Arsip | 1077890 RSS feed for this section

Tembakau Indonesia

Twitter pagi ini banyak membahas tentang Muhammadiyah yg mendapat bantuan Rp5miliar utk program anti-rokok dari Bloomberg.

Hasilnya, setiap pertemuan resmi ormas tersebut, kepulan asap rokok dilarang ada. Hebat bukan?

Berdasarkan data dari The Tobacco Atlas; Campaign for Tobacco-Free Kids; Bloomberg initiatives: dan Philip Morris International, Indonesia memiliki 62,1% pria merokok. Indonesia juga dikenal sebagai pasar tembakau (rokok) paling terbuka lebar untuk perusahaan-perusahaan rokok saat ini. Produsen rokok bisa beriklan di TV dan mensponsori tim olahraga (djarum kudus) serta konser (a mild live, dan konser besoaar lainnya).

Perjuangan anti tembakau saat ini memili pendana besar yaitu Bloomberg/Gates. Sudah 178 grant senilai $125juta atau setara Rp1,2trilyun di 38 negara di Indonesia.

Hal yang menarik adalah dari Indonesia, penerima grant adalah seorang gadis manis, berkaca mata, masih 25 tahun, berjilbab, lulusan fakultas hukum bernama Dina Kania. (@kunelz). Sayang, twitternya tidak digunakan dengan optimal.

Ia datang seorang diri ke rapat tahunan Altria, produsen rokok terbesar dunia untuk menyatakan kekhawatirannya pada Camilleri, CEO Philip Morris, si produsen Marlboro (rokok kesukaan @ndorokakung). Ya, tentu saja ia datang bersama dengan aktivis lainnya dr seluruh belahan dunia. Aktivis yang mengenakan kain chiffon hitam dari ujung kaki hingga rambut, untuk melambangkan: ke-ma-tia-an.

Ketika Kania selesai berbicara, Camilleri mengatakan padanya bahwa semestinya ia senang perusahaan Philip Morris membeli Sampoerna karena mereka akan bersikap etis. Sedikit beralasan, karena setiap tahun, Philip Morris memberikan kesempatan kepada seluruh warga dari manapun bertanya padanya, dan CEO akan menjawabnya. Persis seperti kontes ketahanan layaknya Pansus Century. Dan dalam forum inilah Kania diberi kesempatan berbicara langsung dengan sang CEO.

Tapi apa boleh buat, Philip Morris lebih pintar. Mereka memasarkan produknya dengan dana iklan, pemasaran kreatif yang menyasar kepada perokok muda. Konser musik, kompetisi olah raga, hingga yayasan pendidikan yg memberikan beasiswa.

Tapi Kania cukup pintar, saat Alicia Keys akan manggung di Indonesia, lekas-lekas ia mengontak manajemen Keys. Maka, Kania menjadikan pihak Keys tahu keterlibatan Sampoerna dalam konsernya. Hasilnya: Penyanyi itu mengancam membatalkan konser kecuali produsen rokok itu mau mundur.

Hebat Kania!

Ps: sebagian tulisan hasil membaca sebuah artikel di Business Week edisi Mei 2009.

Sent from my BlogBerry®
powered by blog kopidangdut
http://kopidangdut.wordpress.com/
~dari urusan serius seperti dangdut hingga hal remeh sekadar politik jenaka~

Ekonomi Periuk Nasi

Lama ga ngga ngeblog, karena lebih sering ngetwit. Sama ya? Hihi.

ngeblog itu sebetulnya bisa lebih mengasyikkan dalam merangkai logika dan menyusun struktur dalam berpikir.

“Halah, ngeblog kok njlimet banget to?”

Biar ringkas, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sekalian curhat, apa salahnya belajar mengemukakan pendapat lewat ngeblog dengan disertai argumentasi yang kuat.

Kalau ngetwit, pilihan kata lebih utama. Kudu ngirit kata untuk menyampaikan sebuah gagasan. Atau dua buah. Semuanya bermanfaat bagi kita dalam melatih komunikasi tertulis.

“Lantas kalau ada menteri komunikasi menyampaikan ralat, banyolan via twitter hingga berjilid-jilid, bagaimana?”

Boleh saja dan kita harus bersyukur sehingga kita diberi contoh komunikasi efektif itu seperti apa, yang blunder itu bagaimana, dan yang (maaf) kampungan juga bagaimana.

Hal yang menggelikan justru muncul dari pilihan kata pak tifatul ( http://twitter.com/tifsembiring ) yang entah karena kurang percaya diri atau jengah dengan followers-nya yang doyang ngeritik dengan menuliskan:

“Kalau tidak suka jangan baca”.

