Temasek Kopidangdut

hot 

Ada yang tau Temasek?  

Asal katanya sih diambil dari “Negeri Tumasik”. Perusahaan milik negara Singgapur yang menjadi pemilik ultimate Telkomsel maupun Indosat. Juga yang dulu membeli saham mayoritas SinCorp-nya Thailand, yang membikin PM Thaksin mundur karena dituduh menjual perusahaan yang dapat membahayakan kepentingan Thailand terkait kerahasiaan negara? 

Kalau belum tau juga ya ndak papa..toh gak semua hal harus kita ketahui..😉 Konon katanya memiliki dana keloaan sebesar 108 Milyar Dolar Amerika. Didirikan sejak tahun 1974. 

Lalu apakah sampean ngerti Khazanah Nasional BHD? Ini miliknya Negara Malaysia. Yang memiliki Bank Niaga dan satu bank lainnya yang saya lupa. Dana kelolaannya sebesar 17, 9 Milyar Dollar Amerika. Didirikan tahun 1993. 

Mas, mau ngomongin apa to? 

Hehe. Sebetulnya saya cuma mau bilang bahwa sekarang ini, kecenderungan dunia mengarah kepada pendirian sebuah korporasi besar yang dimiliki negara untuk digunakan sebagai perusahaan yang menginvestasikan sebagian asset negara dalam pembelian saham-saham perusahaan potensial di negara lain. Contohnya ya yang saya sampeikan tadi. 

Indonesia bukannya punya Mas… Pertamina, Mandiri dan lain-lain itu? 

Oh beda. Itu namanya BUMN yang isinya mengusahakan berbagai usaha demi penyelenggaraan negara. Daya jelajahnya pun cuma bermain lokal deh. 

Beda? Kayaknya itu kan bisa dibuat kaya Temaasek dan Khazanah juga? 

Tetap beda, Om…soalnya Temasek dan Khazanah, dalam bisnis internasional yang semakin menunjukkan taring kapitalisme global ini, dinamakan dengan SWF alias Sovereign Wealth Fund.Boso Indonesya ne’ opo yo..? Ya begitulah… 

Lalu? 

Nah intinya cadangan devisa kita sebagian dibuat untuk mendirikan sebuah lembaga atau setidaknya disisihkan untuk dikelola dalam investasi langsung di berbagai belahan dunia. Bisa dengan membeli perusahaan asing atau pengelolaan portofolio dalam bentuk surat-surat berharga. 

Kalau rugi mas? 

Lah yaitu risikonya. Bukankah High Risk High Return? 

Jadi Sampean intinya mau kasih tau bahwa Indonesia mau buat begitu? 

Ya nggak juga. Kalau Indonesia buat, kudu stabil dan kuat dulu masalah legal infrastrture-nya..juga masalah visi yang sama. Kalau gak, bisa-bisa perusahaan negara kita, ambil contoh namanya : Nusantara, bisa dijadiin kue tak bertuan yang digerogoti oleh banyak rezim yang berkuasa. Padahal sesungguhnya digunakan sebagai katalisator penambahan cadangan devisa kita.  

Repot donk ngelolanya..emang orang kita mampu? Ntar dikorup lagi.. 

Nah, kita bisa serahkan pengelolaannya pada lembaga pengelola asset yang sudah ada semisal Merril Lynch, Citigrop, Standard Chartered, Morgan Stanley dan lain-lainnya.. Mereka profesional kok.. 

Apa bukannya mereka barusan rugi dan jeblok gara-gara subprime mortgage? Ntar kita kena juga kayak gitu..  

Iya sih, itu kan pengelolaan yang kemarin-kemarin..ya kita usahakan agar menejer investasi kita jangan terlalu nempatin telur pada keranjang yang berisiko tinggi.. 

Oh…gitu? sorry ya Mas….gak ngerti juga.. 

