Cinta Negara Apakah sejalan dengan Cinta Tanah Air?

INDONESIA 62 Tahun

 images-garuda.jpgimagesoma.jpgtopeng.jpgondel.jpgberas.jpgjktnite.jpgjuragan-utang.jpgwayang.jpgcak-nun.jpg180px-liberiawomen1910.jpg

smanda.jpg

bendera.jpg  

Salam hormat,
Semoga hidup ini selalu diwarnai kebahagiaan…

“Untuk menggambarkan Nasionalisme= Cinta Negara” dan “Patriotisme=Cinta tanah air”

Dalam sebuah wawancara dengan harian Nasional Swedia di Stockholm yang disadur oleh TEMPO beberapa tahun yang lampau, Hasan Tiro berujar:

“Jangan tanyakan rakyat Aceh mengenai Nasionalisme, tapi kami akan berteriak lantang akan rasa Patriotisme kami!”

Begitulah jalan pikiran Hasan Tiro, yang menasbihkan dirinya mewakili suara keseluruhan rakyat Aceh.

Lalu masih ingatkah ketika Mel Gibson bermain habis-habisan dalam film The Patriot. Bagaimana seorang Peranakan Skotlandia yang telah menjadi anak Amerika berjuang habis-habisan untuk Amerikanya, walaupun pasukan Bung Mel terdiri dari Imigran, peranakan berbagai bangsa…
Patut ditanyakan apakah Mel Gibson memiliki Rasa Nasionalisme? Nasionalisme manakah, Skotlandia atau Amerika? Namun yang pasti mereka adalah para patriot (versi Amerika)…

Begitu pula- lah sejarah yang mengalir di bumi nusantara ini…

Untuk siapakah Diponegoro Berperang melawan Belanda? untuk sebuah nama Indonesia? ataukah Untuk tanah leluhur keluarganya…

Untuk siapakah Pangeran Antasari berjuang? Untuk sebuah kata ‘Indonesia’ ataukah kerajaan Banjarnya…?Patriotisme tiada lain adalah nurani yang terpanggil akan identitas akan tanah tumpah darahnya, akan ikatan manusia terhadap alamnya, hajad hidupnya…Nasionalisme lahir dari sebuah kesadaran politik yang terikat lewat amanat kedaulatan rakyat yang diberikan kepada Negara. Sebuah kontrak sosial antara rakyat dan negaranya.

Bagaimana dengan yang satu ini…

”Seorang anak bernama Umet, lahir di Ukraina dari Bapak seorang Pengusaha Minyak dari Indonesia dan Ibu seorang peranakan Arab-Belanda dan Padang. Sekolah TK di Ukraina, SMP di Rusia, dan SMA di Polandia. Lalu dia kuliah di Universitas Praha. Menikah di Yunani dengan seorang Peranakan Itali-Turki. Dan sekarang Umet tinggal di Cyprus. Umet masih WNI, namun belum pernah menginjakkan kakinya di Indonesia bahkan mandi dengan air sumur Indonesia pun belum..Kemudian pada suatu hari dia ditanya apa itu Pancasila? Coba nyanyikan Indonesia Raya? Coba jelaskan amandemen apa saja yang ada di UUD’45…?

Umet tak bisa menjawab, tak bisa menelaah bahkan mengerti apa itu Pancasila. Umet paham lagu ’tubthumping’ Chumbawamba, tapi sama sekali belum tahu itu Indonesia Raya apalagi UUD’45.


Tetapi dia sakit hati ketika teman kuliahnya bilang Indonesia negara melarat, Indonesia negara para Koruptor, apalagi mereka yang meludahi bendera merah putih di Kedubes-nya di Praha…Ketika dia ditanya apakah kamu memiliki Nasionalisme? Apakah kamu memiliki Patriotisme? Umet hanya bisa bilang..”Saya memiliki Istri dan Anak 4. Masalah Nasionalisme atau bukan…Patriotisme atau bukan,, entahlah..! Begitu banyak Umet yang lain di belahan dunia sana..

Hormat Takzim,
~kopidangdut~
Selasa, 19 April 2005
 

*** Diposting ulang untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik  Indonesia ke-62, 17 Agustus 2007

Tulisan terkait: + [Puisi-Puisi Kopidangdut]

+ [Bendera]

+ [Derita]

   

5 Comments

  1. cinta dan patriotik
    bila dipadukan… apa yang terjadi?
    bila dipisahkan… apa yang terjadi?
    bagaimana bila negara ini hidup tanpa cinta, bisakah?
    bagaimana pejuang patriotik tanpa ada yang mesti di bela, cinta kah?

    ^ ^

  2. mengenang jasa para pahlawan merupakan keharusan bagi kita sekarang. tak perlu terlalu diperdebatkan apakah sang pahlawan saat berperang dulu membela tanah airnya, atau sebatas ruang lingkup kecil: daerahnya sendiri. yang jelas karena perjuangan merekalah kita bisa menikmati indahnya kemerdekaan.
    kita, yang sudah merdeka, hanya perlu sedikit tahu diri. kemerdekaan yang sekarang kita nikmati ini adalah hasil dari keringat, darah, air mata dan nyawa orang-orang tua kita dulu. tak elok rasanya kalau sekadar mengenang jasa mereka saja kita tidak mau.
    sekarag mari sama-sama mengisi kemerdekaan ini. caranya? rupa-rupa. berprestasi dibidang yang kita minati, misalnya. atau, hal-hal yang paling kecil. contohnya, tidak membuang sampah sembarangan. yang penting landasannya “cinta tanah air”.
    kalau itu masih juga tidak mau, ya, dengan menjadi warga negara yang baik sudah lebih dari cukup.
    cinta tanah air adalah bagian dari iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s