PERANAN MAHASISWA SEBAGAI INTELIGENSIA

KONSEP CENDEKIAWAN, KEKUASAAN, DAN POLITIK MASYARAKAT JAWA

Saya membuka jendela. Kulihat dunia. Jendela dunia. Prisma. Dengan judul besar “Cendekiawan dan Politik”. Terbitan LP3ES. Lalu saya tiba-tiba pusing. Terlelap. Bermimpi.

ZAAAAP…

Dalam mimpi saya bertemu perempuan cantik. Saya raih ia. ZAAAAP. Tiba-tiba menghilang..! Muncul asap putih. Dari baunya ini bukan asap djiesamsoe yang saya suka. Asap berangsur menghilang dan di hadapan hadir seseorang yang pernah saya kenal wajahnya. Mirip Gie. Ya! Gie yang saya lihat di film Riri Riza. Oh bukan! Ia kakak Gie. Soe Hok Djin. Arief Budiman..! Saya sapa ia.

Halo Bung Arief

Yap.

Boleh saya tanya-tanya Anda?

Yap.

Nama saya Kopdang. Bambang Kopdang Diredjono. Bung Arief, mahasiswa di seluruh Indonesia sekarang beraksi lagi. Mirip jaman Bung dahulu. Kondisi Indonesia sepertinya makin memprihatinkan. Bung sebagai mantan aktivis mengapa tak bersuara? Apa karena bukan lagi menjadi mahasiswa lantas Bung bungkam? Bukankah mahasiswa itu hanyalah identitas semu, sementara, namun moral yang disampaikan selalu sama. Mungkin serupa dengan Bung dahulu..

Yap

Yap-Yap..Yip-Yip..Perasaan Bung dari tadi cuma bilang Yap? Bung dahulu kan pernah menulis “Peranan Mahasiswa sebagai Inteligensia”.. Apa to maksudnya? Apakah mahasiswa disebut intelegensia dapat digolongkan sebagai cendekiawan? Apa sih cendekiawan ituh? Tolong jawab dengan gamblang. Mumpung ini cuma mimpi. Jangan takut! Densus 88 sedang fokus urusan blue energy. Polisi sibuk di jalanan. Bukan menangkap mahasiswa, tapi karena belum gajian, mereka sibuk mencari bukti pelanggaran. Tilang.

Hahaha..Bung Kopdang ada-ada saja. Ijinkan saya menjawab serius karena ini bukan masalah sepele. Boleh kah..?

Sip..! Silahkan. Oh ya, jangan panggil saya Bung. Panggil saja Kopdang. Kalau rada sungkan ya ditambahi embel-embel menjadi Mas Kopdang.

Sebelum bicara masalah mahasiswa apakah termasuk cendekiawan, mari kita kupas dulu apa itu cendekiawan. Biar Mantap..! Masalah cendekiawan sudah lama menjadi pokok diskusi masyarakat Barat. Diskusi-diskusi ini banyak menghasilkan berbagai definisi tentang hakekat, peranan serta kepentingan cendekiawan.

Contohnya?

Menurut Lewis Coser, cendekiawan adalah orang-orang “yang kelihatannya tidak pernah puas menerima kenyataan sebagaimana adanya. Mereka mempertanyakan kebenaran yang berlaku pada suatu saat, dalam hubungannya dengan kebenaran yang lebih tinggi dan lebih luas”1

Hmmm…

Edward Shils juga setuju dengan itu. Katanya kaum cendekiawan adalah orang-orang yang mencari “kebenaran”, mencari prinsip-prinsip yang terkandung dalam kejadian-kejadian serta tindakan-tindakan, atau dalam proses penjalinan hubungan antara pribadi (the self) dan hakekat (the essential), baik hubungan bercorak pengenalan (cognitive) penilaian (appreciative) atau pun pengutaraan (expressive).2

Wah. Dasyat. Teorinya oke punya. Cendekiawan itu berarti ndak pernah merasa terpuaskan donk? Libidonya gede juga yak?😀 Lah..mereka itu motifnya apa jadi cendekiawan? Cari popularitas? Cari duit? Kekuasaan? Wanita ? Seperti saya…

Kaum cendekiawan non-marxist bilang motif mereka adalah kegairahan untuk berbakti kepada kebenaran. Ini terkait asal-usul keagamaan mereka. Karena memang dahulu kaum rohaniawan lah yang memerankan peranan cendekiawan. Mereka tidak memiliki kepentingan duniawi. Tidak berminat pada keuntungan sosial maupun politis.

