Ya, Habib…

 

SEKELUMIT SEJARAH PERANAKAN ARAB

 

dari pontianakpost dot com

 

Mungkin kita lupa [atau malah belum tahu] dengan komunitas kecil mereka.

 

Padahal, Cak Nur pernah menulis mengenai beberapa gerakan yang dimotori oleh peranakan Arab yang [masih terus] merasa turunan nabi ini. Saya ketahui dari [lagi-lagi] Prisma, terbitan tahun 1976.

 

Komunitas Peranakan Arab

 

Peranakan Arab, hampir mirip dengan peranakan Cina. Memiliki usaha, tempat pendidikan, dan [pada awalnya] tempat ibadah sendiri.

 

Terkesan ekslusif memang. Namun, dahulu, semasa KHA Dahlan mendirikan Muhammadiyah,  sebagian kecil dari komunitas Arab melakukan pembaharuan menuju inklusivitasi gerakan.  Lebih moderat. Al Irsyad contohnya.

 

Al-Irsyad didirikan oleh KH Ahmad Surkati. Gerakan ini merupakan reaksi terhadap kelompok “Ar Rabitoh al Alawiyah” yang pendukungnya sebagian besar adalah golongan sayid-sayid dalam minoritas Arab.

 

Sedangkan Al Irsyad terdiri dari kaum the underdog dalam minoritas itu. Konflik antara keduanya itulah yang mendorong pikiran-pikiran pembaharuan dari KH Ahmad Surkati. “Al Irsyad” kemudian membentuk lapisan cendekiawan untuk mengimbangi habib-habib di mesjid, yang umumnya berasal dari kalangan “Ar Rabitoh al Alawiyah” itu.

 

Maka, dari sejarah kita bisa melihat, bahwa memang habib, selalu “merasa benar dan dominan dalam “keberagamaan” bukan dalam “keberagaman”.

 

Agama dan beragam, bagi mereka layaknya langit dan bumi.

Lalu muncullah sekarang, AL HABIB MUHAMMAD RIZIEQ bin HUSSEIN SHIHAB,  habib berisik yang menjadi “bintang” saat ini. Dimatangkan dalam jaringan Jami’at Kheir, organisasi tradisional di kalangan Arab  Indonesia, yang tiada lain adalah “Ar Rabitoh al Alawiyah” itu.

Ekslusif, menang sendiri, dan [merasa] keturunan nabi.

Oleh karenanya, perbincangan yang ada di sini, di sana, dan di situ akan lebih klop bila kita telah mengetahui sejarah asal muasal “kelompok” itu.

“Lho, koq Mas Kopdang ngerti sih..?”

“Sssst, soalnye’ kata Ibu ane’, kite’ semuanye masih turunan Arab…”

“Ah, jangan-jangan Mas Kopdang masih turunan Arab beneran ya..?! AYO NGAKU..!!”

:D

[+] Segitiga Bermuda: HABIB, si Emak, dan SBY dalam alfabet

gambar diambil dari pontianakpost.com

About these ads

26 pemikiran pada “Ya, Habib…

  1. gak perduli habib … gak perduli peranakan Arab yang [masih terus] merasa turunan nabi …saya GAK URUSAN …!!! kalo sikapnya anarki …dan sak enake udele dewe … nempeleng orang lain … ngata2in orang lain dengan sesuatu hal yang gak pantas … mending BUBARIN AJA … saya rasa kalo tuh orang emang bener turunan nabi harusnya kasih contoh yang baik, dan bisa menunjukkan / berdakwah bahwa islam adalah agama yang cinta damai dan gak anarkis … kalo tuh orang bener keturunan nabi, saya rasa nabi sebagai KAKEK BUYUT-nya gak akan sungkan-sungkan “meluruskan” “cucu cicit”-nya yang ndbleg ini.

