Kenapa Pejabat Jangan Korupsi ?

Ingat Ponco dan Ali Mazi? Dua sejoli yang bebas dari hukuman atas perpanjangan HGB dan HPL (Hak Pengelolaan Lahan) yang dikuasai Sekretariat Negara. Bukankah mereka bebas? Lalu pejabat Kepala Kantor Wilayah BPN (Badan Pertanahan Nasional) bagaimana nasibnya? Ia kena hukuman.  

Dari contoh di atas,  pejabat negara rentan untuk dipersalahkan, walaupun niat dan otak korupsi berasal dari pengusaha dan pihak lain. Karena apa? Kekuasaan ada padanya. Power tends to corrupt. 

Saya sedang tidak bicara Korupsi versi undang-undang. Bukan pula versi negara ini. Hanya sekadar versi kopidangdut. 

Korupsi sejatinya menutup rapat-rapat hak manusia lainnya. Korupsi dalam artian luas dapat mengakibatkan merenggut hak orang lain. Kepala sekolah yang menerima satu murid bodoh namun kaya, menutup satu peluang anak miskin namun pandai. Bila anak miskin ini tidak bersekolah, maka lingkaran setan kemiskinan akan terus berlanjut. Indonesia akan dipenuhi orang kaya yang bodoh dan memiskinkan dan orang miskin yang pandai namun terpinggirkan. Idealnya? Semua rakyat adalah kaya. Yang kaya tetap kaya dan yang miskin menjadi kaya. Adil kan? 

*** 

Dalam Islam, ada sebuah hadits (?-perlu konfirmasi dari yang lebih jago-nih..) : 

“Bekerjalah untuk urusan duniamu, seakan-akan Engkau akan hidup selamanya, dan beribadahlah di jalan Tuhan-mu seakan-akan Engkau kembali (meninggal-red) esok hari.”

Banyak yang mengartikan bahwa hadits ini menekankan agar manusia bekerja giat dan beribadah dengan sungguh-sungguh. Cak Nun justru meraguka hadits ini, karena seakan-akan memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat. Menurutnya:  

“Islam itu tidak sekuler. Tidak ada pemisahan urusan dunia dan akhirat. Semuanya berimbang.” 

Namun saya lebih cenderung meyakini pemahaman tersendiri yang terinspirasi oleh sahabat saya semenjak kuliah di Jogja, Janu –sekarang bermukim di Malang-, yang menyatakan bahwasanya arti kalimat itu adalah : 

Bekerja lah, namun pastikan setiap olah rasa, olah pikir dan olah laku kita benar-benar halal dan baik. Bekerja sesuai amanah dan berniat dalam hati bahwa pekerjaan itu adalah sebuah ibadah. Karena ajal datang menjemput, kita takkan tahu pastinya. Bekerjalah tanpa ada yang teraniaya. Apabila hari ini kita tidak mendapatkan rizki, sabar saja lah. Esok kita masih dapat bekerja lagi dan mencari rizki itu. Bila esok kita hanya sedikit mendapatkan rizki, bersabarlah, karena kita meyakini kita masih punya waktu esok hari.. Kuncinya: halal dan sabar. 

*** 

Pejabat, bekerja sebagai pembawa amanah. Diberikan kekuasaan berdasarkan kontrak sosial, untuk mengurusi rupa-rupa urusan masyarakat. Berbagai kewenangan diberikan. Fasilitas boleh digunakan. Namun seluruhnya adalah dalam rangka mengurusi kepentingan masyarakat. Lalu apa jadinya bila “orang kepercayaan yang dimintakan mengurusi segala urusan kita” justru mencuri hak dan menyusahkan gerak-hidup pemberi amanah? Itu lah korupsi. Pengkhianatan moral skala besar yang sulit termaafkan. Berkhianat. Tak dapat dipercaya.

Apakah dia pengkhianat negara? Bukan itu saja. Pengkhianat bangsa? Belum cukup. Korupsi, adalah penghianatan untuk diri sendiri. Juga pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Upaya untuk meracuni hati, akal dan pikiran dirinya dan orang-orang yang memberi amanah kepadanya.

Sebuah euthanasia peradaban sebuah bangsa, yang bosan untuk menjaga martabat kemanusiaannya itu sendiri.   

Pojok Monas, 18 Juli 2007

tulisan terkait [bonus dari Mas Kopdang]

+ Hidup bermartabat 

1 Comment

  1. tulisan na berat euy.. btw ini beneran postingnya dari pojokan monas? apa ga gerah tadi boz? kan cuaca lagi panas nih😉 (* comment ga penting *)

    :
    ~Mas Kopdang~: Yap, tetap dari sudut! Betul, gerah banget euy..cuma mau gimana lagi? Haruskah kulepaskan kemeja, celana dan dasiii..agar tiada lagi ada kata “duh, geraaahh..” du..du..du..du..dudu..😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s