Ini adalah urusan strategi dan juga nasib. Kalau sudah dengan rasionalisasi nasib, berhenti. Maka, saya akan mencoba mengulas masalah memilih kesempatan berkarir dengan sudut pandang strategi.
Apa itu kesempatan Berkarir?
Ada dua kata: kesempatan dan karir. Kesempatan berarti peluang. Berarti ada jatah, ada hak, ada sesuatu yang dapat kita lakukan dengan mengharapkan sesuatu lainnya. Bukan begitu?
Kesempatan bagi saya adalah “diciptakan” dan bukan “diberikan”.
Karir. Itu sama sekali tidak nyata. Maya! Sungguh. Emha Ainun Najib tidak percaya karir, maka ia tak mau berkarir. Kalau saya? Terpaksa.
Karir itu lama. Seperti menanti godot. Terkadang harus melemahkan iman dan bermain es krim. Kudu jago menjilat vanilla atau coklat. Salah jilat bisa-bisa sakit gigi atau bahkan sakit perut tak naik-naik pangkat. Itu lah karir.
Lantas?
Setiap ada kesempatan, lakukan saja yang terbaik. Lakukan baru berpikir. Ini serius. Sekali lagi ini serius. Di masa masa awal kita tak perlu memilih. Lakukan saja yang terbaik. Bila ada tawaran pekerjaan atau tes penerimaan pegawai, ya coba. Jangan seakan-akan kita merasa sudah pasti masuk dan keputusan di tangan kita. Gagal di awal perkara biasa. Celaka bila melamar langsung diterima. Mental tidak terasah sepenuhnya.
Cobalah untuk memperbanyak informasi dengan cara banyak berkenalan dengan orang baru, bersilaturahmi kepada kerabat, dan tentu saja rajin mencari informasi via berbagai media yang bejibun jumlahnya.
Terkadang jalan kita berbelok di saat yang tak disangka-sangka.
Awalnya saya membantu teman saya berjualan pecel semasa mahasiswa. Tiba-tiba kawan saya ini mendapat suntikan dana dari alumni, yang adalah seorang advokat. Lantas, justru pecel kami tinggalkan karena diminta banyak melakukan riset atau bantuan seketika terkait pekerjaan sang Advokat. Saya, termasuk yang diajak. Lantas dari sana saya banyak berkenalan dengan para klien.
Banyak wawasan. Banyak pengalaman yang bisa ditimba.
Yang terpenting adalah masuki dulu hutan belantara yang namanya Bekerja
Masuk saja dulu. Terima pekerjaan pertamamu dengan sukarela. Gaji kecil? Itu hukumnya wajib, sehingga kamu tidak puas, selalu gelisah dan mencoba hal lain. Lakukan saja. Melamar untuk pekerjaan kedua.
Saya yakin, bila kamu telah memasuki dunia kerja, maka informasi yang didapat, pengalaman eksistensial, dan pola pikir kamu akan melesat sekaligus bertambah wawasannya. Bukan saatnya mendapatkan pekerjaan ideal, namun setidaknya kamu paham secara langsung bagaimana susahnya berkarya dan mencari sesuap nasi. Itu yang penting.
Selanjutnya terus kembangkan kompetensi kamu
Jangan lupa dan jangan pernah menyerah untuk terus belajar dan mendapatkan ilmu baru sekaligus mengembangkan ilmu yang kamu miliki. Jangan pernah puas.
Tingkatkan kemampuan berkomunikasi, termasuk kecakapan berbahasa, tata cara bersikap formal, yang tidak pernah ada di bangku sekolah.
Untuk pekerjaan pertama hingga ketiga, jangan pernah mengeluh soal gaji.
Lakukan demi “pengalaman”. Astiakan banyak hal yang kamu peroleh. Simak semua pengalaman ini seakan-akan adalah wasiat yang tak boleh tidak dijalankan. Lakukan tugas sekecil apapun dengan suka cita.
Ya. Pekerjaan itu bisa jadi tidak ideal atau jauh dari kompetensi, namun setidaknya kamu memahami bisnis proses yang ada. Kenali. Cumbu. Kalau perlu bercintalah dengan pekerjaan kamu, sampai titik darah penghasilan.
Lantas (lagi)?
Kamu akan mendapat clue. Ada peluang di sana. Minimalkamu sudah tidak bau kencur lagi. Ada tambahan pengalaman dalam riwayat hidup. Kuasai pekerjaan kamu, bila sudah,maka segeralah berusahamendapat pekerjaan impian kamu. Tapi ingat,jangan dulu kamu sok pede dan melepas pekerjaan lama. Pintar-pintar la berstrategi.
Tekan pola konsumsi
Selama pekerjaan yang kamu geluti belum sreg dan secara financial belum secara nyata menjamin masa depan,maka jangan sekali pun bersenang-senang untuk menghabiskan penghasilan. Rawat setiap sen untuk masa depan. Apa sih ukuran menjamin masa depan? Tentu saja minimal ada jenjang karir yang jelas, kamu mendapatkan posisi dalam core business, dan penghasilan dapat digunakan untuk menghidupi minimal 3 (tiga) jiwa: Kamu, calon istri dan calon anak pertama dengan layak.
Jangan pernah meremehkan kesempatan
Kamu sudah betah di tempat bekerja. Ada usulan dari ortu atau calon istri untuk mencoba di tempat lain? Jangan sungkan. Lakukan saja. Siapa tahu justru itulah jalan kamu.
Dulu saya enggan melamar di perusahaan atau departemen. Ternyata calon istri saya yang rajin membuatkan lamaran. Ternyata lagi, pekerjaan yang saat ini saya jalani, semata-mata adalah hasil kiriman dari pacar saya yang tidak saya ketahui dan toh saya justru menikmatinya.
Jadi?
Kesempatan itu ada di mana-mana, jangan pernah puas untuk meraih kesempatan. Kerja keras, kerja cerdas dan tentunya:kerja ikhlas. Semoga membantu.
>> selamat malam dan selamat berkarya.

Saya sndiri udah jenuh kerja di tempat sekarang. Pengen pindah tapi di tempat ini saya sudah karyawan tetap. Gimana yah mestinya?
<<< PNS yang tak pernah puas
Ping-balik: Kesempatan Berkarir – Wirausaha Muslim
ngena bgt ny tulisan..mksh bang!!
ah, aku kok merasa ter-sindir tulisan mas ini….
dan baru sekarang dapat kesempatan berpikir atas wejangan kayak gini,
namanya juga nasib.