  2. Istighfar …
    Kalau anda belum tahu apa itu Alawiyyin/keturunan Rosulullah coba anda tanyakan kepada habib di lingkungan anda… ingat rosulullah menitipkan kita 3 perkara Al Quran, Hadist, dan Keturunan Beliau. Kalaupun ada salah satu keturunan beliau ada yang tidak sesuai , itu menurut zohir mata kita, sebaiknya anda mencari tahu… Tak Kenal maka tak sayang.. cari tahulah … terutama kepada orang orang yang tahu betul keturunan Rosulullah secara BENAR… Baik itu keepada ustadz ataupun Habib itu sendiri.. KETURUNAN ARAB BUKAN BERARTI HABIB …

  3. @ Harry
    Ya..terima kasih telah diingatkan serta informasi tambahan yang mencerahkan.
    Semoga usaha lay-out desain majalah, buku buku pelajaran, flyer, brosur dan lainlain semangkin lancaaaar..
    ;)

  4. Ping-balik: Politik Provokator Bangsa Teledor « Mas Kopdang

  5. @kopdang

    anda betul-betul gak mengerti sama yang anda tulis sendiri.
    salah besar apa yang tulis.
    referensinya salah.

    .quote.
    Ekslusif, menang sendiri, dan [merasa] keturunan nabi.
    .unquote.

    hampir sebagian besar budaya indonesia ini di pengaruhi para pendatang dari tanah arab.dan kalau anda beragama islam, itu tidak lepas dari jasa-jasa para pendahulu tersebut.
    jangan hanya mau enaknya saja beragama islam, tapi tidak mau mengakui para pendakwah agama islam dari arab dan terutama dari anak cucu sayidina husein dan hasan

    sunan ampel, sunan bonang, tuanku imam bonjol, dan banyak yang lain adalah para wali keturunan dari Sayidina Ali melalui anak beliau yaitu Sayidina Husein.
    dan beliau adalah cucu dari Baginda Rasulullah.

    Nasab Baginda Rasulullah SAW di teruskan melalui kedua cucunya tersebut. itu adalah kehendak ALLAH SWT.

    pertanyaannya……kenapa hanya dua cucu tersebut?
    karena Sayidah Fatimah adalah anak yang paling di cintai dan beliau di nikahkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan orang yang di cintainya juga.

    Pertanyaannya kenapa sampai memiliki istri sejumlah sembilan Nabi Muhammad SAW tidak memiliki anak Laki-laki. Itu sudah Takdir ALLAH SWT.

    Sebagai gantinya, di nasabkanlah kedua cucunya langsung kepada Nabi Muhammad SAW.

    pertanyaan berikutnya….Kok Bisa?…

    apa yang bisa di lakukan oleh ALLAH SWT. kalau sudah di kehendaki, pasti terjadi.

    anda gak boleh iri.

    bacalah buku-buku yang mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW.
    Cintailah Nabi anda.

    kalau ada yang sekiranya tidak sependapat dengan saya, gak masalah…monggo…

  6. @ Joni..

    Yap..terima kasih Bung Joni.
    Komentar Anda memberikan informasi yang besoaar bagi saya dan bagi yang lain.

    “Bukankah dalam dunia persilatan, berbeda itu hal biasa..?”

    Ateng bawa Kayu,
    Tengkyu… ;)

  7. Ping-balik: BLBI Hari Ini (12 Juni 2008) « BLBI [Blogger Bank Indonesia]

  8. Maaf mas kopdang, Anda kurang ada kesopanan, apakah Anda tdk mengerti, siapa yg menyakiti yang dicintai Rosulullah, maka dia menyakiti Rosulullah, dan siapa yg menyakiti Rosulullah, maka dia menyakiti Allah.

    Mudah2an Anda mengerti maksud saya. Jika blm byk tahu jgn sembarangan ngomong, menuduh sembarangan, apalagi tentang kecintaan thd Rosulullah. Kalau Anda mengaku Islam, cintailah nabimu. Dan maaf sekali lagi belajarlah yg benar, krn byk buku yg menjerumuskan. Mudah2an sebentar lagi Anda Insyaf. Kalau Anda kurang suka org arab, bgm dgn kita yg sholat berbahasa Arab? kitab suci kita pun bahasa Arab, Nabi kita juga orang Arab. Kita diciptakan bersama seluruh dunia ini pun hanya krn kecintaan Allah thd Nur Muhammad SAW.

    Istighfarlah, peliharah hati dari iri, hasud, sombang, itu semua sifat setan. Spt saat disuruh sujud kpd mahluk manusia pertama yaitu nabi Adam, kakek moyang kita. Setan menolak krn salah satunya adalah iri, hasud dan sombong. Terimakasih mudah2an bermanfaat.

