Kereta Tercepat Di Dunia Bakal Hadir Melayani Indonesia

shinkansen

wussh..wush...wushhh

Kalau benul bakalan hadir, ntar anak TK akan dengan riang gembira bernyanyi:

“Naik kereta api, wusssh..wush..wushhhh..”

:D

##

Rabu, 06/01/2010 16:50 WIB

Kereta Supercepat Jakarta-Cirebon- Bandung Hadir Tidak Lama Lagi Arifin Asydhad – detikNews

Jakarta – Sejarah baru akan diukir Indonesia. Tidak lama lagi Indonesia akan memiliki kereta supercepat yang akan mengambil rute Jakarta-Cirebon- Bandung sepanjang 357 KM. Memorandum of Agreement (MoA) tentang proyek bernilai US$ 3 miliar ini telah ditandatangani di Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

Bila impian ini jadi kenyataan, maka Indonesia atau Jawa Barat akan tercatat dalam sejarah menjadi tempat pertama di dunia bagi beroperasinya moda transportasi yang super canggih ini.

Kereta supercepat ini akan mengalahkan kecepatan dan kecanggihan shinkansen, bullet train dari Jepang, maupun kereta supercepat di Paris, Prancis.

Dalam rilis yang diterima detikcom, Rabu (6/1/2010), KJRI Los Angeles memenuhi undangan CAEDZ (The Eco Synesis Group) pada tanggal 4 Januari 2010 di Los Angeles untuk menyaksikan penandatangan MoA beberapa konsorsium perusahaan di AS untuk Hydrogen Hi-Speed Rail Super Highway (H2RSH). KJRI Los Angeles diwakili oleh Konsul Ekonomi Edi Suharto dan Pejabat Promosi Investasi Los Angeles, Heldy S. Putera.

Penandatangan MoA proyek US$ 3 miliar yang berupa pembangunan kereta super cepat dan ramah lingkungan Jakarta-Cirebon- Bandung sepanjang 357 km tersebut merupakan penandatanganan lanjutan dari penandatanganan awal yang dilakukan oleh beberapa konsorsium di Kuala Lumpur tanggal 1 Desember 2009.

Hadir dalam kesempatan acara yang difasilitasi oleh CAEDZ tersebut 20 orang pengusaha dari beberapa perusahaan yang tergabung dalam konsorsium seperti Aqua PhyD (California) , Inc, McGladrey & Pullen (California) , The Interstate Traveller Company LLC (Detroit) dan Copernicus International (California) . eCompass Group diharapkan akan menandatangani MoA hari selanjutnya yakni tanggal 5 Januari 2010.

Dengan penandatanganan MoA tersebut, seluruh konsorsium yang terdiri dari 15 perusahaan telah menandatangani MoA dimaksud. Kelima belas perusahaan yang tergabung dalam konsorsium tersebut terdiri dari Aon Risk Service Inc, Aqua-PhyD Inc, Aruna Solutions, Asian Energy Limited, Tricap Group, Copernicus International, eCompass Group, Fidelity National Financial, Global Green Management, McGladry & Pullen, Modular Integrated Technologies, Obermeyer Planen+Beraten, Pembinaan Aktif Gemilang, The Interstate Traveller Company, dan Tum Geotechnical Research.

Menurut Marjorie Hoeh, Director for Investment, Finance and Business Development CAEDZ, proyek tersebut merupakan salah satu proyek dari sejumlah proyek Pembangunan Koridor Ekonomi Jawa Barat yang mencakup wilayah Bandung, Sumedang, Majalengka dan Cirebon atau seluas 7.200 km2 atau kurang lebih seluas Silicon Valley di California (6,539 km2).

Keseluruhan proyek yang bernilai US$ 500 miliar tersebut di dalamnya termasuk rencana pembuatan Lapangan Terbang Internasional di Kertajati, Majalengka dan pembangunan serta pengembangan Pelabuhan laut Internasional di Cirebon.

Terkait time table Proyek H2RSH, Marjorie Hoeh menyampaikan bahwa feasibility study proyek tersebut akan mulai dilakukan pada tanggal 11 Januari 2010 yang akan berlangsung selama 90 hari. Setelah itu bila diputuskan feasible, proyek akan mulai dikerjakan dan dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun kereta super cepat tersebut sudah akan mulai beroperasi.

“Bila time table ini berjalan sesuai perencanaan, maka Jawa Barat atau Indonesia akan tercatat dalam sejarah menjadi tempat pertama di dunia bagi beroperasinya moda transportasi yang super canggih ini,” kata Edi Suharto.

