Antara Anggun, Piyu, Kua Etnika dan Mulan Jameela

Knowledge Economy
Ekonomi berbasis pengetahuan. Sumber penghidupan yang berasal dari kemampuan mengolah gagasan, kesadaran, keterampilan dan kreativitas, budaya suatu individu maupun komunitas.

Sejatinya, gagasan ekonomi sebagai suatu idea, sebagai satu sikap dan sebagai suatu gaya hidup adalah bukan hal baru bagi manusia Indonesia.

Berangkat dari kelompok manusia proto melayu. Meluruh dan saling melengkapi ketika menetap di gugusan nusantara. Manusia-manusia tangguh yang hidup berburu. Perkakas-perkakas diciptakan. Lalu masa berburu tergantikan dengan kebiasaan menetap lebih lama. Bercocok tanam mulai dilakukan. Terciptalah berbagai alat rumah tangga hingga perhiasan yang tercipta di masa perundagian.

Konon katanya baru di abad keempat salah satu kelompok kecil manusia nusantara sudah masuk dalam masa sejarah. Penandaan dari baca tulis. Engkau baca-engkau tulis. Aku baca dan aku tulis. Engkau baca kembali dan engkau tulis lagi. Maka menjelmalah kita menjadi manusia sejarah. Manusia segala zaman yang akan terus terkenang.
Sumbangan Sureq Galigo masyarakat Bugis. Serat dan kitab-kita Begawan dan Resi Jawa. Prasasti dengan berbagai pesan dan citra tinggi layaknya candi-candi.

Komunikasi antara yang “lebih dulu datang” dengan “yang kemudian datang” terjalin komunikasi. Ada pertukaran kelebihan. Ada permintaan atas kebutuhan. Maka terjadilah interaksi.

Sejarah bumi nusantara yang penuh dengan “Sejarah (catatan masa lalu)”. Peradaban yang muncul dari berbagai alasan dan tujuan. Namun setidaknya akan selalu bermuara pada hidup yang kerasan (betah).
Lalu dari dunia sana ada sebuah gagasan baru. Keterbukaan. Bukan lagi ketertutupan. Bukan jaman untuk bermata dan berpikiran gelap. Ada pencerahan. Ada sesuatu yang terbuka lebar, seperti parasut yang mengembang. Ilmu pengetahuan memajukan segala sisi.

Gagasan yang ingin mengalahkan waktu. Lebih cepat, lebih besar, lebih mudah. Suatu realisasi sebuah gagasan revolusioner yang dinamakan dengan revolusi industri. Ada pemilik dan ada yang dimiliki. Ada tenaga, ada yang kurang tenaga, maka ada pekerja. Namun sejatinya, revolusi industri adalah upaya komersialisasi lonjakan kemajuan ilmu pengetahuan. Ditemukannya mesin uap, alat tenun pabrik, dan berbagai hasil kemajuan teknologi dari jaman aufklarung, enlightment, jaman pencerahan.

Barang diproduksi dengan cepat dan menjadi komoditas. Banyak hal dimassalkan. Ada keuntungan. Ada harapan baru untuk terus maju, maju dan maju. Hasil pertanian menjadi yang namanya tekstil. Hasil bumi dijadikan bahan bakar transportasi. Asap kereta api membumbung tinggi. Gaya hidup berubah. Bila bisa lebih, mengapa berhenti. Hidup bukan lagi ala kadarnya. Hidup harus melebihi dewa-dewa Yunani. Pemodal harus terus menumpuk modalnya. Pekerja harus terus bekerja.

Kekayaan alam terus digerus, lalu di abad 20 peperangan tiba-tiba mengancam umat manusia. Semua bertempur. Kemajuan teknologi terus meningkat. Akseleresasi perkembangan teknologi terus meningkat. Transistor ditemukan, maka mulailah manusia mengenal dengan jaman kemajuan elektronika. Dunia menjadi datar. Dunia menjadi desa besoaaaar!

Bioskop tersaingi televisi dan produk masal video rumahan. Manusia tidak lagi merasa cukup dengan memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Manusia menjadi lebih kerasan dengan memenuhi kebutuhan tersier. Maka muncullah industri baru, jauh lebih revolusioner, jauh lebih intens dan berakselerasi secepat kilat. Revolusi industri konservatif yang mulai stagnan, memunculkan industri kreatif. Nusantara pun mau-tidak mau menyaksikan dan turut merasakan kemajuan industri ini.

Udah deh gak usah berbuih-buih..contohnya orang kita sudah jago dan menunjukkan jati diri bangsa dalam pergaulan internasional bin global itu MAAAAAANNA, Bung…?

