
Bahasa rupanya terus bersalin rupa. Penggunaan ejaan baku dan ajeg dapat disalurkan lewat tulisan rapi jali Ndoro Badudu, Paman Tyo atau Mas Momon.
Lumayan, bila berkenan anda bisa berkesempatan menengok beberapa kosakata lewat esai-esai yang dibuat mereka.
Namun, bahasa juga adalah transaksi makna. Terkadang harga yang terlalu tinggi dengan daya beli masyarakat pembaca yang belum sampai bisa menggagalkan proses jual-beli makna. Maka terkadang diperlukan juga sebuah keterangan lanjutan.
Apakah anda terbiasa mendengar kata: alegori, mafela, lesap, lumpang, lengas? Tanyakan saja artinya pada yang bersangkutan.
Itu lah bahasa. Terkadang yang terdengar asing sebenarnya adalah milik kita dan yang kita kenal baik, ternyata adalah sesuatu yang “tidak tepat dari kaca mata bahasa baku”.
Kita sudah terlalu terbiasa menggunakan bahasa pasar dan bukan bahasa ruang percobaan. Kita terbiasa mengimpor, tidak lumrah mengkaji.
Apa boleh buat. Kita hidup di tengah-tengah pasar dengan penghuni dengan berbagai bekal yang dibawa.
Dapat dibayangkan bila anda masuk pasar becek dan membawa segepok kartu kredit? Atau justru anda membeli seperangkat tata suara Bose, segenggam telepon pintar BlackBerry dan sepasang sepatu Tod’s di Senayan City dengan segepok uang lusuh dan seember uang receh hasil jerih payah anda keliling mempertunjukkan topeng monyet dua tahun tanpa jeda?
Tapi tenang saja, karena Van Oephuisen, Poerwadarminta dan J.S Badudu masih mencari penerus sekaligus pembaharu jalan yang mereka rintis. Bahasa pasar maupun bahasa kampus, semuanya layak dijadikan alat tukar makna, tergantung di mana anda sekarang berada.
Saya bukan siapa-siapa, cuma pengais kata-kata di tempat semestinya ia biasa berada.
terima kasih pakdhe, sudah mengenalkan kita pada kata-kata punya kita sendiri…
*
*saya belum sempat nyari apa artinya mafela dan alegori
harus sedia kamus terbaru dengan editan di sana sini
Saya malah suka yang begini… ‘dipaksa’ belajar hal-hal baru. Malu dong kalau dari kecil sampai mati nanti kemampuan berbahasanya nggak ada peningkatan. Lagipula, kadang kosakata bahasa Indonesia anak-anak muda (ini dari kacamata saya yang ‘baru’ berumur 22 tahun) zaman sekarang sungguh kebangetan: Masa banyak yang nggak tahu arti kata ‘nestapa’?
(ini katanya vokalis White Shoes and the Couples Company)
Sampai detik ini saya masih belum bisa berbahasa yang baik dan benar.
saya masih terus belajar berbahasa dan saya berharap blog akan sangat memperkaya bahasa kita…