Bingung ga? Kalau saya super-duper bingung. Logika berpikir yang aneh.

1) Tidak suka dengan siapa? Atau apa? Tulisannya atau @tifsembiring nya? 2) Bagaimana tidak baca, lha wong timeline-nya sekonyong-konyong masuk kok. 3) Bukannya kalau sudah baca, baru bisa bilang tidak suka?

Bukannya yang lebih tepat itu seperti ini:

1) Yang tidak suka tulisan ini jangan comment.
2) Yang tidak suka saya unfollow saja.
3) Yang sudah terlanjur baca kalau garing ya sudah.
4) Kalau tidak suka saya ga perlu komentar.
5) Saya ga suka kamu. Kamu mau apa. Suka-suka gw mau nulis apa.

Mungkin nomer 5 ini yang harusnya dilontarkan Pak Menteri komunikasi yang merasa asyik ini.

Akhir kata, saya jadi ingat kata-kata mendiang Asmuni, yang cukup satu kata menyatakan kata pengakhir sekaligus berarti tak dapat ditolong lagi:

“Wassalam”.

Jakarta, 11:57:43 AM Sun, Feb 28, 2010

Kalau Bersih Kenapa Risih?

Setelah saya membaca cerita akhir pekan (http://century.posterous.com/bicara-century-tanpa-angka-angka-bacaan-akhir), saya merasa menemukan kembali bagaimana etos kerja dalam menulis.

Logika berpikir sederhana ditawarkan artikel di atas dan yang terpenting dengan bahasa yang santun dan tetap membangkitkan selera. Tulisan yang gurih.

Kalau banyak yang mempersoalkan century, itu sah. Saya pun selalu mempersoalkannya. Namun, tentu saja, karena informasi yang saya miliki lebih banyak dari masyarakat pada umumnya maka unsur kehati-hatian dalam berpendapat mutlak adanya. Apalagi dalam kasus ini institusi di mana saya mencari sesuap nasi sangat terkait. Jadi tak perlu banyak komentar.

Saya pikir bukan saja persoalan korupsi yang perlu dibenahi. Sejatinya adalah perlu ada dialog budaya antara tradisi dan nilai-nilai yang baru sehingga terbit budaya yang lebih baik. Boleh lah disebut budaya tanding, namun bukan berarti sekadar budaya perlawanan atas hegemoni budaya yang ada.

Faktor integritas menurut saya masih nomor satu. Ia merupakan pencampuran antara hati nurani dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat secara universal sekaligus menyerap khazanah nilai kearifan lokal. Integritas yang baik berarti ia jujur dan amanah.

Selanjutnya tentu saja faktor kompetensi. Perlu dipersoalkan bagi para pejabat di DPR mengenai kompetensi di bidang ekonomi. Tentu saja disiplin sosial lain perlu, namun mbok yao kalau ingin manggung dengan penuh wibawa gagah perwira belajar mengenai dasar-dasar ekonomi, juga ketentuannya secara komprehensif. Sehingga, masyarakat awam merasa terwakili. Hasrat bertanya masyarakat diemban oleh mereka. Sayangnya logika berpikir sebagian anggota DPR yang tergabung dalam pansus hak angket Century masih memprihatinkan. Bagi saya kompetensi berurusan dengan kecerdasan dan kemampuan berkomunikasi.

Secara pribadi saya setuju dilakukannya pelaksanaan hak angket oleh DPR. Alam demokrasi kita memang perlu terus diperkaya oleh pengalaman hidup. Tentu saja, termasuk pengalaman getir dan memilukan. Kapan lagi masyarakat terpuaskan? Rasa keadilan yang selalu dicederai bisa cacat bila tidak segera ditangani. Walaupun belum sepenuhnya menggambarkan pemenuhan rasa keadilan, namun transparansi proses tanya jawab yang disiarkan langsung merupakan bagian dari psikoterapi.

Pejabat akan terus diingatkan mengenai etos kerjanya. Atasan akan selalu diingatkan perlunya penguasaan masalah dan tanggung jawab. Bawahan diingatkan perlunya kecepatan, kejujuran, penguasaan materi dan hal-hal teknis lainnya.

Secara pribadi saya kagum dengan gaya ketua KSSK dalam menjawab. Begitu tangguh dan penuh percaya diri. Andaikan saya adalah anak buah beliau, saya akan berterima kasih sekali dan bersyukur karena sebagian martabat saya tak salah dititipkan padanya.

