Pak SBY, Terima kasih Berkenan Mampir…..

 

 

 

 

Bapak SBY,

 

Silahkan Bapak duduk di sini. Luangkan waktu sejenak bersama saya di beranda rumah saya yang mungil dan masih ngontrak ini.

 

Bapak boleh tengok ke belakang, di ujung gang sana, selokan mampet sampah di mana-mana dan ini masih di Jakarta. Tak jauh dari Istana maupun Cikeas.

 

Bapak SBY yang gagah -perwira,

Ijinkan saya kembali lagi memberikan komentar-komentar kepada Bapak sebagai perwujudan sederhana saya dan betapa kita sama-sama mencintai negeri ini Pak. Saya yakin untuk hal ini kita sepakat. Bapak dan saya memiliki ikatan penuh jiwa raga kepada tanah air dan bangsa.

 

Bapak SBY yang bijaksana,

Bapak adalah pemimpin kami. Maka apapun yang Bapak putuskan akan mempengaruhi kehidupan kami saat ini dan yang akan datang. Masa lalu biar lah berlalu. Tugas saya dan Bapak adalah tentunya memeberikan masa lalu yang baik bagi anak-cucu kita. Masih sepakat ya, Pak..?

 

Bapak SBY,

Ilmu komunikasi yang saya pahami mengenal berbicara dan mendengar sebagai sebuah jalinan interaksi antar manusia secara langsung. Namun mungkin ada yang terlupa bahwa satu sikap komunikasi yang penting lainnya adalah DIAM.

 

Bangsa Timur Tengah menganggap bahwa diam berarti setuju. Bilamana ada seorang pemuda datang kepada seorang bapak untuk melamar, dan sang anak wanita ketika ditanya Bapaknya diam saja, maka itu bagi mereka tanda sebuah persetujuan. Diam berarti setuju.

 

Sedangkan Bapak orang Indonesia dari suku Jawa. Apakah diam juga berarti setuju Pak? Ya. Tentu saja tetap berlaku, namun dalam khasanah komunikasi wong Jowo bukankah beban emosi amarah yang sangat memuncak melahirkan sebuah sikap: Diam (juga)…?

 

Maka Bapak SBY,

Syukuri saja Pak, bilamana BLT banyak ditolak aparat desa untuk diurusi. Hayati saja bila Ibu-ibu sudah turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Renungkan bagaimana mahasiswa saat ini menyusun kekuatan dan strategi untuk terus mempertanyakan kenaikan BBM. Semakin banyak yang berbicara, semakin ringan beban Bapak.

 

Karena apa?

 

Di antara yang tidak beraksi turun ke jalan, bukan berarti semuanya setuju dengan keputusan Bapak.  Diam mereka bisa jadi adalah sikap skeptis yang mendalam. Ketidaksetujuan yang berlipat-lipat. Percuma diutarakan. Untuk apa dikatakan. Biarkan saja.

Apakah itu sesuatu yang ingin Bapak kehendaki. Rakyat yang sudah tak memiliki gairah komunikasi dengan Pemimpinnya?

 

Jangan karena Bapak dikatakan peragu oleh sebagian orang, termasuk saya, lalu Bapak menjadi gegabah menaikkan harga BBM. Jangan karena adik-adik mahasiswa berdemo lantas dikatakan ada pihak yang mencoba menggoyang Bapak.

 

Pahamilah, bahwa kami adalah rakyat yang hendak menyuarakan sesuatu. Apa pun itu. Kami bersuara bukan sekadar protes. Mungkin lain kali kami akan bersuara untuk memuji Bapak, menyanjung Bapak bilamana yang Bapak lakukan memang sesuai dengan amanah kami, doa kami dan harapan kami selama ini.

 

Berikanlah kami kesempatan di esok hari untuk melakukan sanjungan kepada Bapak.

 

 

Bapak SBY pemimpin kami,

Juga bukan dengan cara membuka istana untuk dijadikan ajang plesiran bagi kami lantas Bapak dapat tidur nyenyak.  Selanjutnya mendapatkan citra baik yang seakan-akan Bapak adalah Presiden yang merakyat. Presiden yang terbuka. Bukan, Bapak…. Bukan sekadar itu yang kami harapkan.

 

Saya, Kopdang,..-Bambang Kopdang Diredjono, meminta Bapak sudi main ke rumah dan beranjang sana hanyalah sekadar menyampaikan pendapat kami apa adanya.