Wokeh..okeh..biar gampang, akan dijelaskan beberapa cabang industri kreatif yang telah menjadi lumbung dan sumber dapur mengepul bagi keluarga. Antara lain di bidang (sumber majalah SWA November 2007):

• Arsitektur
• Industri craft
• Industri desain visual
• Indonesia desain fashion
• Penata rambut
• Industri seni dan barang antik
• Industri film dan fotografi
• Industri televisi dan radio
• Industri publishing
• Musik
• Periklanan
Siap ya..denger baik-baik Dul…

1. Arsitek.
Dalam dunia seni bangunan ini, maka ente seharusnya kenal sama Pak Ridwan Kamil. Beliau menang IYDEY 2006 yang diselenggarakan lembaga British Council dari seluruh penjuru dunia. Kalau ente pernah ke Dubai, Hongkong, Cina maka sebetulnya ente pernah liat hasil karyanya. Lewat URBANE, ia memasang tarif Rp200juta -2 milyar sekali gores. Hebat pan..?

Juga masih ada Pak Dana. Kliennya gak main-main. Julio Iglesias, Luis Vuitton family, Raja Fadh family, Raja Maroko. Sekali berkarya ia mematok tarif US$ 100-600 ribu. Juga ada Pak Wawa, orang Cirebon, yang bikin Mal Pondok Indah hingga pusat perbelanjaan di Dubai dan Filipina, juga atrium TV Shanghai. Jasanya dipatok US$ 250-350 ribu untuk satu desain arsitektur.

2. Industri craft

Tentunya ente pernah liat Dul patung tembikar dengan sosok nyonya berbibir dower dengan pose menantang dan centil, memakai kebaya? Ya, itu karya Pak Widayanto. Barangnya dianggap barang seni namun tanpa meninggalkan unsur fungsional. Harganya? Jangan ditanya. Muahaaal bo! Dikoleksi oleh para penyuka seni gerabah-tembikar dari dalam dan luar negeri. Tapi Cuma satu kelemahannya. “Apa, Mas..?”. Pak Wida belum kawin..
😀

3. Industri Design visual.
Kalau ente pernah tinggal di kota Jogja, pastinya ente akan ngerti Dul, kalau ada sebuah perusahaan anak muda yang kreatif banget dan mumpuni di bidangnya. Namanya Petakumpet. Pernah meraih penghargaan Agency of the Year (20 penghargaan), juga finalis Cakram award kategori agency of the year (billing di bawah Rp100 milyar).

4. Industri Desain Fashion
Aha, tentu saja kita harus tahu Mas Sebastian Gunawan. Tahun 2004 ia berhasil meraih IAF World Young Designer Award yang diadakan bertepatan dengan Konvensi IAF ke-20 di Barcelona, Spanyol.

5. Penata rambut
“Mas Kopdang berpangkat kopral..kok nata rambut aja dianggep industri?”. Ah, Dul Kisut bedul marundul, ente gak tahu sih..Konon katanya penata rambut top itu sekali mainin tangannya, bisa masang tarif Rp5 juta. Nilai pasarnya setahun Rp.360 miliar.

Rudy Hadisuwarno itu sejak 1998 masuk dalam buku Who’s who in the world. Malah sejak tahun 1977, ia sudah mendapat pengakuan internasional ketika diangkat menjadi anggota Intercoiffure, sebuah organisasi tata rambut profesional dunia yang berpusat di Paris. Juga ada Pater Saerang yang menjadi penata rambut keluarga kerajaan Brunei sejak 1984. Pernah menata rambut PM Inggris M. Thatcer (1992) dan bintang Hollywood, Julia Roberts (1997).

6. Industri seni dan barang antik
Linda Gallery itu salah satu galeri kelas dunia, Dul. Punya cabang di Beijing dan Singgapur. Juga harus paham kalau dunia seni itu sungguh potensial dan menjanjikan di Indonesia. Lha, orang indonesia itu kan semenjak nyeprot lahir dari sononya sudah bawa gen nyeni dan kreatif. Coba deh inget-inget siapa itu Raden Saleh, Affandi dan Basoeki Abdullah.

7. Industri Film dan fotografi
Setelah mati suri di era awal 1990-an, industri film mampu menunjukkan kebangkitannya. Hampir setiap minggu lahir film baru di Indonesia. Situasi ini membawa keuntungan bagi jaringan bioskop seperti Cineplex 21 dan Blitz megaplex.

“Kalau dunia fotografi, siapa yang jago Mas..?”

Nah…ente katanya udah baca masalah industri kreatif ini? Kok masih nanya terusss? Ente kenal kan sama nama Darwis Triadi. Nah, bapak ganteng berkumis ini sudah bikin jaringan bisnis dengan bikin cabang studio foto di kota besar di Indonesia. Malah ia bikin Darwis Triadi school of photography.

Kalau Om Brotoseno itu, gimana Mas..?

Ya, beda-beda tipis lah..

