Mencari Rejeki Dari Internet.

Selama bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore, saya selalu bersentuhan dengan internet, karena di kantor saya pegawai boleh menggunakan internet sepuasnya. Tentu saja harus dengan bijak. Beberapa alamat situs tentu saja diblokir terutama yang berisiko terhadap penyebaran malware dan phising.

Saya bisa ngeblog. Saya bisa ngetwit. Saya bisa baca jurnal. Saya bisa baca berita dan saya bisa lakukan apa saja. Kami dianggap dewasa.

Oleh karenanya untuk beberapa kali, saat senggang saya suka membuka halaman kaskus, tokobagus atau berniaga untuk melihat pernak-pernik dan mencari barang tertentu yang diperlukan. Sebetulnya sih cuma liat doang. terus liat harga pasar.

Sesekali terlintas untuk berbisnis lewat dunia maya ini. bikin blog berbayar lah, jual buku lah, jual hape lah, tapi sebatas barang sekon yang sudah tidak dipergunakan intens lagi. Untuk berjualan secara rutin, rasanya masih aneh. Lha wong karyawan kok malah kenceng bisnis. takut malah keterusan.

blog ini juga sudah sih dipasangi iklan, walaupun secara finansial susah dan belum menghasilkan. Sepertinya memang, jika mencari rejeki hanya, dari dan untuk internet susah, misalnya lewat google ads. Lebih baik berjualan konvensional bahkan tradisional namun cara menawarkannya melalui internet. Ini jelas hasinya.

Beda dengan istri saya. Dia lumayan maju  soal bisnis via internet ini. tokonya, dapurdapur.com sudah cukup menghasilkan. Padahal ya jualannya cuma soal dapur doang. celemek, baju masak, topi koki, panci dan alat dapur lainnya.

Makanya di rumah sekarang setiap anak saya enggak ada lagi yang mau ngangkat telepon, karena biasanya ya orang mau pesen barang.

Istri saya sengaja kasih nomor telepon rumah, hape dan email nya. semua jalur pemesanan. Tidak dengan PIN BB , karena dia emang gak mau pake BB dari dulu.

Lumayan.

kemaren iPad saya rusak, istri saya yang bayarin. Kemaren buat subsidi bensin pulang kampung, istri saya yang bayarin. Gak kerasa kalau pulang pakai pertamax plus, karena setengahnya bukan pemerintah SBY yang subsidi, melainkan Nyonya Kopdang. Nayamul bukan?

Ternyata asal tekun bisa menghasilkan. Istri saya bukan rajin, tapi tekun. Ia berdedikasi dan bertanggung jawab. Serius terhadap apa yang sedang dikerjakan. Bukan hanya sering dan rutin, tapi cermat dan mendalami.

Itu sih yang saya lihat dari bisnisnya.

Jual Apron atau celemek sampai dijual ke pembeli yang ada di Palembang, Bali, hingga Kepulauan Bahama. Lha kok bisa?

iya, orang Bahama itu pas lagi pulang kampung ke Indonesia dan butuh celemek untuk usahanya di bahama.

hihihi.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s