 

Bacalah…

Cobalah Bapak membaca “Blue Energy” Budiarto Shambazy pagi ini di Kompas. Juga tulisan Bapak Sunardi Rinakit tentang “Embel-embel dan Pemimpin” seperti apa yang kami harapkan.

 

Kami siap di belakang Bapak untuk bersama-sama menanggulangi berbagai macam masalah yang mendera. Bapak bukanlah lawan kami. Dan kami bukanlah lawan Bapak yang harus dihadapi.

 

Bapak SBY,

Ingat lah pada cita-cita Bapak semasa kecil untuk memberikan yang terbaik bagi Tumpah darah negeri ini. Nusantara yang elok berseri. Manusia Indonesia yang baik hati. Apakah Bapak tega memberikan beban di pundak kami lagi?

 

Pemimpin Indonesia masa kini tak perlu bertaruh nyawa layaknya Horta di negara tetangga. Pemimpin bangsa ini hanya butuh berani, bijaksana dan tahu diri.

 

Masalah kemungkinan aneksasi, penyerangan negera asing..biar hal ini kami yang tangani.

Manusia Indonesia masih memuliakan harga diri!

Oh ya, Pak SBY..silahkan diminum teh nya..

:D 

 

+ foto dari situs resmi Bapak SBY

14 Comments

  1. Saya pikir tak ada hal dan ihwal istimewa bila Istana dibuka untuk umum…dan kita, para nestapa, ndakik-ndakik merogoh kocek untuk beranjangsana..

    Yang istimewa adalah, Ia yang (andai berkenan) justru berjalan menghampiri kami..
    mengetuk pintu rumah kardus kami…
    duduk bersila di atas gulungan tikar tergelar..
    mereguk secangkir teh buatan istri kami…
    dan numpang kebelakang untuk barang sebentar numpang sholat di ruang tamu sekaligus mushola kami…

    Karena pemimpin bukan dilayani dan didatangi..
    tapi melayani dan mendatangi…

  2. Hahaha. Ini sms dr SBY, “Sy akan penuhi ajakan minum teh itu. Tapi tak untuk dialog, Kecuali jika dialog itu berarti mau ngerti dan nggak ngeyel atas apa yg sy lakukan”.

  3. adek2 ini koq ngga paham2 ya..saya ini kan waklnya…yang mimpin itu ya temen kolega saya yang modalin sya kampanye dulu itu lho dek.. jangan bilang2 ya sst..pak yk namanyua..gicu lohh

  4. ass.

    Surat Cinta buat SBY, buat JK dibikin juga dong maskopdang….karena keputusan ekonomi banyak sama JK…….

    itu aja..sampaikan salam saya ama SBY ya jika ia memang jadi bertandang kerumah mas Kopdang……

  5. Bapak SBY,
    SBY : “what’s up bro?”

    Silahkan Bapak duduk di sini. Luangkan waktu sejenak bersama saya di beranda rumah saya yang mungil dan masih ngontrak ini.

    SBY : “Oh ya mas Kopdang, gak apa apa. Rumah anda cukup nyaman. Inilah yang saya inginkan dari kita semua.. ‘keikhlasan dalam kesederhanaan’..”
    (sambil melirik kursi yang paling empuk yang tersedia di beranda rumah mas Kopdang)

    Bapak boleh tengok ke belakang, di ujung gang sana, selokan mampet sampah di mana-mana dan ini masih di Jakarta. Tak jauh dari Istana maupun Cikeas.

    SBY : “betuul mas Kopdang. Hicks..huu..” (menangis sesunggukan). “Saya tahu saya baik, tapi maaf..ehm.. agak sedikit ‘letoy’.
    RAKYATKU, AKU MENCINTAIMU!”
    (serunya kepada rakyat dengan mimik muka serius, masih dari atas mobil alphard KTT-nya)

    Bapak SBY yang gagah -perwira,

    SBY : “ya adikku.. ma’af saya lebih suka dipanggil ‘Paria’ daripada ‘Perwira’, lebih efisien gitu loh..!”

    Ijinkan saya kembali lagi memberikan komentar-komentar kepada Bapak sebagai perwujudan sederhana saya dan betapa kita sama-sama mencintai negeri ini Pak. Saya yakin untuk hal ini kita sepakat. Bapak dan saya memiliki ikatan penuh jiwa raga kepada tanah air dan bangsa.