Ya sudah nda papa. Toh gak semua hal di dunia ini perlu kita ngerti dan pahami. Menurut sampean semua, kita (Indonesia) perlu gak bikin perusaan kayak Temasek itu..?

19 Comments

  1. @ paramarta
    sip lah..!

    @realylife
    Ane’ demen nih sama Om satu ini..! optimis banget! padahal ane’ sendiri gak seoptimis inih..😆

    @papabonbin
    bukan yang punya, kaleee..tapi yang ngelola..
    karena pemiliknya ya Negara Singgapur Om..
    SWF biasanya diambil dari sebagian cadev mereka…😉

  2. Permios, mw ikut sharing…
    Sblumnya mhn maaf kl kepanjangan..

    Kmrn sya ada tugas kuliah studi kasus Temasek vs SPP (Bank Indonesia). Benernya bukan vs, tapi lebih ke analisa gmn reaksi Temasek stlh kena dampak peraturan tsb.

    Kembali ke masalah Temasek. Stlh baca sejarah persh, memang awal pendirian & perjalanan, mereka sudah kokoh. Awalnya justru mereka beresin BUMN & memaksimalkan profit serta pelayanan ke masyarakat. Nah, sejak kena imbas perekonomian global (karena Singapura sbg negara strategis u/lokasi perdagangan, hanya bergantung pd sektor tsb), akhirnya muncul ide untuk mendiversifikasi resiko tsb.

    Mulailah Temasek tanam pohon duit di berbagai dunia. Hasilnya WOWkarena tidak hanya di Asia, tapi juga di Afrika & Timur Tengah. Dlm manajemen resiko, bener2 konsep investasi mereka gunakan dg baik.

    Setau saya, mereka tidak menggunakan perusahaan pengelola asset pada seluruh portfolio mereka. Walaupun jasa mereka bisa digunakan untuk perantara proses pembelian sejumlah saham.

    Strategi mereka, mis: ABC, mereka beli saham mayoritas dari penawaran (tender) saat itu trus taro orang2 yg kompeten di bidang strategi & keuangan (terutama di direksi). Walaupun scr kasatmata mereka tdk mjd pemegang saham mayoritas, tapi pada umumnya ketika RUPS, perwakilan mereka-lah yg aktif mengarahkan jalannya rapat sehingga perencanaan strategi & keuangan mereka dilaksanakan di perusahaan tersebut. And of course, mereka pelihara baik2 pohon duit tsb.

    Nah, kalo bicara resiko, resiko mereka gk banyak, karena scr komposisi saham total, mereka bukan pemegang mayoritas, kecuali untuk perusahaan yang mereka sudah sangat yakin & faham ttg cara bisnis perusahaan. It means, jika perusahaan merugi krn saham mereka gk terlalu banyak, tentu tdk terlalu mjd masalah.

    Hmm, so complicated…
    It means hrs punya orang2 yg sangat ahli kelas internasional atw minimal lebih ahli dari perusahaan yang akan dibeli.

    Kl dperhatikan, semua berhub dg bidang ilmu manajemen resiko, strategi & keuangan. Dan kita udh punya org2 yg experd d bidang tsb. Sangat menarik sekali jika Indonesia bisa mendirikan perusahaan semacam ini, hanya masalahnya adalah pada bentuk perusahaan.

    BUMN, hmm, jangan, deh… Krn kepemilikan pemerintah dekat dg “politik”, berbahaya krn bs jd sapi perah kepentingan golongan tt. Tw,kan kl pemerintah kita msh dekat dg budaya korupsi.

    Better, kepemilikan mrp gabungan dr komponen pemerintah, swasta/profesional dan akademisi. Jd ketiga komponen tsb akan saling mengevaluasi shg akan terjadi perbaikan terus menerus.

    Ok, deh, sekian analisanya…
    Ada tambahan/perbaikan?
    Monggo…

    Mas Kopdang,
    Tx a lut udh boleh ikut sharing🙂

  3. Sebenernya kementrian BUMN itu seharusnya merupakan cikal bakal perusahaan investment holding seperti Temasek dan Khazanah, dan wacana ke arah sana sudah ada. Nantinya seharusnya peranan (dan campur tangan) pemerintah terhadap BUMN akan semakin kecil.

