Demokrasi Kopidangdut

dari warna-warni dot net

 

Demokrasi itu “menopause masyarakat barat”. Sebuah idea yang ditawarkan selepas revolusi. Sebuah istilah yang dinasbihkan Baudrillard.

 

Lalu apakah kita mau menjalankan masa-masa menopause itu? Gairah yang hilang dimakan usia?

 

Dalam tahap penyesuaian kita melangsungkan Pilkada. Memilih pemimpin lewat kotak suara. Sunyi? Ternyata tidak! Tujuh dari sepuluh kepala manusia dewasa bersedia menjadi angka-angka. Identitas KTP yang mewujud menjadi perlambang sokongan. Bukti nyata sudah ada dari tanah sunda.

 

Lantas apakah serta-merta kita akan sejahtera?

 

Modal awal segera diusahakan masuk saku celana, kemeja dan (bila perlu) tutup kepala. Terima dari sana dan sini. Jual itu dan ini. Kerja sama dengan si Pulan dan Si Badu. Bila perlu, kerja paksa. 

 

Massa pemberi suara, dibayar cukup suara juga. Suara janji kosong melompong. Suara harapan segera sejahtera.

Ndak papa, harapan adalah sekelumit hasrat surga. Lebih baik. Lebih enak. Ndak susah lagi.  

 

Rupanya sejahtera dan demokrasi masih sulit bertatap muka. Narsisme dan self glory para pemenang masih menggelora. Walau kecendrungannya semakin menipis.

 

Apakah ada cara yang lebih baik daripada demokrasi ini? Yang selaras dengan iklim Nusantara. Turun dari kehendak Alam, Tuhan dan para hamba jelata.

 

Semoga.

8 pemikiran pada “Demokrasi Kopidangdut

  1. optimis itu harus jadi ruh…
    semangat gak boleh habis…
    dan mimpi tetep harus punya..
    kata menyerah harus dibuang jauh2..

  2. Kop, berapa orang yah yang peduli demokrasi di negeri ini? Yang bener-bener memilih karena yakin bahwa orang yang dipilihnya bisa membawa masyarakatnya ke tempat yang lebih baik dan tidak sekedar :
    - memilih karena perintah serangan fajar
    - memilih asal-asalan
    - memilih karena kegantengan kandidatnya.

  3. serangan fajar dulunya juga pernah merambah tempat saya tinggal… waktu itu saya terima aja duit dan sembakonya.. kalo tidak salah itu pertama kali saya ikut dalam pemilihan.

    akhirnya saya abstein (benar gak tulisannya)

  4. Jangan bilang-bilang ya suami saya sejak terdaftar jadi pemilih nggak pernaah milih katanya, mending dicoblos semua kan cuma lima tahun sekali biar puas, ikut sistem demokrasi nggak ya dia

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s