Arsip | Jakarta RSS feed for this section

beragam pilihan memperoleh informasi

Ada lintas berita. Ada juga bataviase. Juga tak kalah menariknya: urbanesia.

Semuanya bagusssss.

Lintas berita, adalah pengumpul informasi dunia sosial media. Sedangkan bataviase lebih sebagai perangkum di ranah media cetak. Sedangkan urbanesia, adalah pencari jejak dunia nyata via mayantara.

:)

Kepergian dan Makna Kesehatan

sehat

a way to a healthy life

Apa makna di balik kepergian?

Kemarin Michael D Ruslim, Presdir Astra tiada. Usianya baru 56th. Lantas saya teringat juga dengan mBah Surip yang beberapa waktu yg lalu telah tiada. Mereka memiliki persamaan: “Meninggal saat di puncak karir”. Saya menulis status itu di twitter. Ouw, rupanya banyak yang me-retweet (RT), seperti yg dilakukan @beritalifestyle -nya okezone.com (http://lifestyle.okezone.com/) Read more…

Tips Bagi Pelamar Pemula (Fresh Graduate): Memilih Kesempatan Berkarir.

job

i hate this job

Ini adalah urusan strategi dan juga nasib. Kalau sudah dengan rasionalisasi nasib, berhenti. Maka, saya akan mencoba mengulas masalah memilih kesempatan berkarir dengan sudut pandang strategi.

Apa itu kesempatan Berkarir?

Ada dua kata: kesempatan dan karir. Kesempatan berarti peluang. Berarti ada jatah, ada hak, ada sesuatu yang dapat kita lakukan dengan mengharapkan sesuatu lainnya. Bukan begitu?

Kesempatan bagi saya adalah “diciptakan” dan bukan “diberikan”.

Karir. Itu sama sekali tidak nyata. Maya! Sungguh. Emha Ainun Najib tidak percaya karir, maka ia tak mau berkarir. Kalau saya? Terpaksa.

Karir itu lama. Seperti menanti godot. Terkadang harus melemahkan iman dan bermain es krim. Kudu jago menjilat vanilla atau coklat. Salah jilat bisa-bisa sakit gigi atau bahkan sakit perut tak naik-naik pangkat. Itu lah karir.

Lantas? Read more…

Emosi

"emosi?"

AngRy

Apa sih yang lebih hebat dari emosi manusia, tentu saja selain urusan ketuhanan lho ya?

Mesin bisa diatur setelannya. Rumah bisa dirancang mau jadi apa. Tapi emosi manusia, siapa yang bisa atur?

Bahkan dirinya sendiri pun mati-matian menjaga emosi.

Ane ga ngerti juga apakah emosi disini sama dengan nafsu, plus alam pikiran, plus sikap batin, plus suara hati nurani. Tapi yang jelas emosi yang maksud adalah output/ keluaran yang ada dan mempengaruhi pola pikir, pola bicara, pola tindak dan suasana hati kita.

Bisa jadi seorang bos merasa disegani dengan nurutnya seluruh karyawan saat diperintah. Tapi ia tak tahu kalau 90% karyawannya menyimpan dendam kesumat pada bosnya yang begitu otoriter dan tak pernah mendengar. Lama-kelamaan, karyawan akan melakukan hal-hal yang sejatinya merugikan bosnya. Dari memperlama pekerjaan, mengerjakan tugas asal-asalan, berangkat telat dan pulang “tenggo”, dan masih banyak lagi kelakuan anak buah yang sejatinya adalah bentuk dari perlawanan (diam-diam).

Sikap batin sulit diarahkan. Bahkan diciptakan.

Banyak pencipta robot dan rekayasa mesin apapun yang dapat mengerjakan perintah sesuai “task” yang diminta. Tapi belum ada satu pun engine yang mampu menanamkan emosi pada mesin dan robot secara mandiri. Yang ada hanyalah emosi yang ditanamkan sesuai program. Bisa saja unpredictable, namun sesungguhnya hanyalah hasil randomisasi/ pengacakan dari berbagai “if” yang telah dipersiapakan oleh pencipta.

Apakah emosi sama dengan mood? Read more…

Revolusi Sosial Sesungguhnya

Orang Eksakta (bahasa jadul ortu kita) sudah punya karya besar (opus magnum) sehingga kemajuan ilmu pasti mengalami lompatan besar (quantum leap), seperti yang dilakukan oleh Galilei, Newton dan Einstein. Lantas bagaimana dengan Orang sosial?