Wah, persis begawan atau resi gitu donk? Kerjaannya paling bertapa, nulis kitab, ya sesekali mesti berpuasa. Juga berpuisi. Selamat menunaikan ibadah puisi. Itu kata Joko Pinurbo.

Hahaha…Ya begitulah dahulu. Saya ingat dengan pendapat Julien Benda bahwa pada abad duapuluh cendekiawan telah berkhianat. Mereka mulai terlibat percaturan politik. Padahal seharusnya cendekiawan itu orang yang kegiatan hakikinya BUKAN mengejar tujuan-tujuan praktis.

Cendekiawan adalah orang yang mencari kegembiraan dalam berkesenian, ilmu pengetahuan, atau teka-teki metafisika; Jadi tidak mengambil keuntungan materi alias kebendaan.

Miskin donk? Wah rugi tuh…Enakkan jadi pengusaha. Banyak duit, terkenal, bisa punya istri banyak dan gak ada yang protes..!

Hihihi…Benda bilang lagi: “Kerajaanku bukan di dunia ini”3. Serupa dengan pendapat Mannheim bahwa cendekiawan itu semacam lapisan yang terapung bebas dalam masyarakat, tanpa pertalian dengan suatu kelas tertentu.

Nah, itu kan pendapat kaum non-marxist. Lalu pendapat kaum Marxist piye? Apakah sama? Oh ya..Marxist itu siapa? Marxist Kido pebulutangkis kita ituh..?

Marxist..masak gak tahu?..ah pura-pura nih…Kaum Marxist tidak sependapat sama sekali..! Mereka lebih realistis. Bagaimana mungkin kesadaran seseorang tidak terkait dengan eksistensi kebendaannya? Eksistensilah yang menentukan kesadaran, dan bukan sebaliknya.

Jadi kalau ada cendekiawan marxist yang radikal, sebetulnya mereka itu justru orang yang tidak sukses! Kehilangan hak dalam lapisan mereka sendiri. Jadi sikap protes dalam politik adalah cerminan rasa tak puas atas kedudukan sosial yang rendah.

Wah menarik nih… Sikap protes itu bisa datang dari mana saja donk?

Yoi, Mas Kopdang…Anda benar..! Ernest Mandel bilang bahwa protes muncul dalam lapangan pekerjaan cendekiawan itu. Penurunan dalam status, pengurangan kesempatan, kebebasan bekerja, dan penghargaan, yang semuanya itu adalah ciri khas dari pertumbuhan massal jabatan dan proses birokratisasi yang mengiringinya, yang tercakup dalam lapisan itu. 4

Ah, makin pusing saya Bung..! Dari tadi bicara pendapat dan penghayat kaum Barat. Nah kalau kita turunkan ke bumi Indonesia. Terutama alam kontekstual kekinian di mana ternyata Jawa makin mendominasi kekuasaan di Indonesia, bagaimana Bung..? Di mana peranan cendekiawan..? Apakah cendekiawan itu boleh berkuasa?

Oke..sabar donk, Ah…! Nah, sebenarnya yang Benda katakan bahwa kaum cendekiawan memegang kekuasaan justru karena mereka tidak memiliki kepentingan praktis, ternyata berlaku untuk alam pikiran orang Jawa.

Jawa beda dengan Barat. Konsep kekuasan orang Barat dengan dasar gagasan politik bahwa kekuasan adalah abstrak. Kekuasaan cuma istilah. Sekadar melukiskan suatu pertalian hubungan tertentu.