  9. “Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka.” (Umar bin Abdul Aziz)

  10. dapet duit brapa nt nulis beginian?kalo gratisan rugi nt,JIL lagi bagi2 dolar panas amerika buat penjilat macam nt,

  11. Bangsa manusia telah ditempatkan di posisi derajat tertinggi melebihi makhluk manapun di alam ini. Padahal masih ada jin, iblis, bidadari, dan bahkan malaikat. Padahal bahan penciptaan manusia cuma tanah liat dibandingkan dengan api sebagai bahan penciptaan iblis. Lalu ada malaikat dengan NUR sebagai bahan penciptaan mereka. Ketika di posisi itu adakah para makhluk merasa adanya sebuah jurang perbedaan yang benar-benar nyata di sana? Lalu Al Quran menyatakan umat Muhammad saw sebagai umat paling mulia melebihi umat manapun atau umat para Nabi lain di muka bumi. Ketika di posisi tersebut adakah umat-umat para Nabi yang lain merasa adanya sebuah jurang perbedaan yang benar-benar nyata di sana? Lalu ada fakta yang menyebutkan bahwa para Nabi-Nya hanyalah sosok-sosok yang berasal dari kawasan-kawasan di Timur Tengah. Ketika melihat kenyataan itu adakah bangsa-bangsa lain di muka bumi yang merasa “mengapa hanya arab dan israil??!!”. Lalu ada para pembesar Arab Quraisy yang Allah muliakan seperti Abdul Muthallib, Abdu Manaf, Qusay, Kilab, Murrah, atau Ma’ad yang masih berpegang teguh pada ajaran Nabi Ibrahim as. Kepada merekalah pemeliharaan Ka’bah dipercayakan secara estafet turun temurun.

  12. Bule-bule penjajah memanggil pribumi INLANDER. Udah gitu pake nyiksa dan membunuh para prianya lalu asik memperkosa gadis-gadis pribuminya. Masih blom puas mereka rampok rempah-rempah dari negeri ini. Gak banyak sih, cuma keutungannya cukup buat ngehidupin rakyat Belanda, perancis, portugis, dan spanyol selama 100 tahun. WkwkWkWkWk…. (Eh bole ditanya tuh hasil pembangunan di negeri-negeri itu semua pake duitnya siapa).
    Lain lagi orang Arab. Mereka panggil pribumi kalo gak salah AKHWAL (paman atau tante dari pihak ibu). Lucu ya! Apa emang banyak ya peranakan Arab yang ibunya itu orang pribumi, sampe manggil orang-orang pribumi AKHWAL. Yang bikin bingung kenapa ya mereka itu dulu berimigrasi ke nusantara? Bukannya saat itu nusantara lagi kismin berat n lagi dijajah secara bergantian ma bule-bule? Udah tau timur tengah ladang minyak, lah kok ditinggalin. Mubazzir boOOoooo!!!

    Masyarakat, majlis, umum, wajah, kursi, saat, zaman, dunia, derajat, martabat, selamat, wakil, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, paham, hormat, milik, salam, nur, sabar, amal, mati, jenazah, mayat, hadir. wujud, kuat, hadirin, berkat, daftar, kitab, syukur, niat, lisan, takdir, nasib, jasa, hadiah, sedekah, nikah, kawin, lahir, batin, jasmani, rohani, jasad, hakikat, hak, syarikat, resmi, sah, adil, makmur, mati, sehat, sebab, rukun, aman, atau, kalau, maklum, adat, istiadat, mahar, tabib, maaf, hasil, maksud, sihir, haid, akal, ibadah, taat, mistar, kalam, hawa, kabul, umat, akbar, misal, tamat, awal, akhir, tabiat, pikir, khayal, kisah, hukum, hakim, makna, soal, masalah, kudus, dewan, hamil, makalah, siasat….Kalo gaK salah itu adalah kalimat-kalimat bahasa arab yang udah masuk jadi bahsa indo…
    Hadoouh Pusyiing…..

  13. Apa yg diuraikan tulisan di atas, mengingatkan saya pada sejarah kaum Yahudi dengan kaum Nasrani, dimana kedua kelompok ini, saling klaim tentang keberadaan Nabi Ibrahim As. Kaum Yahudi mengklaim, bahwa Nabi Ibrahim As. itu adalah termasuk ke dalam golongan Yahudi, lalu yang kaum Nasraninya juga mengklaim bahwa Nabi Ibrahim itu adalah golongannya, kaum Nasrani.

