Archive by Author

Surat Terbuka untuk Deddy Mizwar dan Didi Petet

Kepada Deddy Mizwar dan Didi Petet,

Bapak-bapak sekalian, bulan Agustus ini begitu banyak yang pergi meninggalkan kita, dari Mbah Surip, WS Rendra, Corazon Aquino, Bobby Robson, dan John Hughes. Mereka membawa begitu banyak kenangan bagi orang yang ditinggalkannya. Namun pada saat yang bersamaan, terlalu banyak selebritis yang meninggal. Sebulan seharusnya jatahnya tiga atau empat. Oleh karena itu, dengan surat ini saya menghimbau agar bapak-bapak berdua mengubah gaya hidup yang tidak sehat (kalau ada) sekaligus mengikuti anjuran berikut :

  1. Rajin melakukan gerakan fisik ringan, misal melakukan gerak badan ringan tiap hari 2 x 25menit atau 6 jam perminggu dapat meningkatkan daya tahan.
  2. Pilihan makanan dan minuman. Termasuk pemilihan suplemen makanan, hal ini bertujuan agar makanan yang masuk kedalam perut dapat bervariasi, teratur serta seimbang.
  3. Gigi dan Sanitasi. Sehabis makan selalu bersihkan mulut dengan berkumur dan selalu menyikat gigi. Hindari snack atau camilan yang dapat menganggu gigi.
  4. Pengetatan makanan. Makanlah sesusai takaran, kekurangan makanan dapat menganggu data tahan dan kekebalan tubuh, sedangkan berlebihan juga dapat menyebabkan penurunan daya tahan juga.
  5. Jangan merokok.

Untuk lebih lengkapnya baca di sini

Kalau misalnya sempat, di sela-sela waktu bapak-bapak kunjungi juga website ini untuk tertawa sejenak. Dunia tanpa Naga Bonar dan Emon akan sangat tidak menyenangkan. Saya berharap kalian menjaga kesehatan dan berdoa supaya bapak-bapak berdua berumur panjang.

Curahan Hati Golongan Putih

Sumpah, saat mendengar caleg yang bunuh diri, atau jadi gila, atau membongkar jalan, atau bangkrut, saya yang tidak menggunakan hak pilih saat pemilu caleg lalu jadi menyesal sepenuh hati.

Kenapa kemarin saya tidak memilih? Saya bisa menyelamatkan nyawa mereka. Dengan suara yang saya berikan, mungkin mereka masih hidup dan waras sampai sekarang. Ya, saya cuma satu suara, tapi saya yakin banyak orang yang seperti saya. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Sudah ada korban.

Semoga orang lain yang golput mendengar curahan hati saya ini, dan sadar bahwa satu suara bisa menyelamatkan jiwa seseorang dan kewarasan seseorang. Lupakan tentang donor darah. Ini lebih penting, mari kita donor suara kita bagi yang membutuhkan.

donate-blood-2

Lima tahun depan, saya akan bertobat. Saya akan menyumbang suara saya untuk caleg yang keadaan emosionalnya paling tidak stabil, yang sudah menghabiskan hartanya untuk jadi caleg, dan yang berpikir bahwa jalan pintas terakhir adalah loncat dari gedung tinggi.

Saya harap banyak golput yang bertobat seperti saya juga. Semoga juga yang terdaftar di DPT semakin banyak, agar kita bisa menyelamatkan lebih banyak jiwa, dan juga ruangan di RSJ bagi yang lebih membutuhkan.

—Koko—-
(www.lplpx.com)

Non Smoker Pro Smoker

dad

Saya tidak merokok namun teman-teman saya ada juga yang merokok dan saya tidak pernah keberatan dengan itu. Sejak banyak peraturan yang membatasi dan mendiskriminasi para perokok, saya jadi bertanya-tanya, benarkah perokok itu public enemy nomer 1.

Tentu saja tidak. Kalau saya jawab iya jangan-jangan gak boleh ngeblog di sini lagi =D Di tengah asap knalpot kendaraan, polusi pabrik di mana-mana, dan sebagainya, saat kita bilang, “Jangan merokok di sini.” sebenarnya kita bilang, “Asap polusi dari kendaraannya gak kecium gara-gara ada yang merokok.”

Jadi sebelum melarang orang merokok, atau bahkan mendenda mereka, pikirkan dulu penyebab polusi yang lebih parah dari rokok. Asap kendaraan, polusi pabrik, sampah, dan berbagai polutan lainnya. Kasihan para petani tembakau, kalau semakin jarang orang yang merokok. Kasihan para model rokok, kasihan para penonton sepakbola.

Tapi aturan atau tanpa aturan, saya yakin para perokok jalan terus. Bukan begitu?

Memberikan 100 Persen di Tempat Kerja

100-percent

Apakah mungkin memberikan 100 persen di tempat kerja? Bukan, pertanyaannya adalah apakah perlu memberikan 100 persen di tempat kerja? Saat begitu banyak pesaing di tempat kerja untuk mencari posisi dan jabatan atau sekedar gaji yang lebih baik, memberikan 100 persen atau bahkan lebih adalah suatu cara untuk mendapat promosi yang kamu harapkan.

Akan tetapi benarkah itu yang kita cari? Mungkinkah saat kita memberikan 100 persen kemampuan kita, justru kita malah tidak memberikan 100 persen di hal-hal lain yang justru lebih penting bagi kita namun kita tidak menyadarinya. Contohnya: keluarga, kesehatan, atau memaknai hidup.

Tidak pernah ada orang yang saat mau meninggal, tiba-tiba merasakan penyesalan dan berbicara, “Ah, saya seharusnya lebih banyak lembur.” atau “Seharusnya saya lebih bersungguh-sungguh mengerjakan proyek itu agar profitnya lebih tinggi.”

