Arsip | Budaya RSS feed for this section

Segera Hapus akun Twitter Anda!

ini serius. Dijamin kehidupan anda akan normal lagi. Tidur teratur, keluarga mendapat perhatian lagi, dan terutama menjaga kesehatan jiwa dan raga.

Dahulu facebook bikin masalah, lantas group BBM, lantas twitter.

Saya punya akun twitter lebih dari lima soalnya.

Semua saya lepas semua. Enggak diutak-atik lagi hingga detik ini. Hidup serasa di surga.

:)

Berani Kopidangdut

Jadilah pemberani.

Berani tidak ada batasnya seperti kejujuran. Karena jalan lurus takkan berujung. Berani dan jujur butuh energi sangat tinggi.

Jadilah penjilat.

Jadi penjilat itu enak, membual sedikit, rendahkan diri dan buat senang orang lain, maka kamu layak mendapat apa yang kamu inginkan. Mirip kamu ngambil jalan pintas saat berkendara. Saat selamat kamu merasa benar, padahal kamu melanggar peraturan dan menyebabkan banyak pengendara lain kerepotan. JIka kamu mau jadi penjilat silakan. Toh kesuksesan, kegagalan, semua ada di pundak kamu. Tuhan akan membiarkan. Kecuali kamu disyanag, belum apa-apa sudah ditegur dengan berbagai cobaan.

Jadilah orang jujur.

Honesty is the best solution.

Jika kamu sudah mentok, maka ambil jalan kejujuran saja. Dimarahi ya enggak papa. itu memang risiko yang akhirnya ditanggung. Tapi hati kamu tetap semulia intan. Kamu akan selamat secara batin. Kamu orang merdeka sesuai dengan cita-cita Bapak Bangsa.

Jangan malu dengan kenyataan. Jadilah manusia apa adanya. Jika kamu bercita-cita jadi dewa ya silakan. Bicara yang mengawang-awang. Bicara mengenai hal-hal mulia tanpa kerja nyata.

Berani. Berani dan berani.

Hidup sekali, lalu mati.

Jadi suami harus berani. Jadi lelaki harus berani. Jadi karyawan harus berani. Jadi buruh harus berani. Jadi bos apalagi. Jadi pemimpin apalagi.

Khusus bagi kamu yang merasa memimpin sesuatu, apalagi sebuah negeri yang seharusnya gemah ripah loh jinawi cuma ada satu kalimat:

“Berani atau banci”..

Beda Pendapat? Mari Kita Diskusikan

Bila mengemis itu diharamkan, apakah mengemis jabatan juga bagian dari yang haram itu?

Bila hal terbaik adalah sikap ramah dan senyuman, lantas mengapa terkadang kita respek pada “lawan” atau “musuh” dibandingkan kepada teman kita secara diam-diam? Karena dia lebih jujur dan bersikap ksatria?

Banyak hal yang dapat dipertanyakan, dan lebih banyak lagi yang perlu diperdebatkan. Banyak fakta yang hambar dan banyak prinsip yang diabaikan. Lalu kita sibuk mengulang ingatan, menyusun alasan dan pada akhirnya mengejar kepentingan.

Pernahkah Anda diam sejenak. Mewaktu dan membatu. Tak berproses, tak hidup barang sebentar namun juga tak mati. Bukan malas pun bukan giat. Tak melamun dan tak berpikir. Tak eling juga tak edan. Sekadar melepas kemanusiaan Anda.

Tak berperan sebagai angka Nomor Induk Pegawai, tidak berdiri sebagai suami, tidak berakting sebagai Guru. Tidak memikirkan obsesi, cita-cita, masa lalu, dan keinginan jangka pendek yang membelenggu. Biar kejujuran apa adanya, tanpa bungkus, gincu dan manipulasi semu yang meniadakan esensi kedirian kita.

Jabatan itu palsu, popularitas itu semu.

Beda Pendapat? Mari kita Diskusikan..

:)

Patembayan

Beberapa waktu lalu, saya coba mengamati data statistik pengunjung. Salah satu yang mengherankan saya adalah bahwa posting tentang “Patembayan” dan “Paguyuban” sangat banyak. Adapun yang saya maksud ini postingan ini: http://kopidangdut.org/2007/09/26/320/

Lantas saya jadi berpikir, jika Anda mengetik kata “patembayan” di search engine seperti google dan bing, maka yang pertama kali muncul dan di daftar paling atas adalah blog ini, maka kajian mengenai paguyuban maupun patembayan sangat sedikit.

Atau jangan-jangan Anda pun tak tahu artinya? :)

Paguyuban itu sejatinya ya memang seperti banyak perkumpulan di belahan Nusantara. Nuansa kekeluargaan tanpa melibatkan urusan materi. 

Sedangkan Patembayan merupakan kegiatan, aktivitas dari kelompok masyarakat dengan motif dan mengikutsertakan materi.

Contohnya Apa? 

Paguyuban: Kelompok Pengajian, Kelompok Sepakbola di Kampung, Karang Taruna, Kelompok Pecinta Alam.

Patembayan: Perusahaan, Perkumpulan MLM, Asosiasi Pedagang Ketoprak Wilayah Tebet.

