Merepih Kopidangdut

Senja menjelang. Aku masih saja di kotak pengail rejeki di sudut kota. Merindumu. 

…Merepih alam/di malam berselebungkan kabut kelam/Wajahmu meredup…. 

Suara Chrisye menentramkanku. Lengkingan suara yang khas. Sama seperti kamu, lengkinganmu menentramkanku. Malam-malam panjang…Ah, jadi ingat ketika itu. 

Senja yang menjelma malam… tempat para pecinta bersemayam dalam angan-angan. 

Dari jendela kulihat mobil berhimpitan. Pulang pada ketentraman. Monas masih saja angkuh berdiri, meniadakan kesusahan siapapun yang memandang. Lampu kota bercahaya. Entah hal magis apa yang kau tawarkan wahai cahaya kota hingga ku tak pernah bosan melamun pada binarmu. 

..wajahmu meredup/tercermin haus cahaya/meremang gulana.menatap reruntuhan dalam duka… 

Chrisye masih susah payah berdendang. Volume kukecilkan. Kulanjutkan memandang kotaku. 

“KRINGGGG”. Telpon meja menyalak.

Ini pasti kamu.

“Yah,..masih di kantor?” Suara itu. Tiga tahun bersamamu dalam jiwaraga yang satu, masih dengan warna yang sama, jelita suara yang tak tertahankan.  

“Iya,…kenapa?” 

“Kangen..” 

Duh, kangen. Apa sih kangen itu? Terbuat dari apakah kangen itu sehingga darah yang mengalir masuk pada entah organ apa di dalam dada yang selalu menentramkan? Manusia manakah yang tak pernah merasakan kangen?  

Butuh kamu saat ini juga. Kehadiran yang didamba. Tak perlu bicara. Kita saling pandang saja. Toh, dalam diam ada sejuta makna. Bukan begitu? 

Itu katamu, tujuh tahun yang lalu. Saat kita tak tahu kemana kita kan berlabuh. Pada bintang? Pada kemesraan? Atau pada suatu akhir yang menyakitkan…  

…Kunanti fajar berkawan angin malam/Merindukan belaianmu/ Oh asmara../Oh asmara….. 

“Yah..kok diem? Ciprut nungguin tuh..Ayah mana? katanya..” 

Ciprut? Bayi montok, sebloh, mulai pecicilan yang tak pernah luput dalam ingatan. Perasaan yang tenggelam dalam rasa sayang. Ciprut yang wajahnya mengingatkanku pada perempuan indah berwajah sendu. 

“Ya, Bun…bentar lagi pulang…, masih memandang senja…”  Aku terdiam. Kamu pun terdiam. Sesuatu yang asing namun masih nikmat dirasa. 

“Yah..ingat Ibun ya?”  Sebuah tanya yang tak perlu terjawab. Aku terdiam. Ingat siapa lagi? Hanya kamu yang sepatutnya kuingat. Waktu yang meremang tak meluruhkan hati ini. Senja yang indah bagi pecinta. 

“Dang…apa cita-citamu?” Kamu dulu pernah bertanya. Pada suatu waktu di sudut ruang. 

“Suami siaga…” 

“HAHAHAHAHA..Gombal..!!!” 

Ya, kamu bilang itu, namun dengan wajah ceria yang binarnya tak pernah kulupa. Kerling mata yang haus asmara. 

….benamkan diriku dalam dekapan/ yang hangat..penyegar citarasaku/……… pintumu/kan kujelang kau pelita hidupku… 

Bunda. Aku masih saja merindukanmu. Entah mengapa.

~podjok Monas, 3 April ’08~

****

tulisan terkait:

+ negeri cinta

+ obrolan malam

12 pemikiran pada “Merepih Kopidangdut

  1. @ mbilung
    kekekekek…
    pulo dewata rupanya tak semata-mata negeri senja..
    namun juga negeri “nun jauh” dari keluarga.. ;)

    @chic
    …mattta tihhhh… :lol:

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s