Read more…

Hikmah Cicak Buaya Dalam Iklim Keterbukaan Informasi

Pada tingkatan tertentu, sepertinya kita memang harus berbagi kesusahan. Dapat dibayangkan bila saja Bibit dan Chandra berjalan sendirian, atau Susno berkelahi tanpa teman, mungkin gak terlalu heboh dan tidak ada banyak cerita yang dapat kita ambil hikmahnya.

1. Rahasia sangat dekat dengan kebohongan, karena kerahasiaan akan memberi kesempatan pada ketidakjujuran. Berbeda dengan berksikap transparan, semua pihak tahu, maka bila ada kebohongan akan terkuak dengan cepat. Birokrasi harus terus berusaha bersikap transparan. Bukan materi atau substansi yang memang perlu ada rahasia, tapi pada “proses”.

2. Polisi perlu terus didukung masyarakat. Kekuasaan tanpa dukungan rakyat, sama saja seperti cebok pake tisu. Gak marem dan terus-menerus diikuti perasaan tidak nyaman.

3. Media makin mengambil peranan sebagai kekuatan baru. Apalagi dengan tingkat peradaban yang makin maju dan kemajuan cara berkomunikasi, dalam sekejab informasi tersebar tanpa dapat dikendalikan secara penuh. Hidup new media!

4. Opini publik makin gampang untuk dipancing, namun ya itu tadi, sulit untuk dikendalikan. Kalau untuk beberapa waktu, pengelabuan wacana hangat dengan menghembuskan berita baru yang lebih heboh dan menarik perhatian memang manjur, namun ingat. Nuarani masih ada di sini, Bung!

5. Hikmah terbesar adalah, penguasa tak lagi menganggap remeh masyarakat, terutama kelas menengah yang bekerja, dengan asumsi terdekat lebih berpendidikan, lebih kritis dan terpenting: berani mengambil sikap. Apakah kita perlu bicara substansi?

Maka coba tim pencari fakta Bibit-Chandra dibubarkan saja, dan ganti dengan Tim-tim pencari fakta berikut ini:

1. Kasus Century

2. Kasus Dana Yayasan Kepedulian apa gituh. (ane lupa) yang dewan pembina isinya terdiri dari 4 menteri yang sekarang bercokol.

3. Jangan coba berani-berani BIN dikepalai Polisi. Bakal runyam mulu ntar.

4. Mereview kasus Bank Indonesia dengan melibatkan besan.

Apalagi ya…?

Mudik Lebaran 2009

Biasanya kamu kalau mudik naik apa?

Ini pendapat saya mengenai “beberapa wahana pulang menuju masa lalu..”

Pesawat:

  • Harus jauh-jauh hari pesan tiket untuk menghemat biaya, walaupun tetap saja: mahal.
  • Rencana harus matang, karena terkait tanggal mudik dan ijin cuti.
  • Relatif tidak butuh energi tinggi (berjejalan, dan macet).

Kereta api:

  • Surga para calo.
  • Kalau naik kelas eksekutif: nyaman dan dingin.
  • Naik ekonomi? Keluar jadi ikan sarden.
  • Siap-siap jadwal keberangkatan molor antara 1 jam hingga 1,5 hari.

Mobil bus

  • Harus pesan jauh-jauh hari agar tidak dihajar “tuslah”
  • Harus punya nyawa 8.
  • Jangan mau dioper pas di tengah perjalanan.
  • Yang suka mabuk darat, lebih baik menghindari moda transportasi ini.

Mobil pribadi

  • Nyaman, atur jadual sepuasnya dan sesempatnya.
  • Kudu cek performa kendaraan: dari mesin, ban, hingga surat-surat kendaraan.
  • Kudu jaga fisik agar tidak mengantuk dan santai.

Numpang mobil orang.

  • Ngirit.
  • Kudu punya rasa pengertian: bayari makan di persinggahan atau patungan bensin.
  • Dilarang tidur. Apalagi ngorok.
  • Siap menjadi supir pengganti atau minimal navigator.

Naik Motor

  • Ramai, bejibun dan keroyokan.
  • terlalu riskan bila ngebut.
  • harus sering istirahat.
  • cocok buat yang mau ngirit.
  • sulit membawa banyak oleh-oleh.

 Koprol 2 kali.

  • Karena sehari-hari ngikut rumah mertua.

:D

 

Saya mudik naik argolawu.

Kalau kamu?