    Dan bahkan semoga holding ini bisa bersaing dengan dua holding tersebut untuk ‘mencaplok’ perusahaan negara orang. Suka atau tidak, pencaplokan seperti ini memberikan citra kekuatan finansial ekonomi suatu negara🙂

  4. Sorry..Morrry..Don Worrrrri
    Ane’ sedang liburan seminggu..sehingga Kopidangdut biar bergoyang sesukanya dan belum ada tambahan goyangan dari Mas Kopdang semingguan ini..

    Maaf ye..
    Tarik Manggg!😀

  5. Lagi sibuk ya, Boz..🙂

    Hasil diskusi kelas ttg Temasek, Indonesia secara knowledge bisa bikin perusahaan seperti Temasek. Yang belum bisa diyakinkan itu kl bentuknya masih seperti BUMN apakah profit akan dapat dinikmati bangsa atau hanya mengalir ke kantong oknum atw golongan ttt. Hiks, so sad!!

    Apa swasta harus mengambil peran pemerintah, yak?! Atw menciptakan perusahaan sejenis sebagai tandingan agar kinerja aparat pemerintah dapat menjadi lebih terukur??

    Finally, kelas sepakat menyetujui bahwa bangsa ini dapat membangun perusahaan sekelas Temasek, hanya…
    semoga setelah keberhasilan itu tercapai, hasilnya pun dapat dinikmati seluruh lapisan rakyat Indonesia.

    Dan ide ttg gabungan komponen pemerintah, swasta & akademik itu bisa menjadi rekomendasi jitu, agar kinerja pemerintah dapat dievaluasi dan meningkat demi kepentingan rakyat.

    Hanya… KAPAN, ya??

    Btw, menurut si boz gimana…
    Mhn responnya, boz..

  6. @ P Amir..
    Yup2, setuj bgt dg pernyataan “pencaplokan seperti ini memberikan citra kekuatan finansial ekonomi suatu negara”.

    Karena itu di kelas strategic management kmrn, dibahas mw gk mw perusahaan semacam Temasek akan menjadi bentuk penjajajahan modern abad ini.

    Gmn gk Indosat dicaplok dg mudahnya hanya karena pemerintah defisit APBN. Tdk hanya dr masalah harga pembelian yg gk sesuai tp nilai pentingnya data “informasi & komunikasi” yg dapat mereka ambil dg mudahnya, yg bs disamakan dengan menjual “kedaulatan bangsa”.

    Dan posisi KPPU sekarang juga dilematis, bisa dianggap merusak iklim investasi. Tp tindakan ini penting, untuk menjaga kepentingan bangsa di masa yad.

    Scr garis besar, kelas juga membicarakan pentingnya penggunaan strategi pada sebuah negara. Sebenarnya rancangan Eyang dengan PELITA itu sudah TEPAT!! Karena untuk memenangkan persaingan di era globalisasi & mempertahankan kedaulatan serta kepentingan bangsa, sangat dibutuhkan sebuah perencanaan strategi yang baik meliputi IPOLEKSOSBUDHANKAM.

    Semoga bangsa ini sedang & akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang visionaris & memperjuangkan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi/golongannya.
    AMIEN

  7. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 5 Juli 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

  8. @ qinimain zain..

    Pak, kalau memang mau koment banyak, mbok ya email sajah..
    nanti tak ringkes seperlunya..😉

  9. @ dimasu
    PT PPA bukanlah SWF seperti Temasek.
    PPA itu perpanjangan nafas dari BPPN, namun untungnya kelolaan asetnya bukanlah yang berperkara.

    SWF itu fokus utamanya cari untung dan investasi disegala bidang-terutama di negara asing..nah, kalo PPA tugas utamanya “biar gak buntung…”😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s