Bolehkan Prajurit TNI Nyoblos Saat Pemilu..?

Logika itu terkadang dibolak-balik dan terkesan “betul”.

Kalau memang TNI adalah netral, maka memang sudah seharusnya TNI tidak memihak pada salah satu parpol, capres dalam pemilu legislatif maupun pemilu pemilihan presiden tahun 2009 nanti.

Namun, TNI itu tentu saja terdiri dari prajurit-prajurit tangguh dengan level kepangkatan yang berbeda-beda. Mereka tentu saja [seharusnya punya hak berpolitik], punya pilihan sendiri.

Sebagai konsekuensi dihapusnya dwi-fungsi TNI, dan pemisahan antara TNI dan Polri, harus diimbangi dengan pemenuhan kembali HAK SUARA bagi seluruh prajurit TNI. Karena mereka adalah juga warga negara Indonesia.

TNI boleh tak memihak, namun prajurit, sudah selayaknya mendapatkan hak suara.

Toh, bilamana mereka apolitis secara institusional, pada kenyataannya anggota keluarga mereka, yang jumlahnya berlipat-lipat dari jumlah seluruh prajurit, memiliki hak suara. Mereka bisa nyoblosss. 

Ente juga suka liat kan, di tipi kalau ada Pemilu di Rusia, Inggris atau Amerika..para prajurit rela ngantri di pinggiran kompleks barak militer mereka, untuk turut memeriahkan pemilihan anggota dewan [legislatif] atau saat jajak pendapat [referendum], bahkan saat pemilihan presiden. 

Sudah lah..berikan saja hak suara buat seluruh prajurit TNI. Biarkan mereka memilih sendiri. Bahkan memilih untuk tidak memilih.  

Apa yang ane’ tulis ini sehubungan dengan pernyataan MABES TNI yang bilang kalau mereka Netral.   

Mabes TNI menegaskan, partai politik (parpol) peserta Pemilu jangan coba-coba menarik anggota serta prajurit TNI untuk memihak dalam pemilu legislatif dan presiden serta wakil presiden pada 2009.”Silakan saja, mereka mau ngomong apa. Tetapi yang jelas TNI telah bersikap untuk tidak ikut memihak dalam pemilu legislatif, presiden dan wakil presiden,” kata Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen di Jakarta, Senin.

Ia mengungkapkan, saat ini banyak parpol yang mencoba menarik TNI kembali ke ranah politik melalui pendekatan kepada keluarga prajurit TNI.

“Kalau keluarga kami menggunakan hak pilihnya, misalnya anak saya, silakan saja. Tetapi bukan berarti itu merupakan bentuk dukungan TNI terhadap satu kelompok, golongan, atau parpol tertentu,” tutur Sagom.

Keputusan TNI untuk tidak menggunakan hak pilih dalam Pemilu 2009 merupakan keputusan final dari sebuah perenungan serta kajian panjang.Karena itu, siapa pun tidak dapat menganggu gugat keputusan yang telah ditetapkan tersebut.

“TNI tidak akan memberikan dukungan apapun dalam bentuk apapun. TNI hanya akan melaksanakan tugas pokok, peran dan fungsinya secara proporsional dan profesional, termasuk dalam mendukung pelaksanaan Pemilu 2009 yang aman,” ujar Sagom menegaskan.(*)

 

 

Berita selengkapnya dari sini:

http://www.antara.co.id/arc/2008/7/29/parpol-jangan-coba-coba-tarik-tni/

>>> Jadi menurut ente, sebaiknya setiap prajurit TNI, boleh gak ikut nyoblos pas PEMILU…??

7 Comments

  1. Boleh….!
    {*nanya sendiri jawab sendiri*]:mrgreen:

    Alesannya mereka juga WNI dan sudah sepantasnya punya hak suara, hak berpolitik. Masalha ketakutan ada bentrokan antar pendukung parpol, itu mah alesan ngawur belaka!
    Tapi tetap, TNI secara kelembagaan memang harus netral..namun bukan untuk prajuritnya.

  2. boleh aja mas, masalah netral apa ndak netral ya setiap pemilu bisa buat latihan menolak perintah atasan, pemilu pertama nurut komandan, kedua agak-agak suloyo+nggrundel, ketiga siap komandan tapi nyoblosnya lain😀

  3. Waduh, jangan dululah bos. Jadinya diskriminatip, gak demokratis ke beliau2 ini? Ya, nyuwunsewu, gimana lagi yak? Lha wong kenyataannya, selama ini, angel tenan je mernah2ke beliau2 ini agar match dg uborampe khas sipil. Misalnya, wong diaturi di bawah depdagri aja ra kerso je.

    Lalu, ini yg lbh waduh lagi, jika beliau2 dibandingkan dg mreka yg di amrik dll. Sejarahnya lain banget lho bos. Mosok berbagai kemasan (buku, artikel, visual, seni, bahkan memori banyak org) selama ini yg mencatat banyak hal ttg beliau2 ini, bisa njenengan abaikan to? Apa ini gara2 liburan/cuti enak2an kemarin itu ya, lalu jadinya gampang lalen.

    Hanya satu kata: jangan. Dua kata: jangan dulu. Tiga kata: jangan dulu lah. Terakhir, empat kata: sabar, jangan dulu lah. Atau: Sementara jangan dulu lah.

  4. @ singal
    Aturannya emang kudu diubah, Pak..

    @Iway
    Lha, ente kopral, tentu aja bisa nolak perintah komandan..
    nah, ane kan jendral, sang komandan yang ente boongin ituh!😦

    @bah reggae
    Hah…!
    kalo mbah bilang gituh, ane ntar kaji ulang deh…
    segera saya lampirkan perkembangannya ntar.😉

    @artha
    enakkan memilih untuk tidak memilih, Sob!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s