Tentang Dunia Kerja: Talent Scouting


Beberapa hari yang lalu kantor saya mengumumkan adanya talent scouting buat mahasiswa Universitas Indonesia yang ingin dan berminat ikut berkarya.

Saat gurauan diperbincangkan, justru tercetus kalimat bahwa hasil dari talent scouting adalah anak songong-songong.

Saya tak menganggapnya serius, namun kalimat itu sebetulnya ada benarnya.

Kecenderungan pegawai yang masih fresh bahkan belum pernah kerja dimanapun menjadikan dirinya merasa lebih unggul dan lebih pandai. Jika pembawaan ini tidak segera dinetralisir, kejadiannya akan berakhir dengan: kurang diterimanya anak talent scouting dalam pekerjaan sehari-hari.

Apakah anda punya pengalaman yang sama?

 

Iklan

Dunia Penelitian


Barista-400x300

Adalah dunia yang jauh dari hiruk pikuk serba instan. Bisa jadi para peneliti mengikuti jejak masyarakat dan warga awam untuk berbagi lewat twitter dan instagram. Bisa juga mereka senang kumpul-kumpul, makan-makan, dan foto-foto. Namun mereka akan tetap bersahaja dalam emngenukaan pendapat soal dunia profesional mereka.

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti workshop di Cambridge, Inggris. Bertemu dengan banyak peneliti dari berbagai belahan dunia. Ada yang meneliti tentang isu keamanan, sosial politik, ekonomi, fintech, isu kesehatan dan banyak isu lainnya.

Satu hal yang saya rasakan di tengah-tengah para peneliti tersebut adalah fokus mereka dalam hidup untuk mengabdi atas apa yang sudah mereka pilih. Mereka meneliti tentang sedikit hal secara mendalam. Dari dasar hingga melambung tinggi.

Lantas peranyaan saya adalah, apakah para peneliti dengan gelar PhD ini senang berbagi instagram dan twitter. Ternyata iya! namun bedanya mereka tak sesering “kita” dan jarang sekali bicara “opini”. Bisa jadi hal ini karena mereka sadar berargumentasi dan memberikan pendapat di internet itu menimbulkan banyak konsekuensi baik positif maupun negatif.

Bagaimana dengan anda?

Sudahkah anda berbagi tanpa dengan banyak mengeluarkan emosi?

salam,

MK

Lama


Saya sudah lama ndak menjalankan blog ini.

random


pagi ini kaka dan dede fieldtrip

Hai


Lama ndak ngeblog disini.

Oleh-oleh Gorontalo


Mister Alex Rose, sala satu rekan kerja sekaligus bos ane di kwantor baru pulang dari Gorontalo.
Baru tau kalo gorontalo punya oleh-oleh seperti pia kering dari bali. Semacam Pia Gong gitu.

Namanya Pia Saronde. Rasanya enak dan saat digigit ngeprul di mulut.

Terima kasih Mister.

Makna Penyidikan OJK


Perlu secara hati-hati membedakan arti:

  1. konsumen
  2. masyarakat

jika konsumen berarti pihak yang menjadi pihak lawan dari sebuah industri, misalnya industri keuangan, maka masyarakat adalah lebih luas lagi. masyarakat adalah segala warga negara, tanpa kecuali.

jika dalam hal perlindungan, maka sebetulnya lebih tinggi dan lebih luhur mana:

melindungi masyarakat atau melindungi konsumen?

pertanyaan ini menjadi penting untuk memberikan arah yang jelaskemanakah OJK akan memposisikan diri.

  1. Jika untuk melindungi konsumen, maka pasangan utamanya dengan melakukan fungsi penyidikan menjadi tepat.
  2. jika untuk melindungi masyarakat, maka tepat jika OJK melakukan gencar habis soal waspada investasi.

Mengapa demikian?

Sesuai amanat UU No. 21 Tahun 2011, sebetulnay salah satu tujuan OJK adalah melindungi konsumen sekaligus masyarakat.

Maka seharusnya OJK berperan aktif dalam hal penyidikan sektor jasa keuangan maupun waspada investasi. Paralel. Secara bersamaan dan berkesinambungan.

Ketika ada “permen” Perlindungan konsumen hingga diberi kompartemen tersendiri berupa edukasi dan perlindungan konsumen, maka seharusnya fungsi penyidikan pun berjalan. Agar menjadi imbang.

Sayang seribu sayang. Perlindungan konsumen masih demikian adanya. Apalagi fungsi penyidikan yang belum terlihat hasil nyatanya setelah 6 tahun OJK berdiri dan setelah periode pertama di bawah kepemimpinan MDH tak menjabat lagi.

Tak apa.

Lumayan, sudah berbagi rejeki lewat gaji.

 

 

 

 

Blog Vs Vlog


Dahulu, ngeblog begitu menyenangkan. Menjadi platform utama dalam berbagi. Saling bertukar ide dan berkunjung ke blog sahabat.

Setelah munculnya media sosial seperti facebook dan twitter, blog mulai terpinggirkan. Alasannya sederhana: Untuk apa menulis panjang jika singkat lebih menarik?

Maka blog mulai kehilangan daya tariknya. Dari uraian panjang sudah dikalahkan oleh kultweet. Uraian singkat dikalahkan oleh update status dalam facebook atau tweet dalam twitter. Pun susah diviralkan.

Bahkan sekarang kata-kata tak semenarik meme dan gambar bergerak (GIF).  Vlog lebih sering dikunjungi. Youtube menjadi media utama. Iklan mulai bermuara kepada platform berbagi video ini.

Apakah lantas blog mati?

Seharusnya tidak. Jangan-jangan blog harus kembali menjadi uraian panang namun dengan banyak media. Dia tidak hanya uraian panjang dan dalam tentang suatu hal lewat kata-kata, melainkan juga dilengkapi dengan video, audio, dan survey jika perlu.

Misalkan dalam vlog soal wisata ke Bali. Ada kelebihan vlog dimana nuansa liputan menjadi hidup, namun tidak rinci dan ditangkap secara mantap. Dalam blog, vlog bisa secukupnya, namun nama warung makan, menu, harga, hingga peta, bisa ditampilkan dalam blog. Bukankah lebih komprehensif?

dan hemat kuota.

Hehehe.

 

Doa


Semoga tidak lagi semakin menjadi organisasi jasa konco.