Sedangkan orang Jawa percaya bahwa kekuasaan merupakan hal yang konkret, yang keberadaannya terlepas dari pihak yang mungkin menggunakannya. Kekuasaan adalah energi gaib yang misterius dan suci, yang menggerakkan seluruh alam. 5

Hahaha.. betul Bung. Dianggap punya daya linuwih to? Titisan Brama Kumbara? Atau Joyoboyo gitu deh…Kudu dianggap sekti mandraguna.

Orang Jawa beranggapan, dalam batas tertentu, kekuasaan mewujud dalam PUSAKA. Benda suci bertenaga gaib. Pusaka menjadi bagian hakiki dari kewibawaan Sultan. Malah dianggap tanpa pusaka maka wibawa seorang pemimpin seperti Sultan bisa hilang. Sultan bisa tidak dipercaya rakyatnya. Rakyat jadi mbalelo. Tidak setia. Tetapi kalau tidak ada orang yang tampil selaku Sultan, pusaka-pusaka itu pun tidak mungkin memancarkan kekuatan gaibnya, yang mewujud dalam kebijaksanaan seorang negarawan yang memberikan kebahagiaan, kerukunan serta kemakmuran bagi rakyatnya. 6

Sultan tampil selaku penghubung antara kekuatan gaib dengan alam nyata. Kekuasaan yang memilihnya menjadi penghubung. Jadi perkataan Sultan bukan saja dianggap sebagai perkataan seorang, yang kebetulan pemimpin, yang manusia namun juga perwakilan dari kekuatan yang berasal dari alam gaib. 7

Hmmm…Bung nyindir raja-raja Jawa nih..? Kuwalat lho ntar…Tapi betul juga sih Bung. Sikap kita terlalu supranatural dan terlalu nyerempet hal-hal yang melebihi rasionalitas manusia Barat. Atau jangan-jangan Bung malah nyindir Presiden sekarang? Yang memilih seluruh Kepala Staf Angkatan Udara, Laut dan Darat dari tanah Jawa? Hmmmm…Betul juga ya…

Mas Kopdang, sampai saat ini dianggap bahwa kekuasaan mampu memberikan kehidupan. Jika kekuasaan berada di tangan orang-orang yang tepat, maka akan terdapat keselarasan dalam alam dan masyarakat.

Berarti kekuasaan bisa terlepas bila bukan jatuh pada orang yang tepat? Mau ngotot bin melotot tetap rakyat berontak donk ya? Berarti kekuasaan bagi Orang Jawa adalah kemampuan untuk mengendalikan kekuatan secara halus, kemampuan untuk bertindak seperti magnit yang mengendalikan serbuk besi. Begitu kan?

Yap..! Jadi menurut alam pikiran ini, tanda-tanda berkurangnya ketetatan kekuasaan seorang penguasa serta menyusutnya kekuatan nampak dalam wujud bencana alam, tsunami, banjir, letusan guniung berapi, juga kondisi sosial yang tidak patut. Juga bila banyak pencurian, kejahatan dan kerusuhan.

Lebih menarik lagi bahwa tidak ada timbal balik antara kekuasaan yang hampir lenyap dengan munculnya gejala buruk itu. Tindak tanduk yang merugikan masyarakat dianggap karena kekuatan gaib penguasa sudah menghilang dan tidak cocok jadi penguasa lagi. Bukan sebaliknya bahwa tindak tanduk masyarakat yang penuh gejolak sosial itulah yang menyebabkan berkurangnya kekuasaan dan menghilang.

Oleh karena itu seorang penguasa jika sekali membiarkan kekacauan alam dan masyarakat terjadi kecamuk sosial akan sulit sekali memulihkan kewibawaannya. 8

Jadi penguasa di Jawa akan mengambil tindakan preventif, bila ia mencium isyarat bangkitnya kekacauan. Karena itu kecendrungan pada penguasa untuk menjadi otoriter.

