Entah benar atau salah, saya menuliskannya demikian. intinya adalah:
“Sahabat dari sahabat kita adalah sahabat kita”.
Ini adalah ungkapan Orang Prancis dalam menjalankan ideologi pergaulannya.
Hal ini tidak berbeda jauh dengan pakem pergaulan milik politikus. Dalam ilmu politik, terdapat sebuah ungkapan:
”Musuh dari musuh kita adalah sahabat kita”.
Maka apa yang dikenal adanya ”public enemy”, adalah demikian.
Sebenarnya tidak jauh beda antara dua mahzab pergaulan tersebut. Hanya saja, yang satu berlandaskan persahabatan menuju persahabatan, sedangkan yang satu lagi memakai alas permusuhan untuk mencapai sebuah hubungan persahabatan.
Dalam hidup berkelindan dengan keringat gosip dan telikungan pulitik skala kuman hingga paus, sepertinya-mau-tidak mau- kita akan berhadapan dengan sahabat yang ternyata musuh atau musuh yang ternyata menghormati kita layaknya sahabat. Keluarga yang sebenarnya saling bermusuhan atau justru bertetangga jauh namun salaing membantu layaknya saudara dalam satu keluarga.
Selama kita memiliki keyakinan dan prinsip serta nilai-nilai yang dipegang secara konsisten, kita akan selalu dihormati kawan maupun lawan..
Namun bila yang kita lakukan adalah mencla-mencle, plin-plan, maka ini hanyalah sebuah ”perbuatan yang membingungkan lawan maupun lawan..”
Eyang Soeharto, bagaimanapun juga memiliki visi yang jelas, kuat dan (celakanya) sulit dibantahkan walau dengan segala kekurangan.
Bu Mega masih memiliki kesan keberpihakkan pada rakyat kecil (walaupun sering terlihat murung dan menangis). Sedangkan sekarang, entahlah..jauh lebih dari sekadar kebingungan dan keragu-raguan…
Dahulu, Gus Dur dalam bersikap sering berubah selayaknya merubah tempe menjadi dele, dele menjadi tahu, dan tahu menjadi susu.
Tapi jelas, semuanya menunggu bisikan langit dari seberang ”Langitan” sana..
Namun sekarang, entahlah siapakah yang ditunggu..? Jangan-jangan sekadar Godot belaka..!
Ya..Mas Bambang yang selalu menunggu Godot.
tulisan terkait:

tapi istilah “teman politik” kok nggak pernah disebut yak. kalo “lawan politik” atau “musuh politik” sering..
Oh..ada Mpok..lha, liat aja di Pakistan sana.. hanya partai Musharaf saja yang bukan “sekutu bersama” diantara partai politik lainnya..
ya memang ujung-ujungnya persekutuan politik adalah sekadar menciptakan “musuh politik bersama”..
Mas, sampeyan ini jam kerja kok sempet-sempetnya nge-blog seh ? inget donk pesan sesepuh (mudah-mudahan lagi baca e-mail kantor). btw seneng membaca tulisan sampeyan…
Lha, sampeyan sempet-sempetnya baca tulisan saya?? malah kasih komentar lagi..
btw, terimakasih atas kesenangan yang sampeyan nikmati..
jadi public enemy nya sekarang siapa Mas?
Tapi kayaknya cuma GD yg berani lawan marinir dan sodara2nya …
@ chic:
Mas bambang!
@ A
Bukannya GD justru yang bikin Panglima TNI dari AL (Widodo AS)..
Jan Indonesia bukan sebagai negeri agraris tapi juga Maritim…