Dari prosesi itu akhirnya saya paham, bahwa sederet kata dapat menjadi berjuta makna.

“Kalau bersih kenapa harus risih..”

Kayumanis, Sun, Jan 17, 2010
@kopdang // Rio Wardhanu
mas@kopdang.com
http://kopidangdut.org/

Negeri Pancasila: Anak-anak yang dipelihara oleh cuaca?

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya” (Ali bin Abi Thalib ra)

Sebetulnya siapa sih yang harus menjaga anak-anak? Orang tuanya, negara atau orang berpunya?Anak-anak yang statusnya berubah menjadi “terlantar” itu bagaimana bisa?

Dalam hukum, ada istilah “mumayiz”. Belum baligh. Siapa yang bertanggung jawab atas pri kehidupannya? Orang tua kan?

Lantas ada juga istilah hak alimentasi yaitu hak anak mendapatkan pengasuhan orang tua. Bukannya begitu aturan mainnya selama ini? Lantas kalau orang tuanya sendiri tak bisa menghidupi dirinya sendiri apa yang dapat diharapkan dari mereka padahal hobby-nya sesuai cita-citanya: Bikin keluarga besar.

Boleh-boleh saja konstitusi berkata: Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Nyatanya? Untuk memelihara keberlangsungan tata negara yang tertib saja sulit. Bagaimana mampu mengurusi hal-hal lainnya?

Lantas muncul cerita ngeri yang lain. Episode kekerasan berlanjut ke bab selanjutnya. Sodomi dan mutilasi kembali mencuat. Ingatan menerawang kembali sebuah nama: Robot Gedeg. Ingat?

Mengapa kisah-kisah pilu macam ini terus saja menghiasi wajah negeri ini?

Ya! Di negeri maju gemah ripah loh jinawi pun tak steril dari dunia kriminal. Pasti ada saja jalan bagi kekerasan menemukan mangsanya. Tapi apa iya kita tak mau berubah, minimal mencegah dan meminimalisir potensi ke arah timbulnya kekerasan tadi.

Jadilah orang tua yang murni dan konsekwen. Bukankah sudah diperingatkan bahwasanya persiapan ekonomi sebelum memiliki buah hati sangat dianjurkan? Bayi laki-laki 2 ekor kambing. Satu kambing bagi bayi jelita. Bukankah itu bermakna bahwa perencanaan dan persiapan adalah mutlak adanya?

Budaya saling tolong menolong di kota besar tanpa ikatan sejarah yang sama, latar belakang ekonomi yang berbeda, jurang pendidikan yang menganga adalah modal dasar bagi kota antah berantah penuh daki kejahatan di sana-sini.

Haruskah kita berbuat sesuatu atau berdiam diri.

Perlukah pemerintah sampai melakukan tindakan represif mengambil atau bahkan merenggut hak pengasuhan orang tua jika terbukti tak mampu. Lantas mau dibawa kemana anak-anak ini?

Apakah negara mampu melakukannya?

Lingakaran setan makin jelas. Orang tua miskin. Akses yang terbatas pada sumber-sumber penghidupan, akses sosial, kesehatan, pendidikan, melahirkan keturunan yang cacat sosial sejak dilahirkan.

Tapi anehnya di satu sisi, sebagian keluarga memiliki akses sosial yang obesitas. Apapun, dimanapun, mau apapun ia mampu. Tinggal tunjuk, hanya mengerdipkan mata, maka semua terjadi.

Keluarga yang termajinalkan secara sosial tak memiliki kemampuan untuk mandiri. Apakah ini yang dinamakan negeri fakir? Ketika diberi makan pagi hari, sore hari mereka tak mampu mencari sendiri?

Atau jangan-jangan cuma hasil dari karakter bangsa yang dimanja ketertindasan, kemalasan dan berharap pada “iba”?

Sungguh malang nasib kita.

Negeri pancasila. Itu saja. Tanpa membawa efek apa-apa..

>Apakah ente punya usul atau pendapat?

Keluh Kesah Pegawai Swasta

Ia menyebut dirinya “Rain” (21th), ingin berbagi sbb:

permisi…
sekedar berbagi sedikit mengenai apa yang terjadi pada saya saat ini..
saya seorang karyawan swasta yang baru sekitar 4 bulan bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di Indonesia yang bertaraf internasional..
umur saya baru 21 tahun dan sangat bersyukur ketika mendapat panggilan kerja dari perusahaan disaat saya baru satu bulan diwisuda..sungguh peluang yang baik untuk menjauh dari label “Sarjana Pengangguran”..

