Organisasi Periuk Nasi

“Marilah kita jujur. Tidak ada orang yang menyukai perubahan”

-Seth Godin-

Kantor ane punya serikat pegawai. Minggu kemarin SP membagikan kuesioner mengenai pilihan nasib pegawai ke depan.

Yap. Menurut Undang-Undang Bank Sentral kantor ane bakalan diambil sebagian kewenangannya oleh Lembaga Pengawasan Jasa Keuangan paling lambat 31 Desember 2010. Padahal lembaga itu masih OTB alias organisasi tanpa bentuk. Masih blur. Masih bayang-bayang.

Maka, hiruk pikuklah semuanya.

Dari OB hingga DG, dari staf sampai bos nya staf, dari bosnya staf sampai bosnya bos staf.

Siapa sih yang mengira kalau suatu lembaga besar bisa digelitiki, bahkan diamputasi?

Tapi itulah realita, apa ada hal yang bisa mengubah realita lewat wacana tanpa tindakan nyata?

Akibat dari kegelisahan para pegawai, maka banyak pelariannya adalah tumbuhnya mental pergunjingan, movement, office pulitik, klik, berkelompok dan saling berkata: trust, yang sesungguhnya adalah pegawai masing-masing sibuk memikirkan periuk nasinya.

Menurut Jim Collins, penulis Good to Great dan Built to Last yang baru saja merilis buku teranyar: How the mighty fall and why some companies never give in:

“kemerosotan institusional seperti penyakit: lebih sulit dideteksi tapi lebih mudah disembuhkan di stadium dini; lebih mudah dideteksi tapi lebih sulit disembuhkan di stadium akhir. Sebuah institusi bisa tampak kuat dari luar tapi sakit di dalam, terancam terjungkal ke jurang terjal”.

how-the-mighty

Ada beberapa indikasi pada suatu kondisi di mana sebuah tim-sebuah organisasi tengah merosot:

1. Orang menutupi fakta-fakta yang tidak menyenangkan dari pemimpin, takut menerima pinalti dan kritik karena menyoroti realitas buruk.

2. Orang menyatakan opini kuat tanpa menyediakan data, bukti, atau argumen kuat.

3. Pemimpin memiliki rasio pertanyaan-pertanyaan yang sangat rendah, menghindari input signifikan dan atau membiarkan pemikiran ceroboh dan opini yang tak didukung.

4. Para anggota tim menyepakati keputusan tapi tidak bersatu untuk menyukseskan keputusan itu- atau lebih parah lagi, meremehkannya setelah dinyatakan.

5. Para anggota tim mencari pujian sebanyak mungkin untuk diri sendiri, tapi tidak mendapat kepercayaan dan kekaguman dari rekan-rekannya.

6. Anggota tim berdebat agar kelihatan pintar atau untuk lebih memperjuangkan kepentingan mereka sendiri, bukannya berdebat untuk menemukan solusi terbaik guna mendukung tujuan keseluruhan.

7. Tim/ organisasi mengadakan “otopsi dengan tudingan”, mencari yang salah dan bukannya kearifan.

8. Anggota tim sering kali tak mampu menunjukkan hasil yang luar biasa dan menyalahkan orang lain atau faktor-faktor luar sebagai penyebab kemunduran, serta kegagalan.

Dari 8 ciri tim/organisasi yang tengah merosot, lalu bagaimana yang benar? Atau setidaknya organisasi itu tengah meningkat?

1. Orang menyampaikan fakta buruk- “ayo kita lihat ini, itu tidak bagus“-untuk dibicarakan; para pemimpin tak pernah mengecam mereka yang menyatakan fakta buruk.

2. Orang membawa data, bukti, logika, dan argumen kuat ke meja diskusi.

3. Pemimpin menerapkan gaya Socrates: memakai rasio pertanyaan-pernyataan yang tinggi, menantang orang, dan mendorong wawasan yang mendalam.

4. Anggota tim bersatu di bawah keputusan yang pernah dibuat, lalu berusaha menyukseskan keputusan tersebut, bahkan meski mereka tegas-tegas tidak setuju.

5. Tiap anggota memuji orang lain karena keberhasilan yang dialami, dan mendapat kepercayaan dan kekaguman dari rekan-rekannya.

6. Anggota tim berargumen dan berdebat, bukan untuk menaikkan posisi pribadi mereka, melainkan untuk menemukan solusi terbaik guna mendukung tujuan keseluruhan.

7. Tim mengadakan “otopsi tanpa tudingan” menggali kearifan dari pengalaman menyakitkan.

8. Tiap anggota tim memberikan hasil luar biasa. Namun, ketika terjadi kemunduran, semua menerima tanggung jawab penuh dan belajar dari kesalahan. (Jim Collins-2009)

>>Dari delapan ciri itu, coba ente terapkan dalam tim-perusahaan-lembaga-organisasi tempat berkerja. Di manakah posisi tim ente? Sedang merosot atau makin meningkat ke arah perbaikan dan menuju kesuksesan..?

****************************

Rio Wardhanu

Y!M : wardhanu@yahoo.com

gTalk : kopdang@gmail.com

****************************

5 pemikiran pada “Organisasi Periuk Nasi

  1. Yep, Jim Collins memang punya analisis yang tajam. Walaupun sedikit oportunis, ketika banyak organisasi strive smoothly, dia bikin Good to Great. Ketika GM kolaps, dia bikinlah How the might fall and why some company never give in. Ane pikir cuma masalah momentum aja ya. Tapi Marilah Kita Jujur, Jim Collins itu penulis yang hebat.

  2. dari penelitian yang pernah dilakukan Hofstede tentang tendensi multikultur dengan salah satu subyeknya adalah bangsa Asia, termasuk Indonesia ternyata power distancenya cukup signifikan positif. artinya sentralisasi kekuasaan kental, struktur organisasi yang berjenjang (tinggi),so no wonder why kita tidak bisa mencontoh idealisme Jim Collins :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s