    SBY : “Nah itu dia! Kita cinta negeri ini. Saya, anda, begitu juga.. condoleezza rice. Kita sangat membutuhkan mrs. RICE (nasi) itu saat ini.”
    (seakan teringat sesuatu, mengutak-ngatik Hp, mencari nomor telpon seseorang…. gelagat seperti orang yang lagi mau ngutang)

    Bapak SBY yang bijaksana,

    SBY : “lagi – lagi betul adinda. Paria belum tentu dungu, brahmana belum tentu bijaksana. Deep in my heart, i prefer the first one, but the truth is, i’m on that last clasification.”

    Bapak adalah pemimpin kami. Maka apapun yang Bapak putuskan akan mempengaruhi kehidupan kami saat ini dan yang akan datang. Masa lalu biar lah berlalu. Tugas saya dan Bapak adalah tentunya memeberikan masa lalu yang baik bagi anak-cucu kita. Masih sepakat ya, Pak..?

    SBY : ………….“maksud loe?”
    (agak kurang fokus sama pertanyaan mas Kopdang yang terakhir. Teringat Hp baru yang dipegangnya belum dimasukkan no telpon mrs. Rice. Gundah.. sedikit terbatuk-batuk kecil)

    Bapak SBY,
    Ilmu komunikasi yang saya pahami mengenal berbicara dan mendengar sebagai sebuah jalinan interaksi antar manusia secara langsung. Namun mungkin ada yang terlupa bahwa satu sikap komunikasi yang penting lainnya adalah DIAM.

    SBY : “ya..ya..tluss?”

    Bangsa Timur Tengah menganggap bahwa diam berarti setuju. Bilamana ada seorang pemuda datang kepada seorang bapak untuk melamar, dan sang anak wanita ketika ditanya Bapaknya diam saja, maka itu bagi mereka tanda sebuah persetujuan. Diam berarti setuju.

    SBY : “ehm..ehm” (batuk-batuk kecilnya kumat lagi). Ya, orang2 arab itu konco kita. Kecuali palestine. Disuruh diem ga mau. Dasar bandel!”

    Sedangkan Bapak orang Indonesia dari suku Jawa. Apakah diam juga berarti setuju Pak? Ya. Tentu saja tetap berlaku, namun dalam khasanah komunikasi wong Jowo bukankah beban emosi amarah yang sangat memuncak melahirkan sebuah sikap: Diam (juga)…?

    SBY :
    “aman tentrem loh jinawi (jangan pada ribut and protes, meneng wae).
    loh jinawi –duluan- aman tentrem –kemudian- (ribut yok!)”.
    Diam seribu bahasa adalah perwujudan kesal yang memuncak.
    Berlatihlah untuk membiasakan dan mengikhlaskan filosofi tersebut”
    (setengah berbisik)

    Maka Bapak Paria,
    Syukuri saja Pak, bilamana BLT banyak ditolak aparat desa untuk diurusi. Hayati saja bila Ibu-ibu sudah turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Renungkan bagaimana mahasiswa saat ini menyusun kekuatan dan strategi untuk terus mempertanyakan kenaikan BBM. Semakin banyak yang berbicara, semakin ringan beban Bapak.

    SBY : “ah…ya. WOW!” (melonjak kegirangan) “Saya jadi ada ide bikin buku nih. Judulnya : Bodoh dan Membodohi – The harmony between Me and the People” (a successful dumb story-best seller)

    Karena apa?

    Di antara yang tidak beraksi turun ke jalan, bukan berarti semuanya setuju dengan keputusan Bapak. Diam mereka bisa jadi adalah sikap skeptis yang mendalam. Ketidaksetujuan yang berlipat-lipat. Percuma diutarakan. Untuk apa dikatakan. Biarkan saja.
    Apakah itu sesuatu yang ingin Bapak kehendaki. Rakyat yang sudah tak memiliki gairah komunikasi dengan Pemimpinnya?

    SBY : “Anda benar..! itu yang saya kehendaki.
    (sambil mulai menunjukkan gelagat aneh.. seperti terkantuk)

    Jangan karena Bapak dikatakan peragu oleh sebagian orang, termasuk saya, lalu Bapak menjadi gegabah menaikkan harga BBM. Jangan karena adik-adik mahasiswa berdemo lantas dikatakan ada pihak yang mencoba menggoyang Bapak.

    SBY : “zzzzzzzzzz……”
    (suwe tenan, turu ternyata…!)