Ohhhh..begitu ya? Pantas..! Lha, tapi kan tetap saja selalu ada yang tidak puas dalam struktur masyarakatnya. Lalu apa kabar kritik sosial? Model saya begini pasti bakalan di pancung donk? Lha sepanjang hidup isine’ yo nggrundel tok..timbang njendel..

Nah ini menariknya. Bahkan dapat dikatakan menarik sekali..! Kebudayaan Jawa memiliki mekanisme untuk menampung kritik.

Masa sih..?!

Pertama, kritik dimungkinkan disajikan dalam bentuk halus, sehingga tidak dapat dikaitkan dengan kekacauan sosial. Di sini BENTUK atau CARA penyajian lebih penting dari isi kritiknya. Bentuknya tidak boleh agresif, harus sangat sopan atau dihidangklan dalam bentuk senda gurau yang agak serius. Penyajian biasanya disampaikan oleh PUNAKAWAN dalam pertunjukkan wayang.

Kedua, kritik yang bentuknya lebih serius atau lebih agresif, dapat disampaikan oleh resi seperti begawan, guru ajar atau para pertapa dan guru kebatinan. Mereka hidup terpencil. Jauh di lereng gunung, tengah hutan atau berkerja secara sederhana dan tak menonjol. Mereka terus mengembangkan diri dalam menangkap gejala alam dan gejala sosial. Mereka belajar mengetahui apa yang bakal terjadi dan mempersiapkan diri menghadapi kematian. Biasanya diminta meramalkan kebobrokan dan memberi peringatan bila kerajaan akan runtuh.

Mengingat resi tidak memiliki kepentingan duniawi, maka penguasa tidak berani macam-macam. Jika sampai seorang penguasa menyiksa atau memerintahkan menghukum mati resi, maka rakyat akan menilai penguasa telah dikuasai oleh nafsu pribadi.

Berarti kebudayaan politik tradisonal sangat menakankan ada/tidaknya kepentingan pribadi dalam politik? Berarti penguasa punya kewenangan yang dianggap sah berbuat apa saja kepada rakyat, setiap orang atau kelompok, kalau dianggap menentangnya bilamana memiliki kepentingan pribadi; Dasarnya apa..? Jangan-jangan kekuatan gaib itu memberikan dukungan juga. Tindakan menyalahkan orang atau menyingkirkan kelompok serupa malah bisa dijadikan usaha memperbesar kekuasaan donk?

Ya..! Tetapi jika usaha penindasan diarahkan terhadap resi yang dianggap tidak memiliki ambisi duniawi dan kepentingan pribadi, maka tindakan tersebut akan dinilai rakyat sebagai pertanda akan runtuhnya pusat kekuasaan. 9

Nah, Mas Kopdang, sayangnya sampai sekarang sistem kekuasan dalam masyarakt Jawa hanya dibahas, didiskusikan dan dikupas dari segi kebudayaan saja. Padahal bila dilakukan pendekatan secara struktural ilmiah maka akan memberikan pengertian yang lebih praktis mengenai fenomena ini.

Dari dulu, sistem politik orang Jawa, konsep negara merupakan lingkaran-lingkaran memusat yang berpusat di sekitar Sultan sebagai pusat umum.

Maksudnya, Bung?

Meskipun ia adalah penjelmaan kekuasaan, namun kekuasaan yang nyata hanya terbatas pada ibukota saja. Di luar ibukota ia terpaksa menyandarkan diri pada kaum ningrat, kaum bangsawan, kaum priyayi. Wilayar luar ibukota dibagi-bagi dalam sektor, wilayah dan kawasan.

Setiap daerah dikuasai oleh pangeran atau terkadang oleh priyayi inggil (bangsawan berkedudukan tinggi) dan berhak memungut pajak/ upeti atas nama Sultan. 10

Lha, itu mirip retribusi daerah, buat PAD (Pendapatan Asli Daerah)…? Atau malah mirip Japrem. Jatah preman?

