Nalar Kopidangdut

“JIKA tangan punya keringat untuk menguap karena kerja, benak punya gumpalan untuk melatu menyebarkan ilham, untuk menyadari motif-motif manusia…” (nukilan makalah Nirwan Ahmad Arsuka:” Kehidupan Kedua, Tentang Nalar dan Horizonnya”)

Seberapa jauh kata dapat merangkup raga dan jiwa? Menghanyutkannya, menggerakannya? Bagi seorang Ali Syariati, pertanyaan ini agaknya akan begitu mudah dijawabnya. Lewat kata-kata, tulisannya adalah untuk menggerakkan. Bernas pada kata, terang makna pada kalimat, hanyalah salah satu jalan dalam menempuh sebuah ritual mulia: bergerak dan bekerja.

Kata yang tak terpasung sebatas pemanis logika, namun sumber energi lahiriah yang selalu dapat menerjang ruang dan waktu…

Lalu apa fungsi tajuk rencana? Apa kegunaan dari Catatan Pinggir seorang pengembang ilham sejati? Di manakah nilai sastra dan di manakah fungsi realita dari tulisan ini sendiri…???

Wahai pecinta kata-kata,

Pernahkah membaca tulisan Soekarno? Apa yang kau rasakan?…

Ya, terdapat suatu energi yang terpusat pada hati, untuk berbuat sesuatu sesuai nurani, pelan tapi pasti, inilah yang disebut inspirasi..

Lalu di manakah pikiran kau ketika Pram berdendang ria, bercerita mengenai kegemarannya bertutur kata? Ya..engkau pun terbawa suasana untuk selalu kembali memaknai dan merasakan sesungguhnya arti sebuah kata ‘merdeka’…

Bermain kata-kata tidak saja bermain persepsi, memindahkan logika seorang penulis kepada seorang pembacanya, namun lebih dari itu kata-kata adalah sebuah olahraga logika, pengepul keberanian untuk mengadakan yang belum ada, mencermati sesuatu yang tidak pasti, dan mencari kebenaran hakiki…

Bukankah pencerahan dalam arti sesungguhnya adalah ‘sekadar’ suatu semangat dan keberanian untuk ‘bermain-main’ dengan logika..? Ketika sejarahnya kebenaran hanya milik gereja belaka, lalu seorang pengusung logika dari ujung barat eropa tegak berdiri, meneriakkan kebebasan dalam bertutur kata, berolah logika dan bertuliskan apa adanya..

Averoeisme pun lahir, Sang Ibnu Rushd, menetaskan logika dari cangkang gereja…lalu bermunculan begitu banyak pemikiran dan tentunya gagasan-gagasan baru lahir, sejalan, maupun tidak sejalan dengannya…

Namun sepertinya orang Eropa memang berbeda dengan kita, mereka tahu apa yang sesungguhnya ‘ada’, apa yang seharusnya ’ada’…

Averoes hanyalah pengantar bagi mereka, namun sesungguhnya adalah filsafat Yunani yang telah terbuka..Daripada membaca sekundaria, apa salahnya mempertajam langsung lewat tokoh penulisnya..Aristotles dilahap habis, beranak pinak menghasilkan Imanuel Kant bin Ibnu rushd, dan di Asia, Mulla Sadra bin Ibnu Rushd…”Bin” dalam artian ideologis.

Lalu dimanakah kita berada?

Ketika kata, makna, logika merasuk dalam otak? Apakah masuk, terngiang dan mendekam lama di sana tanpa ada ejawantah dalam realita?

Untuk berkata ‘tidak’ harus beribu waktu mempertimbangkannya, untuk berkata ‘bukan’ butuh seribu berani dalam hati, apalagi untuk mendengar ‘tidak’, ‘bukan’,’ah masa’ dan seluruh kosa kata yang laksana jarum menusuk hati…

Bukankah Tuhan menciptakan malaikat, untuk mendendangkan kata ‘ya’ ?

Bukankah Tuhan menciptakan setan untuk mendengar teriakan ‘tidak’?

Dan bukankah Tuhan ciptakan manusia untuk mendengarkan : “Mau iya kek.., mau nggak kek.., suka-suka gw donk…!!!”.

;)

*Selamat makan siang*

5 pemikiran pada “Nalar Kopidangdut

  1. @ juna…
    waksss…Bung Sinyo Janu, apa kabar?
    terima kasih atas doa jenengan, Nyo..

    Salam juga buat Dian Zakira. Semoga [..kota..] Malang membawa nikmat!
    *Semuanya nikmat pada waktunya..*
    :lol:

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s