
Ada Tiga orang yang akrab. Mereka berteman karena mereka cocok, satu dengan yang lainnya. Mereka masing-masing bernama Rapi, Oga dan Luka.
Rapi lelaki tulen. Luka perempuan tulen. Oga tulen juga. Mereka punya toko dengan modal yang dibagi bertiga. Masing-masing punya andil yang sama.
Pada suatu hari, si Luka dan si Oga bertengkar gara-gara berebut pacar. Pertengkaran mereka tak bisa dihindarkan. Saling ejek, saling lempar, saling jambak, di dalam toko mereka yang penuh sesak barang-barang dagangan.
Si Rapi hanya menyaksikan. Asyik. Enak nonton sahabat mereka beradu energi. Kapan lagi? Pikirnya.
Saking kerasnya mereka berdua beradu mulut, beradu fisik, jual beli pukulan, si Luna memaki si Oga:
“Oga, lu tuh beol! Gaya lu dan sikap Lu Afgan (sadis-red).. Lu lebih rendah dibanding si Rapi..!”
Duarrr!!
Dengan suasana yang panas, penuh tekanan dan dengan perhitungan ambience dan kontekstual yang sedemikian rupa penuh iri dengki dan permusuhan, siapakah yang direndahkan sebenarnya?
Oga atau Rapi?
Serendah apakah Rapi?
Dalam keadaan normal, tentu saja Rapi yang tadinya senyam-senyum menikmati pertarungan dua rekan sejawatnya jadi ikut tersinggung.
“Sial nih, si Luka koq malah bawa-bawa gw?” “Serendah apa sih Gw?”
Itu cuma khayalan liburan panjang. Menyaksikan komoditas berita yang asyik punya. Infotainment berjalan dengan pandangannya. Luna Maya bicara sebagai manusia biasa. Lalu Pelacur kemana? Mana Asosiasi Pelacur? Mengapa mereka tak menggunakan UU ITE untuk memperjuangkan martabat mereka? Mengapa mereka memilih diam, ketika profesi mereka dijadikan “batas bawah” dari hirarki profesi?
Ya.Karena pelacur punya akal sehat. Mafhum dan harap maklum.
Saya suka. Benar-benar suka dengan gejolak sosial ibukota yang bukannya dilokalisir, malah diplintir menjadi isu Nasional. Hey, Indonesia bukan Jakarta doang!
Buatlah kreatifitas anak Jogja dan Bandung sebagai buah bibir. Jadikan petualangan anak rimba di Papua sana menjadi isu juga. Tentu saja, bukan konflik yang kita angkat. Namun citra positif, yang menjadikan hidup kita lebih bermartabat.
@kopdang
mas@kopdang.com
saya ditrackback ya saya komen hehehehe
ikutan artis mode on :
” iya ach..saya seh gak takut getho ama UU ITE ”
lagian jurnalis juga gak mengakui kalo wartawan inpotainment sebagai jurnalis juga..berita yang mereka bawa gak ngaruh juga…dan gak perlu ‘mikir’ buat nonton inpotainment
capek lagi jadi wartawan inpotaiment. soale melakukan pekerjaan yang bertentangan dgn nurani dan akal sehat.