Sistem ini mirip dengan bentuk yang oleh Max Weber disebut negara birokrasi patrimonial.

Pangeran dan bupati memungut upeti sebanyak mungkin. Sebagian disetor kepada Sultan. Tidak ada batas berapa banyak penguasa dapat memungut upeti.

Batasnya ditentukan tradisi, dan bila dianggap memungut terlalu banyak, rakyat akan mengecam dan dianggap ada penyelewengan. Ini lah yang banyak menyebabkan pemberontakan di daerah oleh petani. 11 yang mana dianggap secara budaya sebagai pertanda penguasa mulai kehilangan kekuasaanya.

Oleh sebab itu penguasa selalu tertarik menyelidiki indikasi adanya penyalahgunaan kekuasaan. Pengauasa selalu meminta informasi atau mencarinya sendiri.

Nah, di sinilah ada semacam sistem pemberi isyarat untuk memperingatkan penguasa, yaitu diperankan oleh Punakawan dalam wayang, atau oleh para resi. Dengan demikian, mekanisme politik-kebudayaan atau suprastruktur mendukung organisai sosio-ekonomis yang mendasari masyarakat.

Waks…Saya jadi paham Bung. Terima kasih penjelasannya. Tapi perasaan saya bertanya masalah mahasiswa dan cendekiawan. Apakah mahasiswa itu cendekiawan? Kok belum nyerempet. Malah yang dibahas adalah konsep cendekiawan dan konsep kekuasaan Jawa? Ayo dong cerita mahasiswa. Lumayan, bisa saya pamer-pamerkan nanti dalam blog suapaya kelihatan pinter, ngerti dan ilmiah.

Oh iya… saya malah jadi lupa. Gini aja deh. Mas Kopdang baca buku sejarah dulu tentang pergerakan mahasiswa di dunia. Seperti peristiwa penggulingan Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, penggulingan Bung Karno di Indonesia tahun 1966, jatuhnya Ayub Khan di Pakistan 1969 dan banyak lagi yang lain..

Setelah dibaca, nanti Mas Kopdang tidur lagi. Semoga saja mimpi berikutnya masih bertemu dengan saya. Kapan saja saya selalu luangkan waktu untuk berdiskusi kok.. Lumayan, nama saya disebut-sebut dalam blog kopidangdut.

Gembussss..!. Nanya kok malah dikasih PR…?!

Tenang aja..ini masih bersambung kok… Katanya orang baik. Kalau iya, mesti sabar. Mempelajari sesuatu itu kudu runut, sistematis, sopan dan berbudi pekerti luhur. Indonesia ndak kekurangan orang pinter. Hanya saja yang pinter itu gak semuanya punya sikap dan hayat altruisme.

Altruisme ki opo to, Bung…?? Makin pusing saya….?!

😯

Kayumanis, 31 Mei 2008, 02.22 WIB

Terinspirasi dan hasil obrak-abrik sekaligus bongkar pasang sekelumit tulisan Arief Budiman dalam PRISMA LP3ES, cetakan pertama, Juni 1983. Dimuat dalam PRISMA Th .V No.11, Nopember 1976 halaman 55-65. Artikel ini merupakan terjemahan dari paper dalam bahasa Inggeris yang disampaikan oleh Bung Arief Budiman dalam seminar tentang Peranan Kaum Cendekiawan dalam Masyarakat Asia dewasa ini di Mexico, 3-8 Agustus 1976.