Jadi? Sudah Pahamkan?

Kalau tak ada aral merintang, saya akan kupas deh perihal paguyuban dan patembayan ini dengan lebih mendalam. Kenapa? Karena ini begitu khas Indonesia.

:)

Terima kasih.

credit: http://www.flickr.com/photos/adamjackson/4198765687/sizes/s/in/photostream/

Sejarah dan Semesta Peristiwa Silsilah Bangsa

dari flickr.com

creative commons

Rosihan Anwar mengumpulkan tulisan-tulisannya yang ringkas namun mendalam dalam Sejarah Kecil “le petit historie” yang berjumlah (sementara ini) 3 jilid buku.

Sejarah kecil ini secara sederhana dapat diartikan sebagai kisah-kisah lain yang luput dari garis besar sejarah bangsa. Bukan bagian dari arus utama. Hanyalah anak sungai yang mencabang dalam belantara sejarah Indonesia yang gelap gulita. Cerita tentang si Fulan, tentang si Toyib atau siapapun yang kisahnya asyik untuk diceritakan, walau tidak selalu terkait hal-hal yang besar, yang mengubah arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Beberapa hari yang lalu, ketika di Medan, sembari menyantap sajian makanan laut, ane sempat mengobrol ngalor-ngidul sama sohib ane disana, namanya Ryan. Kami bicara perlunya kita mengambil jarak ketika menelusuri sejarah antara kita sebagai subyek dan pokok bahasan sejarah sebagai objek, sehingga sejarah bukanlah dipandang sebagai sepenggal kisah pembenar atas keunggulan golongan si penelusur, namun semata-mata menyambung puzzle fakta yang terserak dalam berbagai artefak, catatan, buku ekspedisi, tutur lisan yang dapat dipercaya, atau dugaan-dugaan yang selama ini hanya disebut sebagai dongeng belaka.

Dalam kesempatan itu kami bicara sejarah pra kemerdekaan. Bagaimana Danau Toba terbentuk, bagaimana dalam budaya batak terdapat gambar perahu, bagaimana warna kulit dan bentuk wajah orang Aceh sangat khas, berbeda dengan suku Batak. Bagaimana Sriwijaya, konon katanya merupakan pusat perkembangan ilmu Budha dan bukannya negeri China. Lantas cerita Arung Palaka, cerita daerah Angke (Jakarta) yang dalam bahasa Makassar Sulawesi Selatan artinya harta diduga merupakan pemberian Belanda atas bantuannya menguasai Batavia-bersama-sama dengan Kapten Jonker dari Maluku (yang mendapatkan jatah daerah Marunda). Read more…

Inul dan Gus Dur

Entah kenapa, setiap inget Gus Dur, otomatis ane inget sama si goyang ngebor, Inul.

Dua-duanya lucu. Gus Dur lucu karena kepinterannya, dan Inul lucu karena kepolosannya. Dua-duanya dari Jawa Timur. Dua-duanya dekat dengan masyarakat “bawah” seperti ane. Makanya, waktu Gus Dur diberitakan telah kembali, ane merasa merugi.

tebak siapa dia?

inul-ku

Gus Dur itu kocak. Bikin terhibur. Semua hal adalah banyolan. Justru itu ane demen banget dah! Sudut pandang yang indonesia banget. Love melulu. Mangan-ora mangan sing penting haha-hihi.

Setiap orang pasti punya kesan sendiri-sendiri tentang beliau.

Begitu pun dengan Inul. Entah mengapa ia sekarang jarang muncul. Kisah nyata bagaimana puan polos yang menarik hasrat sebagian pria saat berlenggak-lenggok menghibur kita semua.

Saya yakin ia bukan mengutamakan liukan tubuh. Tapi semangat dan enerjiknya yang begitu serta-merta. Mantap! Bukan syahwat yang ane dapat, tapi sekadar hiburan semata. Sungguh. :D

Gus Dur dan Inul adalah fenomena. Mereka Indonesia banget, tak didapat dan ditemukan di negeri lain. Sama halnya seperti Waljinah, atau Sudjiwo Tedjo. Mereka begitu khas. Read more…

Gurita Cikeas: Sekadar Makanan Ringan Demi Keuntungan?

Peluncuran Buku Gurita Cikeas

Cara marketing yang ampuh supaya produk cepat laku salah satunya adalah memanfaatkan momen terhadap “trending topics”.

Tentu saja, saat ini yang lagi ramai adalah urusan gurita cikeas.

George Junus Aditjondro memang ahlinya urusan mengintip kekayaan dan kehidupan penguasa.

Dulu ia mempublikasikan tetek bengek keluarga cendana. Sekarang ia berkisah tentang cikeas. Wow! Hobi yang menggiurkan. Intip, hitung, tulis, (kasih bumbu), lantas jual. Apa bedanya dengan infotainment?

Lantas bagaimana substansi dari buku itu, yang katanya sulit ditemui di toko buku? Apakah benar? Apakah fitnah? Atau kah penuh bumbu? Semi-benar (opo iki?)..? Ah, sebelumnya boleh saja kita bertanya: “Apa perlu?”.

Bagi saya ini 100% bermotifkan materialistik alias jualan buku.

Mengapa? Read more…