    Pahamilah, bahwa kami adalah rakyat yang hendak menyuarakan sesuatu. Apa pun itu. Kami bersuara bukan sekadar protes. Mungkin lain kali kami akan bersuara untuk memuji Bapak, menyanjung Bapak bilamana yang Bapak lakukan memang sesuai dengan amanah kami, doa kami dan harapan kami selama ini.

    SBY : “zzzzz..grook…zzzz”
    (makin mantabh turune..)

    Berikanlah kami kesempatan di esok hari untuk melakukan sanjungan kepada Bapak.

    SBY : “NAH ITU DIA!”
    (terbangun mendengar kata2 sanjungan)

    Bapak SBY pemimpin kami,
    Juga bukan dengan cara membuka istana untuk dijadikan ajang plesiran bagi kami lantas Bapak dapat tidur nyenyak. Selanjutnya mendapatkan citra baik yang seakan-akan Bapak adalah Presiden yang merakyat. Presiden yang terbuka. Bukan, Bapak…. Bukan sekadar itu yang kami harapkan.

    Saya, Kopdang,..-Bambang Kopdang Diredjono, meminta Bapak sudi main ke rumah dan beranjang sana hanyalah sekadar menyampaikan pendapat kami apa adanya.

    (KOPDANG, KALO SBY JADI KERUMAH, AKU NITIP PROPOSAL YA, BUAT BIKIN NASKAH INI JADI PENTAS TEATER…  )

    Bacalah…
    (IQRA!)

    Cobalah Bapak membaca “Blue Energy” Budiarto Shambazy pagi ini di Kompas. Juga tulisan Bapak Sunardi Rinakit tentang “Embel-embel dan Pemimpin” seperti apa yang kami harapkan.

    SBY : “Qur’an aja bikin saya gak sadar dan takut. Apalagi Budiarto Shambazy Cs..”

    Kami siap di belakang Bapak untuk bersama-sama menanggulangi berbagai macam masalah yang mendera. Bapak bukanlah lawan kami. Dan kami bukanlah lawan Bapak yang harus dihadapi.

    SBY : (melihat sekeliling, takut terdengar orang) “ gini aja. Kalo pas ada masalah anda (rakyat) yang di depan gimana? Tapi ntar kalo proyek ngutang dah cair, jangan lupa cari saya di belakang untuk stempel dan teken”

    Bapak SBY,
    Ingat lah pada cita-cita Bapak semasa kecil untuk memberikan yang terbaik bagi Tumpah darah negeri ini. Nusantara yang elok berseri. Manusia Indonesia yang baik hati. Apakah Bapak tega memberikan beban di pundak kami lagi?

    SBY : “saya jadi teringat brother saya mas Haryo ‘Deplu’. Dulu dia ngulang Kewiraan ampe 3x, tetep gak pernah dapet A”

    Pemimpin Indonesia masa kini tak perlu bertaruh nyawa layaknya Horta di negara tetangga. Pemimpin bangsa ini hanya butuh berani, bijaksana dan tahu diri.

    SBY :
    (langsung naik ke atas meja dan berlagak layaknya Don Quixote sambil mengatakan)
    “keberanian yang bernyawa; kebijaksanaan yang bernyawa; dan ketahudirian yang bernyawa juga. Hilangnya nyawa demi ketiga hal ini? Apa hendak dikata, jika Itu bagian dari ‘bernyawa’ yang sejati itu.
    Semoga Izrail mengambilnya dengan lembut..
    Terima kasih, Insya Allah, doakan saya adikku”

    Masalah kemungkinan aneksasi, penyerangan negera asing..biar hal ini kami yang tangani.
    Manusia Indonesia masih memuliakan harga diri!

    SBY : (menimpali dengan logat sok KL-nya) “tak payahlah awak macam tuu.. I dah cube tanye negeri jiran tuu.. they said kite try-lah to reduce people burden. Nation means : Prosperity, unity, and justice. And it is a job for a Nation to take over that burden from the ‘shoulder’ of the people.

    Oh ya, Pak SBY..silahkan diminum teh nya..😀

    SBY : mathurnuwun. Enak tenaan ee.. 

  6. @ panglimapolem

    Thanks Panglima.. Rupanya Panglima diam-diam senantiasa mengintai RI-1 hingga mblusuk ke rumah saya..

    Komentar yang luar biasa!
    jangan lupa cukur jenggot..
    😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s