Pekerjaan Pertama

Pekerjaan pertama ane  yang sifatnya bukan proyek adalah berjualan bumbu pecel dengan seorang sahabat, namanya Janu Wiyanto (sekarang ia seorang bankir di Bank Syariah Mandiri).

Modal yang kami punya adalah “dengkul”. Selebihnya ditalangi oleh seorang ventura bernama Garda Utama Siswadi, pengacara yang disegani di kota Jogja. Kantor sekaligus rumahnya sampai saat ini terletak di daerah Sapen (belakang IAIN Sunan Kalijaga).

Ingat, yang kami jual adalah bumbu pecel, bukan SGPC alias sego pecel semacam SGPC Bu Wiryo yang langsung dapat disantap itu.

Kami hanya menjual bumbu dengan dibungkus plastik bening. Konsumen harus mengencerkannya dulu untuk menyantapnya.

Tentu saja ini adalah pekerjaan yang ane pun tak yakin masa depannya. Janu bagian produksi dan ane bagian pemasaran. Modal tambahan yang ane punya adalah GL-Pro tahun 1994 yang seluruh pengeluaran termasuk beli ban dimasukkan dalam post operasional “perusahaan”.

Sebagai alat bantu kami membeli kain terpal yang dijahit seperti Pak Pos yang mengantar surat. Jadi di tempat duduk belakang ane cantolkan “pelana” yang menggantung di kanan-kirinya. Supaya kokoh (maunya), sebagai rangka kotak, ane masukkan dus mie instan.

Jadilah GL-Pro ane seperti Police Harley Davidson.

Sembari menyelesaikan skripsi (kira-kira tahun 2002), ane keliling pasar untuk menjual bumbu pecel kami. Daerah kekuasaan kami paling utara adalah Jalan Kaliurang km 12 dan paling Selatan hingga Jalan Parangtritis. Kalau sudah ada kompetitor yang nongkrongin pasar, maka mau tidak mau kami ambil risiko untuk melakukan konsinyasi alias titip jual.

Untuk ukuran “harapan”, pekerjaan ini kurang menjanjikan, namun tanpa disadari, ane dan teman ane, Janu, dituntut untuk banyak melakukan perubahan dan inovasi. Bagaimana kami berusaha membuat bumbu pecel dengan menggunakan kacang goreng yang disangrai alias tanpa minyak, semata-mata untuk selalu menghindari penggunaan bahan pengawet. Juga bagaimana ane berusaha membuat ukuran gramasi (packing) kemasan yang sesuai kebutuhan: sekali pakai atau berkali-kali digunakan.

Menciptakan beberapa jenis rasa, antara tidak pedas, pedas sedang dan pedas buanget sungguh mengasyikkan. Juga soal selera, karena rupanya ada dua mahzab bumbu pecel yang membedakan buatan Solo dan Madiun atau Blitar. Bumbu pecel Solo, tanpa menggunakan kencur, sedangkan Jawa Timur-an pakai.

Kami, menganut Mahzab Solo.

Asyik juga dengan mengutak-atik kemasan etiket pada kemasan. Bagaimana membuat dan ngarang-ngarang nama merek, ukuran font tampilan beserta pemilihan warnanya. Semua ternyata dilalui dengan diskusi panjang nan melelahkan, walaupun hasilnya memprihatinkan. Modal 2 juta menyusut perlahan dengan sempurna.

:D

Sekarang itu semua tinggal kenangan. Ane tak lagi berkeliling Kota Jogja, Sleman dan sekitarnya untuk membawa bumbu pecel dan menjualnya. Namun keringat dari sana aromanya masih tertinggal hingga saat ini. Suasana pasar becek seperti Pasar Demangan, warung di pinggiran jalan, masuk-keluar gang sempit, berkenalan dengan banyak penjual sayur-mayur dan seluruh suasana denyut nadi usaha kecil.

Usaha tidak selamanya diciptakan untuk mendapakan hasil seketika. Banyak hal yang lebih berguna dari pengalaman itu digunakan masa-masa sesudahnya.

Oh iya, nama merek bumbu pecel itu “JAWI”, semoga saja bukan singkatan dari Janu Wiyanto.

:D

2 pemikiran pada “Pekerjaan Pertama

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s