Apakah SMA perlu ada pelajaran filsafat ?

images-fil.jpg

Selamat Siang dengan kabut yang menggelayut,

Beberapa waktu yang lampau, salah satu kiriman email dari Kusni Jean (bermukim di Prancis) -dalam milis temu  eropa- disentil  masalah “Quo Vadis  pelajaran filsafat  di Sekolah Menengah yang diajarkan di seluruh pelosok negara Prancis”. 

Pada tahapan diskusi yang lebih lanjut, terjadi pro-kontra, sejauh mana filsafat dapat diajarkan pada anak usia sekolah, silabus dengan bobot seperti apa yang disampaikan, dan bagaimana arah kedepannya dengan iklim pendidikan di Prancis – email tersebut mengupas hal ini- berikut wawancara dengan beberapa murid SMA terkait dengan pelajaran ini dan sistem penilaian ujiannya. 

Boro-boro merespon emailnya, saya justru jadi merenung dan bertanya-tanya: “Sudah mampukah Indonesia memberikan pelajaran filsafat bagi murid SMU?”Melihat kondisi pendidikan yang masih “kutukupret” sekarang ini, kecil sekali kemungkinan Pemerintah menambah satu pelajaran wajib yang bernama “Filsafat”. 

Beruntunglah saya yang sedikit berkenalan dengan buku-buku dan karangan-karangan filsuf sedari SMP. Pikiran-pikiran Magnis Suseno, Driyakarya, Imam Godzali (bukan Godzila, lho..!), Ibnu Sinna dan filsuf lainnya saya baca dari hasil pinjaman Paman saya dan koleksi milik tetangga saya. 

Walaupun (jujur) waktu itu tidak memahami dan lebih banyak bingung, saya pikir ada satu hal penting yang dapat diambil hikmahnya: “Selain dari firman Tuhan, kebenaran itu tergeletak di mana pun di muka bumi ini. Kebenaran bukan hanya milik ranah agama”.  

Oleh karenanya filsafat mengajarkan saya untuk tetap berpikiran terbuka, berusaha berpikir dengan cara menyelam-tidak sekadar melihat sesuatu dengan berkecipak-kecipuk di permukaan. 

Kembali masalah pelajaran filsafat di SMA: “Kira-kira kapan ya…?”

Iklan