Dia tan kena kinaya; tak bisa diapa-apakan. Dinalar nggak bisa, dilihat nggak bisa, didefenisikan juga nggak bisa. Itu sama dengan ungkapan laitsa kamitslihi syai’un. Nah, kalau begitu, bagaimana orang bisa tahu Sang Hyang Toyo kalau Dia tidak bisa didefenisikan? Dalam Kapitayan disebutkan, Dia muncul dalam bentuk pribadi yang disebut tu atau to.

Artinya kekuatan yang punya daya sakti. Daya sakti dari kekuatan Hyang Toyo inilah yang sudah dikenal sifatnya. Ada dua sifat, yaitu baik dan buruk. Sifat baik disebut tu, lalu menjadi Tuhan; sementara yang jelek disebut hantu. Karena itu, dalam asumsinya orang-orang, hantu mesti jelek, dan Tuhan mesti baik. Itu dari Kapitayan dan bahasa Kawi.

Tapi orang juga mikir, di mana tempatnya Sang Hyang, yaitu hantu dan tuhan ini? Wong dia juga masih abstrak dan hanya ada sifatnya! Lalu diyakini, tu bisa muncul pada sesuatu. Sesuatu yang disebut tu: watu, tugu, tuban (air terjun), tuk (mata air), tunggul, tunggak, tumbak, tulang. Semua ada di situ dalam bentuk kekuatannya.

Bagaimana membedakannya dengan paham animisme, misalnya?

Beda. Ini sesuatu yang dianggap ada rohnya. Kalau animisme dan dinamisme, semuanya benda saja. Ini tidak begitu; dia hanya berwujud kekuatan gaib. Ini juga ada ujungnya, yaitu Tuhan yang tidak bisa didefenisikan itu. Toyo tadi.

Kaum animis pun menganggap barang-barang sembahan itu hanya medium penyembahan saja?!

Tapi dalam animisme dan dinamisme, tidak ada konsep satu Tuhan yang abstrak. Sang Pencipta macam-macam, itu tidak ada. Dari situlah orang melakukan sesaji dengan tumpeng, tukung, tumbu, dan seterusnya. Bahkan untuk upacara tertentu yang bersifat rahasia untuk mewujudkan keinginan yang besar, biasanya ada sesembahan khusus yang bernama tumbal.

Nah, saya terantuk pada kata ”tumbal” di kalimat terakhir. Jaman dahulu, semasa kecil saya di pinggiran Kabupaten Cirebon yang dilakukan adalah permainan alam. Pengalaman eksistensial seperti: petak umpet, bermain gundu (pelincian dalam bahasa daerah saya),  ketapel, berenang di blumbang (danau atau sejenis kolam kecil tetapi dalam dan berada di halaman belakang rumah), berenang di sungai maupun saluran irigasi.

Namun dari sekian banyak permainan, yang paling mengasyikkan adalah berenang di kedung yakni bagian dari bagian sungai yang sempit namun dalam. Arusnya tenang di permukaan namun deras di dasar sungai.

Anak-anak desa, teman sepermainan saya, selalu percaya bahwa kedung ini ada pusaran air nya, yang dapat membuat anak kecil kentir alias hanyut. Juga tentang siluman buaya putih. Namun yang paling membuat saya merinding waku itu adalah bahwa jembatan yang membelah kedung ini, dibangun dengan ”tumbal” seekor kepala kerbau dan ternyata masih kurang, sehingga terkadang meminta ”tumbal” nyawa anak kecil yang bermain-main di kedung ini.

Wow! Betapa galaunya hati seorang anak kecil semacam saya waktu itu. Padahal, sebelum mendengar cerita ini, hampir setiap pulang sekolah saya akan mampir dan bertelanjang ria berenang-renang di sekitar kedung itu.

Cara Orang Tua

Entahlah apakah hikayat, cerita, dimi, gosip, merupakan sebuah cara orang tua kita dalam  mengendalikan ”kenakalan” dan ”susah diatur”-nya kita sebagai anak-anaknya. Namun cerita semacam ini berdampak positif sekaligus negatif. Positif untuk bersikap hati-hati dan menghormati alam namun negatif dengan menciutkan nyali dan jiwa petualangan anak bangsa.

Namun bila anak generasi ipod, pleistesen diceritakan hal-hal seperti yang diceritakan kepada saya dahulu, maka jawabannya jelas:

”Ah, nggak ngaruh lagheee, Om..Emangnya gw pikirin..?!”  

About these ads

One thought on “Tumbal Tambal Tumpeng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s