Ditulis dalam Februari 2008

Temasek Kopidangdut

  Ada yang tau Temasek?   Asal katanya sih diambil dari “Negeri Tumasik”. Perusahaan milik negara Singgapur yang menjadi pemilik ultimate Telkomsel maupun Indosat. Juga yang dulu membeli saham mayoritas SinCorp-nya Thailand, yang membikin PM Thaksin mundur karena dituduh menjual perusahaan yang dapat membahayakan kepentingan Thailand terkait kerahasiaan negara?  Kalau belum tau juga ya ndak papa..toh … Continue reading »

Gosip Lurah Kopidangdut

  Kalau mau ikut-ikutan mencalonkan, jadi Lurah dulu… Bung berkumis, Juru Bibir Mas Bambang bilang begitu sebagai reaksi sikap penolakan sebagian anggota dewan yang terhormat atas usulan 2 calon Ketua Koperasi di desa saya. Ini saya kutip dan sedikit saya gubah dari harian Bisnis Indonesia hari ini.  Waw? Luar biasa!

Menunggu Marah Kopidangdut

  Hayooo, hebat mana antara marah dan menunggu? Marah tentu saja berbeda dengan menunggu. Marah itu berarti ada ketidakpuasan namun tersalurkan. Bila ketidakpuasan atau kebelumpuasan tidak tersalurkan maka menjelma menjadi nafsu. Menjadi dendam. Menjadi api dalam sekam.  Kalau menunggu? Kok dibahas menunggu? Memang berhubungan? 

Wasiat Kopidangdut

  Ketika blog “dipaksa” untuk menjadi “niche”, maka itu adalah sebuah pengaruh kuat ilmu marketing yang dijalankan dan diperagakan sebagai upaya menarik pengunjung “tetap” dan “loyal”. Itu Sah. Kata penghulu pun itu sah, termasuk saksi dan wali nikah. Salah satu alasannya, menurut Ndoro adalah menghemat energi, ada “pelanggan” dan memiliki kekahasan tersendiri.

Paling Cuma Bikin Bayi Mencret

  Itulah yang dikatakan Kepala BPOM dan Menteri Kesehatan terkesan tak ambil pusing terkait dugaan adanya kebocoran standar higienitas pembuatan susu formula untuk bayi sehingga dianggap beracun (harian KONTAN-25 Februari 2008).   Ah, dua ibu ini mungkin telah berubah menjadi nenek-nenek, sehingga lupa bagaimana repotnya memberi ASI, atau bagi ibu yang kurang beruntung, menggantikannya dengan … Continue reading »

l’ami de notre ami est notre ami

  Entah benar atau salah, saya menuliskannya demikian. intinya adalah: “Sahabat dari sahabat kita adalah sahabat kita”.   Ini adalah ungkapan Orang Prancis dalam menjalankan ideologi pergaulannya.

“Tak ke-i BeHa lo kowe’!”

   Dengan mata mencelang dan goyangan mengeletar. Ya, waktu itu Tuhan menakdirkan saya berteman dengan orang nekat yang berani membakar wajah Bu Mega. Walau dalam bentuk poster dan patung jadi-jadian.  Anak bonbin sastra atau anak filsafat, saya ndak terlalu jelas. Namun yang pasti akhirnya dirinya ditahan pulisi juga.   Beha? Beha yang buat ituh?