Neyzianadezhda Elantaba Wardhanu

Ia lahir saat keadaan rumah tangga alhamdulillah baik-baik saja. Beda dengan kakaknya, Marecinta Mannamagnamakna Wardhanu, yang biasa saya panggil Cinta, ia hadir saat saya dan istri masih banyak pertimbangan untuk setiap kebutuhan dan pengeluaran.

Si Adik, Zia, lahir di Jakarta, sedangkan kakaknya lahir di kampung, supaya dekat dengan kakek-neneknya di Boyolali.

Neyzianadezhda. Seruling cahaya harapan. Silahkan anda cek via wikipedia setiap penggalan namanya. Ney. Zia. Nadezhda.

Ney, adalah alat tiup kaum sufi persia. Salah satu alat bermusik untuk mendekatkan diri pada sang Mahapencipta. Seni musik yang bisa jadi, salah satu cara kaum sufi “meniadakan diri”.

“Ketika kita sudah sudah bisa mencintai dan memaknai seni, ketika itu pula kita sebenarnya sedang mencintai Allah dan semua ciptaan-Nya.” ~ Sutardji Calzoum Bachri.

Namun, bukan dalam rangka itu saya menamakan dirinya “Ney”. Hanya seruling. Alat. Diciptakan. Yang mengisi udara hingga bergetar. Tentu saja dengan cara ditiup. Didorong. Tidak keras tidak lemah. Seperlunya.

Mendorong.

Lantas “Zia”.
Mengingatkan pada siapa? Zia ul-haq? Zia Inayat Khan?
Zia. Cahaya. Sinar. Dalam bahasa Arab dan Persia. Mengapa bukan Nur? Saya ingin dengan kosa kata yang lain. Cukup Zia saja.

Bagi saya cahaya adalah nyawa dari keindahan mata. Faktor utama dunia fotografi. Simbol dari aufklarung, enlightment, pencerahan. Dari gelap menuju terang. Dari ketidaktahuan menjadi paham. Lebih baik. Lebih jelas.

Selanjutnya adalah Nadezhda.
Awalnya Nadine. Bagi puan jelita negeri eiffel berarti “harapan”. Namun, kurang elok rasanya bila disandingkan dengan Ney dan Zia. Maka, dicarilah padanan katanya. Rupanya asal kata Nadine berasal dari Rusia: harapan. Nadezhda.

Apalagi sumbu utama hidup selain cinta? Bagi saya adalah untuk terus memelihara dan menumbuhkembangkan harapan dan berupaya keras untuk mewujudkannya.

Kemudian perlu nama tengah yang cukup simpel. Cinta, anak saya yang pertama, sudah punya nama tengah yang cukup membingungkan: Mannamagnamakna. Hidangan roti manis yang penuh dengan makna yang agung.

Sedangkan Zia, di nama depan sudah cukup sulit dilafalkan: Neyzianadezhda.

Maka nama tengah cukup lah dipermudah. Elantaba.

Boleh saja, saya reka-reka dari penggalan bahasa Jawa:
Eling lan tansah Ibadah.
Elantaba dalam bahasa Spanyol berarti “bukan miliknya” alias “sewa”. “Dipenjamkan”. Biar ia sadar dan terutama kami sadar, bahwa pemilik sejati hanya Dia sang MahaPemilik.

Tapi bila Anda sempat coba lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk cari kata elan dan taba(h).

Kira-kira begitu lah.

Sedangkan nama terakhir: Wardhanu, tentu saja nama ayahnya. Saya.

Neyzianadezhda Elantaba Wardhanu: Peniup cahaya harapan yang senantiasa ingat dan tabah pada-Nya bagi keluarga Wardhanu.

Demikian.

RSIA Tambak, 11:35:57, Tue, May 18, 2010

10 pemikiran pada “Neyzianadezhda Elantaba Wardhanu

  1. alhamdulillah… selamat. amanah itu bro. nama yang indah. semoga doa dalam nama itu di ijabahi Sang Pemilik Segalanya…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s