Keterangan superscript (daftar pustaka):

  1. Lewis A. Coser, Men of Ideas (New York: The Free Press 1965), hal viii
  2. Edward Shils, The Intellectuals and the Powers and other Essays (Chicago & London: The University of Chicago Press, 1972), hal.16
  3. Julien Benda, The Treason of the Intellectuals (New York, William Morrow & Company, 1928), hal. 43
  4. Seymour M. Lipset & Asoke Basu, “ The Roles of the Intellectual and Political Roles”. Paper tak diterbitkan, tanpa tanggal, hal.17
  5. B.O.G. Anderson,” The Idea of Power in Javanese Culture” in Claire Holt (ed.), Culture and Politics in Indonesia, 1972, hal. 5 dan 7.
  6. Selo Soemarjan, Social Changes in Jogjakarta , (Ithaca: Cornell University Press, 1962, hal.18.
  7. Ibid, hal.20
  8. B.O.G. Anderson, op. cit, hal. 19
  9. ibid, hal. 57
  10. Selo Soemardjan, op. cit, hal. 25.
  11. W.F. Wertheim , East West Parallels, (Chicago: Quadrangle Books, 1965), hal. 110.

11 Comments

  1. “Lumayan, nama saya disebut-sebut dalam blog kopidangdut.”

    HUAAAAAAAAAAAAAAAAA WAKAKAKAK……………MIMPI BERSAMBUNG RUPANYA…….

    Pinter nian kau mas kopdang bikin artikel, ILMIAH tapi JENAKA…….
    salut…

  2. Hehehe…memang rumit ya…..apalagi jika diskusi dengan cendekiawaan yang banyak, pasti banyak perdebatan dari segala segi pemikiran…..

    Yang namanya penelitian aja ga pernah berhenti. Contoh, tentang minum teh. Teh itu mengurangi penyerapan zat besi (1). Teh menghambat penyebaran kanker (2). Teh membuat tekanan darah naik (3). Kita coba dari 3 pendapat tadi…pilih mana? Minum teh apa tidak? Kalau saya, karena tekanan darah rendah, pilih minum teh….kalau zat gizi penyerapannya kurang…lha ya tinggal memberi jarak antara minum teh dengan makan. Padahal bagi peneliti itu saja nggak cukup, masih ada lagi yang meneliti tentang khasiat teh, kita tunggu saja.

    Ini dari sisi benda, barang, produk…jadi masih mudah. Lha kalau manusia yang diteliti, lha tiap hari saja berbeda, pasti perbedaannya nyata sekali. Sama suami/isteri sendiri kita kan tetap nggak tahu apa yang ada di dasar hatinya….apalagi banyak pihak…

  3. @ ngodod
    timbang nggawe lemper..?!

    @ Alex
    Terima kasih pujiannya..berlebihan ah!

    @Puang😆
    Maaf, tebakan Anda meleset..
    saya bukan dosen dan bukan mahasiswa..
    Suwer..!

    @ Latree
    Itu keistimewaan saya, Bu..bisa ngatur mimpi..
    biasanya sih ketemu yg cantiq-cantiq..😉
    Kebetulan lagi sial tiba-tiba Bung Arief Budiman yang nongol..😦

    @edratna
    Makanya Bu, saya coba ngeliat masalah ini dari semua pendapat.. eh kebetulan, Pak Arief sudah pernah mengupasnya ..lengkap pula..!
    Tapi tulisan saya masih bersambung lho Bu…
    belum masuk ke inti masalah mahasiswa itu cendekiawan apa bukan..?

    Terima kasih atas opini Ibu..

  4. @ slempitancelamitan

    Hihihihi..
    serba salah emang..jawab ala kadarnya, dikata-katain..eh jawaban serius juga dikomentarin..
    😀

    Salam kompak selalu,
    [pake kaki]

  5. wuih. masih nemu prisma likuran tahun lalu. pasti ada nama dawam rahardjo, aswab mahasin, daniel dakhidae, et.al.

    ketika “reformasi” (hayah!) terwujud, selesailah tugas prisma untuk mengantar proses demokratisasi. tapi sebelum itu, sebagai jurnal dia harus bersaing dengan koran yang suka kasih order mendadak dengan honor bagus ke kolumnis yang akademisi itu…

    dulu, beberapa topik sexy yang tak mungkin muncul di koran, bisa jadi kajian di prisma. eks-gedung lp3es sekarang jadi lahan bersemak belukar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s