😛

8. Industri Televisi dan Radio
Estimasi pasar industri ini Rp19 Trilyun per tahun. Gila nggak? Tapi sebetulnya potensi yang lebih besar adalah pada televisi berbayar, karena rasio pelanggan baru kira-kira 1,5% dengan nilai pasar baru Rp43milyar. Bandingkan dengan negera tetangga yang rasionya sudah 11,3% dan Malaysia 30,5%. MNC dengan Indovision dan Astro dari Malaysia masih memimpin ceruk ini.

“Kalau radio gimana, Mas..? Prambors ya jagonya..?”

Ya. Bisa juga dikatakan begitu. Tapi berhubung segmennya terlalu sempit dengan sasaran anak muda, menurut ane sih Smart FM lebih kuat. Jaringannya lebih di 10 kota besar. Bahkan ada Smart FM online yang bikin proyek e-learning. Radio yang pendengarnya paling besar berasal dari kalangan eksekutif ini mempunya pangsa pasar 30,26% Juni 2007.

9. Industri Publishing
Nah, kalau soal begini, maka yang paling menggiurkan karena adanya proyek buku yang selalu digelontorkan pemerintah. Bayangkan, tahun 2007 saja, dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sebesar Rp11,5 trilyun. Buku pelajaran masih didominasi oleh Tiga Serangkai, Erlangga, Yudhistira dan ceruk pasar untuk penerbit chiklit, novel dan buku ringan lainnya sepert gagasMedia dan Gramedia.

10. Industri musik
Anggun C Sasmi adalah salah satu contoh terbaik. Ia sudah merilis 7 album di Perancis dengan sasaran penggemar musik dunia. Tapi jangan lupakan Mas Piyu, gitaris Padi yang sekarang sedang asyik-asyiknya berbisnis konten lagu lewat Hape lewat perusahaan e-motion. Jualan RBT (ring back Tone) dan memanajeri beberapa artis seperti Tompi dan Drive. Juga masih ada si elegan-flamboyan Ahmad Dhani, yang gelagatnya sulit ditebak namun sukses menelurkan lagu hits bagi dirinya maupun band yang disokongnya. Dewi-dewi, The Rock Indonesia, Mulan Jameela, adalah deretan artis yang dilentingkan dengan jemari lirih Mas Dhani ini.

Jangan lupakan juga basis musik berdasarkan budaya yang begitu khas dan memiliki daya magis. Hl ini sangat diminati oleh masyarakat seni luar negeri. Kyai Kanjeng, Kua Etnika adalah sederet nama grup musik dan budaya yang jauh lebih terkenal di daratan eropa dan skandinavia dibandingkan di negeri sendiri.

😛

Foto di atas adalah salah satu acara yang menarik perhatian masayarakat dan pelaku industri musik (Jak Jazz 2007)

11. Industri periklanan
Dari dalam negeri yang patut diacungi jempol adalah Matari Advertising. Didirikan oleh sosok hebat bernama Ken T Sudarto (alm) dan Paul Karmadi, merupakan biro iklan lokal terbesar dan papan atas. Bahkan juragan Maknyuss, Bondan Winarno, membikin buku berjudul Rumah Iklan, sebagai hasil liputan in depth news alias laporan investigatif dalam dunia iklan Indonesia, yang banyak mengambil sudut dalam sepak terjang periklanan modern yang digawangoi orang lokal yakni Pak Kenneth Tjahjady Sudarto ini.

Bagaimana? Dilihat dari sekelumit cabang industri kreatif, dapat dikatakan dan ditarik kesimpulan, Indonesia sangat potensial dalam meningkatkan produktivitas dan memperkenalkan kepada pasar global.
Padahal Dul, ane belum sempet bilang dan cerita siapa itu Ananda Sukarlan, pianis jempolan yang bermukim di Spanyol. Juga Riri Reza dan Garin Nugroho yang karya filmnya seringa banget dapat penghargaan dalam festival film internasional.

“Ente kan malah pernah bintangin filmnya Om Garin..?”.

“Yang mana Mas..?”

“Itu..anak seribu pulau…hahahaha..”
😛
Oh iya, ane juga belum cerita seorang Wira Winata, anak muda berusia 30 tahun yang karya kartunnya dipakai di Hollywood. Bahkan saat ini ia mendapat kontrak dari Cartoon Network.

Lalu apa yang harus kita siapkan Mas..?

Ah, pertanyaan ente bagus banget, Dul..! Kita emang butuh kerjasama yang baik. Bukan Cuma tugas pemerintah, namun juga tugas kita semua.

