Bicara akhir berarti bicara finish. Bicara penentuan, bicara sesuatu yang tak dapat diubah lagi, karena satu dimensi telah hilang yaitu dimensi “kesempatan”.
Pada kata “akhir”, berarti adalah ujung, yang tak bercelah dan tak dapat diterobos untuk menjadi “tak akhir”.
Akhir, terkait dengan suatu ukuran pada suatu dimensi, bisa jarak, bisa waktu.
Biasanya pada suatu waktu yang “hampir” akhir, evaluasi dan refleksi akan berjalan dengan sendirinya. Pada dasarnya, fitrahnya permenungan dalam “saat akhir” akan dilakukan oleh setiap manusia. Refleksi ini biasanya disebut: Penyesalan, kegagalan, keberhasilan, kesuksesan. Juga bisa kesombongan, penyangkalan, alasan dan kesementaraan.
Untungnya, manusia pandai menghibur diri. Tahu dan paham bahwa waktu tak bisa terulang, maka manusia memodifikasi sedemikian rupa sehingga seakan-akan waktu adalah sirkuler bukan linier.
Dibuatlah hari yang berganti namun berulang. Senin, Selasa, Rabu dan senin kembali. Bulan yang berulang, seperti Januari, Februari, Maret, dan pada akhirnya terdapat januari lagi di tahun berikutnya. Hanya tahun saja yang tak bisa dibohongi.
Namun celakanya, dalam tahun pun dimodifikasi sedemikian rupa menjadi tahun dengan shio tertentu dan dapat berulang, atau dalam dekade tertentu yang spirit dan semangatnya dapat diulang: (contoh: tahun 20-an dengan vintage dan bohemian style, tahun 2000-an awal pun trend mode dan gaya kembali diulang.)
Sudah jelas waktu tak bisa terulang, dan wajah keriput tak dapat dikembalikan menjadi kencang, maka diciptakanlah berbagai gagasan “semu” yang sejatinya justru menjauhkan diri dari kenyataan.
Penentuan tentang hari esok tentu saja adalah apa yang kita lakukan saat ini. Yang kemarin, hanya sejarah, yang dapat dipelajari namun tak dapat diperbaiki atau pun diagung-agungkan dengan perasaan sentimentil bin romantik.
Manusia yang terlalu bersandarkan pada kenangan adalah manusia yang tak mampu menghadapi masa depan dengan jantan, tegas dan terhormat.
Penghujung AKHIR tahun
Di penghujung akhir tahun, biasanya kita akan berkaca atas apa yang telah dilakukan sepanjang satu tahun terakhir. Apa pencapaian yang patut dibanggakan, dipertahankan dan bahkan diulang.
Namun juga terdapat kejadian-kejadian, situasi di mana yang tak perlu lagi diulang, diteruskan, karena memang itu adalah tidak menguntungkan, tidak membanggakan bahkan memalukan.
Pencapaian apa yang membanggakan kita? Telah melepas masa lajang dan berhasil memperistri anak pejabat? Telah membangun rumah yang layak ditempati untuk keluarga kecil nan bahagia?
Kegagalan apa yang menimpa kita? Tak juga mendapatkan pekerjaan? Gagal berumah tangga? Selalu menjadi bahan pergunjingan teman sekantor?
Selayaknya kita perhatikan dan cermati satu-persatu dengan hati-hati. Kepala harus dingin dan kuping jangan mudah panas. Kritikkan dari sahabat sudah sepatutnya kita cerna. Teguran dari pimpinan, istri, anak kita sebaiknya kita renungkan kembali.
Bukankah itu tandanya orang lain menginginkan kita menjadi lebih baik?
Mumpung akhir di sini adalah semata-mata akhir tahun dan akan segera dibuka lembaran baru, maka marilah kita semua mulai mengenai diri sendiri kembali. Apa kesejatian yang kita miliki. Watak mana yang perlu diperbaiki, kendala apa yang perlu kita tangani. Bila perlu ajaklah seluruh anggota keluarga untuk memberika penilain dan tentunya sebagai instropeksi diri.
Untung saja akhir di sini bukanlah akhir hayat. Bila itu yang terjadi, finish-lah sudah. Kita justru akan santai, menunggu keputusan apa yang akan kita dapatkan. Menunggu doa dari anak-anak kita:
“Ya, Tuhan, semoga engkau senantiasa menyayangi kedua orang tua kami, seperti mereka menyayangi kami sewaktu kecil…”
Bicara akhir? Itu saja…


Desember 27, 2007

Author Info
Akhir karena kita makhluk. Mutakhir karena kita bukan khalik. Maka sudah sepatutnya kita bermenung diri. Konsep waktu memberikan penanda-penanda pada kita mengenai perjalanan yg telah dilakukan. Semoga kita terus menjadi lebih baik lagi. Amin.