Menurut Edi, dalam tayangan video digambarkan bagaimana moda transportasi modern tersebut beroperasi dan memberi keuntungan/keunggulan jika dibandingkan dengan moda generasi sebelumnya seperti shinkansen (bullet train dari Jepang). Keuntungan tersebut antara lain terkait biaya konstruksi yang lebih murah (US$ 10 juta/mil sedangkan moda konvensional sampai US$ 36 juta/mil), break event point diperkirakan hanya 2 tahun sedangkan moda konvensional sekitar 50 tahun, berbeda dengan moda konvensional yang hanya mengangkut orang moda transportasi baru tersebut juga dapat dipergunakan untuk mengangkut barang (freights dan automobiles) .

H2RSH juga memberikan alternatif transportasi yang efektif mengingat dapat beroperasi pada kecepatan yang lebih cepat sehingga diperkirakan dapat menghemat waktu ke tempat tujuan. Selain itu, H2RSH memberikan kentungan ekonomis dikarenakan selain berfungsi sebagai moda transportasi dapat menghasilkan energi yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan energi daerah tertentu, seperti tenaga listrik, air bersih, dan lain-lain. Luar biasa! (asy/nrl)

##
Semoga saja, ini bukan permen belaka.
:)

@kopdang
mas@kopdang.com
http://kopidangdut.org/

****************************
Rio Wardhanu
Y!M : wardhanu@yahoo.com
gTalk : kopdang@gmail.com
****************************

15 pemikiran pada “Kereta Tercepat Di Dunia Bakal Hadir Melayani Indonesia

  1. aku cuma berharap safety-nya ok, sebab andai terjadi kecelakaan di gerbong depan misalnya, itu gerbong belakang bisa lompat ke depan karena speed-nya yg tinggi.

  2. Masalahnya…apa relnya tetap sama? Lha yang buat lambat, kan sering gantian menunggu kereta dari arah berlawanan di stasiun.
    Dulu, Argogede dimaksudkan untuk sampai 2,5 jam..kenyataan bisa 4 jam bahkan lebih, karena rel cuma satu itu. Jika naiknya kereta paling pagi, bisa sampai Bandung 3 jam…

  3. Komentar dr milis IA-ITB:

    Membaca artikel ini, muncul sebuah pertanyaan besar bagi saya, sebelum pertanyaan-pertanyaan lain muncul:

    Mengapa dari US teknologinya? Mengapa bukan dari negara yang jelas-jelas sudah berpengalaman dalam pengembangan sistem transportasi massal, utamanya hi-speed rail system, seperti Jepang (Shinkansen) , Jerman (ICE) dan Perancis (TGV) ? Setidaknya ada tiga alternatif yang well-proven, dimana ketiganya tidak hanya mengembangkan di negaranya, tetapi juga di negara-negara lain. Ingat, bahwa hi-speed rail system di negara-negara lain (Korea, China, Italy, Eurostar, Inggris, Taiwan, dan juga katanya Vietnam berencana) menggunakan salahsatu atau kombinasi dari sistem di tiga negara tersebut.

    Bahkan Amtrak Acela untuk koridor US East Coast sekalipun menggunakan (membeli) produk  dari ICE atau TGV. Dan pilihan tiga sistem negara itu tidak terbatas dari tiga vendor. Untuk Shinkansen sendiri, ada dua vendor yang menawarkan teknologi berbeda, Hitachi dan Kawasaki, dimana mereka sendiri bersaing di Jepang nya. Begitu juga dengan TGV-Alstom, dan juga ICE, yaitu Siemens dan Bombardier. Kalau ingin dengan teknologi Maglev (magnetic levitation) pun, yang sudah proven adalah ICE dan Shinkansen, dimana kereta Maglev di China sendiri adalah produk dari ICE.

    Mengapa kita percaya teknologi US? Padahal sistem perkereta apian mereka pun sebetulnya parah, bahkan kalau mau dibilang sarkastik, sama parahnya, atau bahkan lebih parah daripada sistem perkeretaapian di Indonesia. Jangankan untuk yang hi-speed rail system, untuk yang jenis “odong-odong” sekalipun tingkat ketepatan waktu dan tingkat keselamatannya juga sama parahnya seperti di Indonesia. Masih lekat dalam ingatan bagaimana dalam waktu kurang dari dua tahun terakhir banyak kecelakaan kereta api di Amerika (termasuk di salahsatunya di California) yang memakan puluhan korban jiwa.