Bukan.

Adanya penyesalan tentang bagaimana orang tersebut tidak datang ke ulang tahun anaknya yang kedua belas, atau tidak lebih rajin berolahraga. Jadi, jangan berikan 100 persen di tempat kerja agar tidak kehilangan hal-hal yang berharga di tempat lain.

Mungkinkah ini terjadi?

Sebut saja namanya Bunga (bukan nama sebenarnya). Kehormatannya telah direnggut oleh seorang pemuda berinisial RM saat sedang pulang dari sekolahnya. RM sendiri telah mendekam di dalam jeruji besi setelah polisi mendapat laporan dari orang tua Bunga tentang kejadian yang menimpa anaknya.

<…..>

Saat ditanya kenapa melakukannya, RM dengan pelan menjawab, “Saya khilaf, Pak. Entah ada setan apa yang merasuki pikiran saya. Saya sedang membaca UU Pornografi dan di situ saya membaca ada pasal tentang persenggamaan, masturbasi, onani, ketelanjangan, alat kelamin, berikut penjelasannya tentang oral seks, lesbian, mencabuli dengan paksaan, penutup tubuh yang tembus pandang.”

“Setelah saya baca itu, entah kenapa saya jadi ingin, Pak.”

Kisah di atas cuma khayalan belaka. Semoga saja tidak terjadi. Agak ironis juga kalau ternyata terjadi. UU Pornografi memang sudah menuai kontroversi dari dulu. Saya sendiri termasuk yang tidak peduli dengan UU tersebut. Mau disahkan atau tidak, kok sama saja. Tapi kalau usul, namanya mbok ya diganti. Teringat kutipan orang besar “I’m not anti war, but pro peace.”

329289_48337106

Terkadang orang memfokuskan diri kepada hal-hal negatif dengan bermaksud menentangnya, tetapi justru malah memberi kekuatan kepada hal-hal negatif itu. Kayak orang berusaha melupakan mantan pacar. Semakin berusaha melupakan, malah keinget terus. Dulu namanya UU Anti Pornografi, sekarang UU Pornografi saja. Sebentar lagi orang Indonesia pasti menyingkatnya jadi UU Porno.

Ya sudahlah, Undang-undang, apapun namanya tetap saja harus dipahami dan diamalkan, bukan begitu?

Iklan Layanan Masyarakat Hari Pahlawan

bungtomo

Sudah pernah lihat iklan layanan masyarakat yang ini untuk menyambut Hari Pahlawan?

Bapak tua memakai topi petani tampak lelah menatap kamera dan bilang, “Saya pahlawan.”

Pemuda dengan pakaian seragam sekolah SMU, menatap kamera dan bilang, “Saya pahlawan.”

Ibu mengenakan blazer lengkap berkacamata bilang, “Saya Pahlawan.”

Hakim bilang, “Saya Pahlawan.”

Olahragawan bilang, “Saya Pahlawan.”

Guru bilang, “Saya Pahlawan.”

Anak perempuan berseragam SD, bilang, “Saya Pahlawan.”

Ada yang sudah pernah melihat? Kalau sudah saya malah heran, soalnya saya cuma membayangkan itu dalam pikiran saya.

Selamat Hari Pahlawan, Teman.

Berbahasa dengan Good dan Right

Koko

Ditulis oleh Koko diwaktu malam, diuplot di waktu siang.

Setelah ngomong tentang suku, marilah kita berbicara dengan bahasa, mumpung Sumpah Pemuda lagi anget-angetnya.

Ada yang tahu peringatan sumpah pemuda di Atmajaya? Untuk mengenangkan sebuah sumpah yang 80 tahun yang lalu, Universitas Atmajaya bekerja sama dengan Universitas Al Azhar dan Universitas Indonesia mengadakan acara 80 jam non stop memperingati Sumpah Pemuda.

Judulnya : Reborn Indonesiaku. Wadezig! <Memutar lagu Ironic – Alanis Morissette>

Tapi saya pikir lagi, mungkin reborn adalah kata yang tepat. Mungkin kalau judul acaranya “Indonesia Terlahir Kembali” dengan harga lima ribu rupiah per huruf, spanduknya menjadi cukup mahal.

Bahasa menurut saya adalah baju. Jika bajunya sudah tidak sesuai, jangan ubah badan pemakainya, namun ubahlah bajunya. Apakah bahasa Indonesia menjadi baju yang terlalu ketat dan membatasi keinginan kita untuk berekspresi?

Kata mengunduh dan mengunggah dalam konteks download dan upload, belum terdapat di KBBI Daring. Anjuran berbahasa Indonesia yang baik dan benar dengan baju yang sama sejak saya masih SD terus didengungkan, namun tetap saja semua selebritis, politikus, jurnalis, mahasiswa yang mengerjakan tugas akhir dan blogger sekalipun menyisipkan satu dua kata bahasa Inggris dalam ucapannya dan tulisannya.

Ini dilakukan semata-mata anggapan bahwa bahasa Indonesia tidak memiliki kata yang sesuai sebagai pengganti bahasa Inggris tersebut.

Jadi bolehkah memasukkan kata serapan fesyen (fashion), copas dan kupipes (copy and paste), pitalebar (bandwidth), donlot (download), uplot (upload) ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia?

Tapi saya juga mesti mengerti bahwa saya tidak cukup kapasitas untuk mengerti bahasa Indonesia. Wali Kelas waktu saya sekolah pernah bilang begini ke saya, “Ngaku-ngaku orang Indonesia, tapi kok nilai bahasa Indonesianya lebih rendah daripada nilai Bahasa Inggrisnya?”

I don’t know about that..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 491 pengikut lainnya.