Pada awalnya saya bercita-cita ingin jadi PNS yang merupakan profesi favorit di lingkungan tempat tinggal saya, tetapi ternyata keinginan untuk bisa hidup mandiri telah mengalahkan harapan awal saya sehingga ketika ada kesempatan dari perusahaan swasta maka tanpa berpikir panjang saya langsung memanfaatkannya..

Bahkan ketika ada lowongan CPNS, saya sama sekali tidak mencuri-curi kesempatan untuk berebut kursi panas PNS..

Namun akhir-akhir ini saya merasa jenuh dengan pekerjaan saya sekarang ini, hal ini disebabkan berbagai alasan antara lain jam kerja yang “LUAR BIASA”, suasana kerja yang penuh tekanan dan sikap rekan-rekan kerja yang saling menjatuhkan dan masih banyak lagi yang lainnya, sungguh menyebalkan…
kadang-kadang saya merasa iri dengan teman-teman yang baru terangkat jadi PNS, walaupun gaji mereka lebih kecil dari gaji saya tapi waktu mereka untuk berkumpul dengan keluarga, pacar, dan waktu santai sering membuat saya ingin teriak sekencang-kencangnya..

Dilain sisi timbul perasaan dilema dibenak saya, bertahan di Swasta atau memilih PNS.. Read more…

Garuda Puasa Minum

eagles

burung garuda

Apa pendapat Anda?

###
Minggu, 03/01/2010 16:37 WIB
Tak Angkut Bos Freeport, Garuda Tak Diberi BBM di Timika -Indra Subagja – detikNewsJakarta -

Garuda dengan nomor penerbangan GA 652 rute Jakarta-Denpasar- Timika-Jayapura tidak diberi bahan bakar saat mendarat di Bandara Timika, Papua. Persoalannya hanya karena pilot pesawat itu menolak mengangkut rombongan bos PT Freeport dari Jayapura.

“Rombongan Presdir PT Freeport itu seharusnya naik pesawat GA 653, bukan pesawat GA 652. Kita sudah menjelaskan itu tidak memungkinkan, karena masing-masing sudah ada dokumen dan pesawat sendiri,” jelas Kepala Humas PT Garuda Indonesia, Pujobroto, saat dikonfirmasi melalui telepon, Minggu (3/1/2009).

Pujo menjelaskan, pesawat GA 652 semestinya tidak ke Jayapura, namun ke Timika, sesuai dengan rute penerbangan yakni dari Denpasar ke Timika.

“Karena cuaca di Timika tidak memungkinkan saat hendak mendarat, jadi pergi ke Jayapura lebih dahulu. Setelah cuaca baik, kemudian baru ke Timika,” terangnya.

Nah, saat di Jayapura itulah, rombongan Presdir PT Freeport menginginkan untuk ikut bersama pesawat GA 652, padahal tiket yang mereka kantongi untuk pesawat GA 653.

“Itu tidak memungkinkan, rombongan itu mempunyai dokumen sendiri. Dan tentu itu juga akan membuat delay lebih panjang,” ujar Pujo.

Pesawat yang dipiloti Kapten Manotar Napitupulu itu kemudian berangkat dengan tidak mengangkut rombongan PT Freeport. Namun kemudian, setibanya di Timika dan hendak kembali di Denpasar, mereka tidak diberi izin untuk mengisi BBM.

“Padahal Kapten Manotar sudah menjelaskan kepada pihak Bandara Timika mengenai alasan tidak diangkutnya rombongan PT Freeport. Tapi di pihak bandara tidak mengerti,” terangnya. (ndr/nrl)

###

Makin hebat khan negeri ini?
:D

domain mapping: kopidangdut dot org

Ya. Ane ga kemana-mana. Cukup di sini. Tidak memboyong konten, dan segala pernak-pernik blog ke nama domain baru dan hosting berbayar di salah satu layanan.

Hanya karena iseng, ane coba upgrade blog kopidangdut (http://kopidangdut.wordpress.com) menjadi kopidangdut dot org (http://kopidangdut.org/). Tempatnya sama, isinya sama, hanya ketambahan eh disingkat saja dengan tidak lagi mencantumkan wordpress. Nyatanya, ya blog ini tetap di wordpress.

Kenapa?
Iseng doang.

Bukannya bayar?
Iya. Beli domain USD 5. Lalu, biar ga repot mindahken konten blog lama, sekalian saya “mapping domain”-nya wordpress seharga USD 9.97.

Pake apa bayarnya?
Pake kertu kredit. Langsung jadi, ga sampai 5 menit. Ngalah-ngalahin polaroid. :)

Caranya gimana? Read more…