    Tidak hanya karena semua masinis yang terlibat mengendarai kereta api sambil SMS-an (di US loh, bukan di Indonesia, hasil akhir investigasi NTSB untuk beberapa kasus kecelakaan terakhir di California & Boston), tetapi juga karena sistem fail-safe nya sangatlah miskin. Masih ingat dalam ingatan, betapa susahnya kabinet Obama untuk meyakinkan kongres membangun sistem kereta api terpadu di US sana.

    Mengapa full PMA? Mengapa tidak berusaha seperti Korea Selatan dan China. Menggunakan vendor yang well-proven untuk membangun sistemnya. Lalu meminta adaptasi teknologi dengan mensyaratkan setelah trainset ke-n, harus dirakit di China, setelah trainset ke-m, semua harus kandungan local, kemudian transfer lisensi, dan akhirnya untuk pasar negara lain sekalipun, trainsetnya dibuat di China. Indonesia juga bisa, terlebih jika pemerintah punya masterplan transportasi hi-speed rail secara nasional untuk jangka panjang. Kita bisa minta mereka garap yang ruas Jakarta-Bandung (let say), sisanya harus dibuat di Indonesia. Itulah yang China minta ke ICE dan vendor Shinkansen untuk pembuatan hi-speed rail nya. Sehingga setelah 30 tahun, China bisa develop yang baru from scratch (tapi isunya, tahun ini udah jadi prototype sendirinya).

    Memang cukup 2 tahun untuk membangun? Terlihat sekali miskin perencanaannya. Dengan teknologi yang masih cuman impian, jangankan well-proven, prototype nya sendiri belum ada. American style sekali. Ambil sebuah contoh nyata. Impian Jepang adalah menghubungkan semua kota besarnya dengan jaringan hi-speed rail shinkansen. Shinkansen pertama diluncurkan 30 tahun yang lalu, itupun baru antara Tokyo dan Osaka. Sekarang bagaimana, apakah impian itu udah tercapai. Jawabannya: masih belum.

    Salahsatu yang proyek yang masih digarap adalah memperpanjang jalur Tohoku Shinkansen ke Utara, hingga Sapporo, tidak lebih panjang dari jalur Jakarta-Bandung- Cirebon. Berapa waktu yang dianggarkan? 5-7 tahun. Itupun dengan teknologi yang sudah well-proven.

    Jangan sampai proyek seperti ini hanya akan menjadikan bangsa Indonesia dibodoh-bodohi orang Amerika dan juga orang Malaysia yang menjadi agennya. Memang, baru uji kelayakan saja dulu, tapi kok sudah jadi berita ke mana-mana.

    Saya rasa, yang lebih tepat bagi ITB dan alumni ITB untuk bersikap adalah bagaimana membuat uji kelayakan lainnya dengan menggunakan sistem lainnya, yang sudah well proven. Lebih banyak punya banyak alternatif daripada satu. Dan lebih bagusnya, kalau dari ITB ada yang mau membuat uji kelayakan bagaimana kalau Indonesia membuat sendiri sistemnya, nationwide untuk jangka waktu yang panjang. Saya rasa technological- development pull dengan dibuatnya hi-speed rail system oleh bangsa Indonesia sendiri akan menimbulkan efek tambahan berkembangnya teknologi-teknologi turunan lainnya. Bisa saja dengan cara mengikuti China.

    To know something, you should learn from a teacher who knows and understands the thing.

    Tolong message ini diteruskan kepada pembuat kebijakan terkait. Jangan sampai kita dibodohi terus.

    >>->>IZUL<<-<<$4+|~14<<———— ——— –
    Satria Zulkarnaen Bisri PhD scientist
    Low Temperature Condensed State Physics (Y. Iwasa Lab.)
    Institute for Materials Research
    Tohoku University, JapanURL: http://www-lab.imr.tohoku.ac.jp/~satria/index.html

  4. Lah..Cirebon ??? saya gk pernah nnton tipi
    wedew keren banget
    makin lancar tuh Cirebon jadi Ibukota JawaBarat/ Provinsi Sendiri, dan Bandung jadi Daerah Istimewa Factory Outlet hahahhaha

  5. Itu mungkin terlalu sulit. Yang penting, Indonesia sudah bisa membeli kereta-kereta baru (bukan bekas lagi) dan meningkatkan ketelitian dalam pengaturan rel untuk mencegah kecelakaan. Kereta Jepang yang sampe 500km/jam aja belum pernah kecelakaan, kenapa kita yang cuma 80km-100km/jam sering anjlok.

  6. maju lah tanah air ku……
    teruslah berkembang dan menjadi negara terbaik……
    jangan lupa keamanannya juga ketika beroprasi dan kenyamanannya..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s