Monrovia VS Jakarta

 180px-liberiawomen1910.jpg 

Anak Jakarta mengalahkan Anak Monrovia. Kesebelasan Liberia ditekuk kesebelasan Indonesia. 2 gol berbanding 1 gol.  

Malam minggu kemarin, 30 Juni 2007, ketika saya sedang membeli rokok di lapak pinggir jalan, sorak sorai warga memancing saya menengok lebih ke samping lapak.

Ooo..rupanya Ponaryo berhasil menyarangkan bola ke gawang Liberia. Indonesia menang. 

Tumben..! 

Jauh dari hingar bingar sepakbola, Liberia memiliki sejarah kemanusiaan yang panjang. Dapat saya katakan sebagai “Drama Tragis di Peninsula Barat Afrika”. 

Datang sebagai orang merdeka. Dua abad yang lampau, para lepasan budak dari Amerika dibuatkan sebuah koloni kebebasan. Satu hal yang menarik adalah Liberia didirikan pertama kali oleh sebuah lembaga swasta: American Colonization Society (ACS) pada tahun 1821-mungkin hampir mirip dengan Batavia yang awalnya dikelola oleh VOC, sebuah lembaga swasta Belanda-, namun bedanya Liberia dalam level sebuah negeri, bukan sekadar kota.   

Selepas perang revolusi berkecamuk di Amerika, Orang-orang hitam yang bebas dari perbudakan dianggap berpotensi menimbulkan masalah baru. Thomas Jefferson mencetuskan adanya relokasi bagi “orang bebas baru” ini. Maka dibentuklah The Society for the Colonization of Free People of Color of America. Berbondong-bondong dikirimkan ke semenanjung barat Afrika. Dikelola oleh ACS, coloni baru ini terus berkembang walau tersendat-sendat untuk menjadi sebuah negeri mandiri.   

Rupanya kemerdekaan tidak serta merta mereka dapatkan. Sebuah kemerdekaan baru mereka dapatkan pada 26 July 1847. namun jauh dari hakikat kemerdekaan, warga Liberia masih menjadi korban pertikaian hingga abad selanjutnya.

 1980, Seorang Sersan Kepala, Samuel Kanyon Doe berhasil menikam presiden Liberia di kediamannya. Inilah “Coup d’etat” yang membawa sengsara. Persaingan antara Uni Soviet dengan Amerika waktu itu serta kepentingan Amerika terhadap “Musuh Afrika-nya” yakni Libya, menjadikan Liberia semata-mata batu loncatan spy CIA untuk nongkrong dengan leluasa. Makanya kita jadi paham mengapa bendera Liberia mirip dengan bendera USA, yang bedanya hanya pada jumlah bintang yang cuma sebiji.  

Perang sipil tetap berkecamuk, tahun 1989 dan 1999 Liberia dilanda perang jenis ini. Akibatnya kemiskinan, perbudakan “gaya baru” tetap melekat di negeri ini. 

Untung ada Geoge Weah. Untung ada sepak bola yang setidaknya menjadikan rakyat Liberia merdeka. Walau hanya seukuran lapangan bola.

(Mas Kopdang, Pojok Monas Pas, 2 Juli 2007)

Sumber untuk memperkaya pengetahuan Anda tentang Liberia: wikipedia:

  

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s