Kemarahan
Perlawanan yang keras
Mata bersinar merah, otot leher mengencang
Kuku terbenam dalam kepalan
Tak tahan hendak berkelahi
Mata bertemu
Air mata menetes di pipi yang kemerahan
“saya minta maaf”
“saya juga”
Penerimaan
–Kontribusi oleh Ruth Liddle–
Sebuah ciri-ciri kemarahan yang sehat. Maksudnya, mengetahui bahwa orang sedang terbakar emosi, koherensinya dalam bentuk perilaku ataupun tabiat kebiasaan, mempermudah diri dan orang lain yang melihat untuk mengenali dan membawa diri pada langkah selanjutnya untuk mengatasi persoalan.
Beda halnya dengan model kemarahan yang lebih abstrak. Indikatornya sulit diterka, karena terpendam dan tersumbat penyalurannya. Ada pribadi yang sulit sekali mengekspresikan kemarahannya kepada orang lain, alhasil tendensius bersikap destruktif terhadap diri sendiri–bertindak mencelakai diri sendiri. Beda lagi dengan pribadi yang memiliki pola kemarahan merembet. Ia yang kena marah di kantor, karena tidak bisa membalas balik, berdiam diri dan menggerutu dalam hati tapi di penghujung hari melampiaskan pada orang rumah, menyalurkannya bisa jadi cuma sekedar cemberut atau amukan dalam berkata, tapi ada pula yang tidak malu menyakiti fisik pasangannya bahkan darah dagingnya sendiri.
Ada pula amarah yang memang tertuju pada dunia di luar dirinya. Tiada kebenaran selain dirinya persis cara pandang seorang anak kecil. Ini orang jenis psikopat, tahu aturan, tapi tidak punya empati dan memang berupaya betul untuk memanipulasi aturan dan mencari celah agar lepas dari jeratan sanksi.
Amarah adalah emosi paling efektif untuk menyusup pada relung terdalam manusia.
Amarah karena sakit hati dicaci. Di beri cap negatif, fanatisme, didera kemiskinan dan masalah finansial, mudah dipelintir dan ditunggangi oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Yang paham psikologis manusia, mencari pribadi yang rentan dan punya amarah dalam sekam, diiming-imingi kebahagiaan dan kesejahteraan mempermudah cuci bilas nilai. norma yang sudah ada.
Jika ada yang berkata, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya atau like father like son. Ini adalah pepatah yang menyesatkan. Ada memang, beberapa kasus seperti kisah Dani Dwi Permana—tersangka Teroris Bom, ayahnya yang masih dihotel prodeo, Bisa jadi contoh kasus yang menarik. Benarkah hal ini menurun dalam rapor genetis keluarga. Mungkin saja. Tapi selayaknya hitungan proporsional juga diberikan bagi kontribusi lingkungan sebagai pembentuk sikap dan tabiat.
Profil Dani juga terbentuk dari tingkah polah, cara asuh yang dianut keluarganya.
Tiadanya ayah sebagai panutan, ibu sebagai single parent yang juga harus menghidupi adik-adiknya bisa saja kesulitan untuk membagi waktu, tenaga dan perhatian bagi anak-anaknya. Apalagi Dani yang beranjak remaja perlu perhatian ekstra lebih, pubertas berefek pada labilitas emosi, masalah krisis identitas diri menimbulkan potensi amarah dan aspirasi terpendam yang tidak tersampaikan.
Peran lingkungan terdekat efektif mengubah nilai.
Persis dengan bagaimana penjalaran narkoba di lingkungan sekolah. Meskipun di rumah telah dijejali wanti-wanti untuk tidak menyicipinya,tapi begitu keluar dari lingkungan yang aman itu, bombardir tekanan rekan sebaya, dominansi teman sekelompok dan figur superior (seperti ketua geng) bisa memberi efek yang berlipat kali lebih kuat.
Lantas, kembali kepada issue amarah. Bagaimana mengatasi amarah agar tidak tersumbat?
Sebelum mekanisme penyelesaian masalah menjadi sebuah gangguan mental, peran lingkungan primer seperti orang tua dan pasangan untuk bisa menjadi orang yang bisa menyimak tidak sekedar mendengar. Sekedar mendengar berarti informasi bergulir lewat kuping ke kiri keluar kuping kanan. Tapi ketika menyimak, kita menunjukkan minat ketertarikan untuk mendengar dan menggali pandangannya sedalam mungkin. Toh kita dianugerahkan jumlah telinga lebih banyak dibandingkan mulut. Tipsnya adalah: Pertama, usahakan jangan memotong pembicaraan, jika pun sedang dalam tugas yang demikian hectic, memotong pembicaraan disampaikan dengan nada sopan (even kepada anak kita yang kita anggap terlalu kecil untuk mengerti). Kedua, aturlah waktu khusus untuk berkomunikasi tanpa interupsi. Ketiga jangan sampai memberikan penilaian terlalu dini, mengatakan “…kan sudah saya bilang”, “kamu ternyata orangnya begitu ya”, “…yang begitu kan tidak boleh”, tidak diperbolehkan saat menyimak.
Amarah, sama halnya dengan tertawa dan bersedih seharusnya disikapi dengan kewajaran yang seimbang.
Amarah bukan untuk dihindari, tapi perlu diselami. Sama hal ketika kita introspeksi mengapa kita tertawa dan hal-hal apa yang membuat kita bersedih. Kritislah dengan emosi yang menyulitkan orang lain mengambil keuntungan darinya. Ketika orang lain menyuruh kita mengambil jalan pintas untuk memukul balik, mencaci dlsb, tanyakan dulu pada diri: apa ada untungnya bagi saya, apa akibatnya bagi orang lain dan apakah ini menyelesaikan masalah atau malah memperburuk masalah”.
Begitu pula bagi rekan yang tidak beruntung direkrut sebagai terorist-wanna-be tanyakanlah:
Benarkah memerangi zionisme, dan mengangkat derajat Islam dengan bertindak membunuhi orang lain?
Benarkah ukuran jihad dilihat dari perilaku menyakiti orang lain yang tidak berdosa?
Marah yang terasa begitu kental, perlu disalurkan pada hal-hal yang produktif atau setidaknya pada hal-hal yang tidak merugikan. Berteriak, menghempaskan barang boleh-boleh saja asal tidak mengganggu orang atau properti orang lain. Bisa juga disalurkan dengan kreasi tulisan, bahkan ada yang hobi berbenah jika sedang kental amarah.
Bagi amarah yang sudah terlanjur diarahkan bagi hal-hal yang keliru dan merugikan, peran lingkungan justru bertambah penting. Saya terinspirasi dari perkataan penyiar radio kesukaan saya—Rafiq dan Putri, bahwa yang terpenting adalah kesadaran bertetangga. Kenali tetangga kiri, kanan, belakang dan depan saja sudah menjadi modal untuk mencegah terorist-wanna-be atau pengantin bom lainnya beranak pinak di lingkungan kita.
Amarah itu sehat, jadi jangan dihindari jika tidak ingin jadi penyakit mental.
Amarah itu lumrah tapi tetap bersiaga untuk mencegah transformasinya ke arah yang radikal dan destruktif.
Postingan ini ditulis oleh Guest Blogger Kopidangdut: Sylvia Damayanti Amril, seorang psikolog yang bekerja pada Bank Sentral.


Agustus 14, 2009


Author Info
pertamaxxxxxxxxxxxx… salam kenal