    Dengan adanya perseteruan kedua belah pihak tersebut, maka datanglah Al Quran, lalu Allah SWT berfirman: “Ibrahim bukan Yahudi dan bukan (pula) Nasrani,………(QS. 3:67)

    Begitu juga halnya dengan masalah keberadaan ‘ahlul bait’, disatu pihak ada kaum yang mengklaim bahwa merekalah yang satu-satunya berhak ‘mewarisi’ mahkota atau tahta keturunan ‘ahlul bait’. Ee pihak kaum yang satunya juga tak mau kalah bahwa merekalah yang pihak pewaris tahta keturunan ‘ahlul bait’. Dalil kedua pihak ini, sama-sama merujuk pada peran dan keberadaan dari Bunda Fatimah, anak Saidina Muhammad SAW bin Abdullah, sebagai ‘ahlul bait’ yang sesungguhnya dan sering dianggap oleh sebagian besar umat Muslim sebagai pewaris ‘keturunan nabi atau rasul’.

    Jika kita merujuk pada Al Quran, yakni S. 11:73, 28:12 dan 33:33 maka Bunda Fatimah ini tinggal ‘satu-satu’-nya dari beberapa saudara kandungnya. Benar, jika beliau inilah, salah satu pewaris dari tahta ahlul bait. Sementara saudara kandungnya yang lainnya, tidak ada yang hidup dan berkeluarga yang berumur panjang.

    Begitu juga, terhadap saudara kandung Saidina Muhammad SAW juga berhak sebagai ‘ahlul bait’, tapi sayang saudara kandungnya juga tidak ada karena beliau adalah ‘anak tunggal’. Apalagi kedua orangtua Saidina Muhammad SAW, yang juga berhak sebagai ‘ahlul bait’, tetapi sayangnya kedua orangtuanya ini tak ada yang hidup sampai pada pengangkatan Saidina Muhammad SAW bin Abdullah sebagai nabi dan rasul Allah SWT.

    Kembali ke masalah Bunda Fatimah, karena tinggal satu-satunya sebagai pewaris tahta ‘ahlul bait’, maka timbullah masalah baru, bagaimana pula status dari anak-anak dari Bunda Fatimah yang bersuamikan Saidina Ali bin Abi Thalib, keponakan dari Saidina Muhammad SAW, apakah anak-anaknya juga berhak sebagai ‘pewaris’ tahta ahlul bait?.

    Dengan meruju pada ketiga ayat di atas, maka karena Bunda Fatimah adalah berstatus sebagai ‘anak perempuan’ dari Saidina Muhammad SAW, dan dilihat dari sistim jalur nasab dengan dalil QS. 33:4-5, maka perempuan tidak mempunyai kewenangan untuk menurunkan nasabnya. Kewenangan menurunkan nasab tetap saja pada kaum ‘laki-laki’, kecuali terhadap Nabi Isa As. yang bernasab pada bundanya, Maryam.

    Dari uraian tersebut di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa menurut konsep Al Quran, bahwa kita tidak mengenal sistim pewaris nasab dari pihak perempuan, artinya sistim nasab tetap dari jalur laki-laki. Otomatis Bunda Fatimah walaupun beliau adalah ‘ahlul bait’, tidak bisa menurunkan nasabnya pada anak-anaknya dengan Saidina Ali bin Abi Thalib. Anak-anak dari Bunda Fatimah dengan Saidina Ali, ya tetap saja bernasab pada nasab Saidina Ali saja.

    Kesimpulan akhir, bahwa tidak ada pewaris tahta atau mahkota dari AHLUL BAIT, mahkota ini hanya sampai pada Bunda Fatimah anak kandung dari Saidina Muhammad SAW. Karena itu, kepada para pihak yang memperebutkan mahkota ahlul bait ini kembali menyelesaikan perselisihan fahamnya. Inilah mukjizat dari Allah SWT kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW, sehingga tidak ada pihak hamba-Nya, manusia yang mempunyai status istimewa dihadapan Allah SWT, selain hamba pilihan-Nya, nabi, rasul dan hamba-Nya yang takwa, muttaqin.

    semoga Allah SWT mengampuni saya.

  14. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s