Hidup Bermartabat ataukah Hidup Berkualitas ?

Peranan media dalam menyorongkan slogan hidup berkualitas agaknya telah terlanjur salah kaprah diartikan kebanyakan orang menjadi mengarah kepada gaya hidup hura-hura (Hedonist) dan konsumtif. 

Sejatinya, hidup berkualitas adalah pendekatan kepada konsep hidup yang bermartabat, yakni hidup yang dijalani dengan semangat terjaga-terkendali dan pola pikir dewasa: yang menaruh hormat, pertama kali, kepada diri sendiri dan selanjutnya kepada sesama. Melakukan perbuatan (to do) yang menjadikan (to be) sosok diri yang bernilai, memiliki arti, bermanfaat, bukan sekadar bagi dirinya, namun kepada orang lain, tanpa secuil pun dalam proses dan tujuannya merenggut hak pihak lain.  

beras.jpg

Bermartabat yang sejati, dapat dimaknai bukan hanya hidup berkualitas dalam artian memiliki akses untuk mendapatkan dan memiliki kemudahan dalam menjalani hidup sehari-hari, namun lebih merangsek jauh kepada pola hidup yang menerapkan keberpihakkan terhadap suatu “nilai mulia”, yakni nilai-nilai kebenaran dan kebersamaan sebagai kelompok besar spesies agung yang bernama manusia. Mengapa? Karena: Kebenaran, sesungguhnya ada.  Kebersamaan, adalah mutlak adanya. Dan itu semua harus diperjuangkan secara elegan dalam setiap momen-momen hidup tiap-tiap manusia.  

Alat ukur yang selama ini disematkan kepada sejarah hidup dan kehidupan tiap manusia yang berhasil (dibaca: sukses) adalah kepemilikan (ikatan terhadap) objek benda dan keberhasilan mengangkat derajat hidup dirinya (self glory) dalam suatu pranata sosial.  

Ini sah saja apabila pada akhirnya keberhasilan ini didapati pada setiap orang dengan caranya masing-masing, yang sekali lagi tanpa secuil pun dalam proses dan tujuannya merenggut hak pihak lain. Inilah kebenaran individu yang diharapkan terakumulasi menjadi kemanfaatan bersama, tanpa ada kecualinya.   

Memang tidak mungkin dipungkiri bahwa ketimpangan, perbedaan, dan situasi-kondisi “tidak sama” adalah suatu keniscayaan. Namun usaha-usaha untuk menjadikan hal itu menjadi “adil”, klop dengan “rasa” kemanusian setiap manusia adalah merupakan wujud paling sederhana sekaligus paling rumit dari keadilan itu sendiri.

Melakukan usaha-usaha inilah yang disebut bermartabat. Usaha yang menghindari (pada akhirnya) terjebak kepada kesimpangsiuran posisi antara manusia dengan manusia lainnya maupun manusia dengan objek benda yang dimilikinya, yang saat ini, tanpa disadari, mengalami bertukar posisi menjadi manusia sebagai objek (dibaca: budak) dari apa yang telah dimilikinya dan menjadi budak ketakutan atas manusia lainnya.   

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s