Kita butuh sarana pendidikan yang baik di bidang kreatif ini. Sekolah desain, sekolah seni, dan sekolah keterampilan dibutuhkan untuk menumbuhkan sosok pelaku dalam bidang industri berbasis pengetahuan dan ketrampilan ini. JUga tentunya kesiapan pemerintah dalam mengatur sistem keuangan yang menjamin tersedianya permodalan. Di Amerika sono sih ada yang namanya Venture Capital. Mereka bukan bank, meraka adalah orang-orang kaya pemodal yang mau dan jeli menangkap peluang untuk berinvestasi pada industri baru yang menjanjikan di masa yang akan datang.

Nah di sisi pemerintah, perlu ada kebijakan yang terpadu dan kondusif. Terutama perlindungan hukum dalam Hak atas Kekayaan Intelektual, lalu ada pendidikan bisnis bagi pekerja seni, pelaku industri kreatif. Bagaimana caranya menjual karya, bagaimana membuat rencana anggaran dan proposal bisnis. Juga insentif pajak yang menjanjikan. Kemaren kan ane udah bahas masalah ini.

Oh iya, jangan lupa untuk selalu belajar memasarkan langsung dalam pameran di luar negeri. Makanya para pelaku industri kreatif harus ditunjang kemampuan bahasa Internasional yang cukup, syukur-syukur fasih untuk wasweswos.

“Wih..Mas Kopdang keren banget deh…tapi ente sendiri udah ngapain..masa cuman ngeblog doank..? Itu pun karena ada perlombaaan dari British Council..!”
😛

Siapa bilang..lah, buktinya ane bikin situs ini, kopdang.com, yang rencananya sebagai blog filantropi yang memajukan bisnis UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dan sarana jejaring bagi pelaku usaha, malah ane pinginnya diutamakan dalam pengembangan usaha kreatif.

“Wah..hebat Mas..! Ane coba bikin usaha fotografi ah..lumayan, sembari jalan-jalan bisa nambah penghasilan…Tapi yang jelas ane salut deh sama engkau, wahai Mas Kopdang..tulisan ente menggugah sukma ane’..! Tengkyu banget, dah..!”

Hahahaha…
(*gak nyadar muji diri-sendiri*)
😆

Jakarta, 30 Juni 2008, 02.03 wib (saat Jerman melawan Spanyol dalam Piala Eropa 2008)

Keterangan:
Tulisan ini sebagian besar berdasarkan informasi majalah SWA, BusinessWeek edisi Indonesia, MIX, dan sebagian besar dari informasi WOM (Word of Mouth alias dari mulut ke mulut…)
😛

Ini adalah tulisan terakhir dari serangkaian tulisan sebelumnya dalam rangka mengikuti kompetisi blog yang diselenggrakan oleh British Council.

tulisan terkait Industri Kreatif:

[+] Bahasa Inggris seperti Semanggi lho…

[+] Bedanya JK Inggris dan JK Indonesia

[+] Acaranya Ultah Jakarta

[+] Kreatif itu kere dan aktif..?

[+] industri paranormal..?

[+] sekolah desain…sekolah masa depan..?

(foto: dokumen pribadi..)

11 Comments

  1. mungkin hrs ada SMS (Sekolah Menengah Seni) supaya bakat2 terpendam itu bisa tersalurkan dgn baik…
    gmn dgn IKJ dan sekolah lainnya???lah ga da salahnya kan men-trigger bakat2 itu sedari awal supaya bisa tereksplor lebih sempurna??

    yg jelas salut dgn daya kreatifitas masyarakat indonesia, semoga kita bisa lebih menghargai karya2 mereka sebagaimana masyarakat luar indonesia menghargainya🙂

  2. @ mbak Fini Lubis😛
    Hahaha..bagus juga istilah Mbak: SMS Sekolah Menengah Seni..?!
    Ane ngertinya SMS itu cuma 3:
    1. Surat Menyurat Singkat;
    2. Seneng Melihat (orang lain) Susah.
    3. Susah Melihat (orang lain) Seneng.

    Mbak Fini, sebetulnya lebih baik lagi kalau ada kolaborasi antara seni dan ilmu manajerial. Sehingga para pekerja seni juga paham dan dapat mengatur segala tetek-bengek karyanya secara profesional, baik dari segi kualitas, urusan finansial, disipin diri, pemasaran, hingga pengenalan (edukasi) pada masyarakat dan pasar.

    Bukan begitu?😉

  3. @ ngodod
    Berubah dan berulah, Bung Odong..!
    Makanya semoga saja perubahan itu menuju ke arah yang lebih baik dan ulahnya pun yang ndak merepotkan anak cucu kita..😛

  4. @ latree
    Lah, bukannya Paman Tyo dengan dagdigdug-nya udah laris manis urusan sponsor dan lain sebagainya..?😉

    @rx
    Jangan beli bajakan Mas..
    Coba deh sekali-kali Mas RX nyobain pura-pura yang jadi artisnya dan punya album gak laku gara-gara pada beli bajakan..😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s