Debat Kusir [Ber] Kacamata Kuda

 381621368_33029f0e77

 

 

Debat kusir itu mengasyikkan namun menjerumuskan. Asyik, karena kita bisa seolah-oleh duduk di depan kamera, disaksikan jutaan pemirsa, seperti layaknya komentator olah raga. Bisa mengeritik tanpa perlu pusing memberikan solusi.

 

Andaikan pun solusi dikehendaki, bisa asal comot dari pemikiran tokoh A di Koran S, tokoh U di radio I, atau jawaban dari rumusan sendiri yang tidak perlu secara ilmiah dipertanggungjawabkan metode dan sistematika berpikirnya.

 

Asal lawan debat tak berkutik, itu adalah sebuah kemenangan. Apalagi bila disaksikan oleh banyak pendengar setia. Biasanya hal ini terjadi di warung kopi, angkringan, atau warung indomi.

 

Namun, debat kusir bisa menjerumuskan. Jauh panggang dari api. Terkadang pembahasan tentang asbak, bisa diperdebatkan menjadi bagaimana bisa duren tumbuh di atas ruang tamu yang mejanya terdapat asbak. Susah. Tidak nyambung. Ndak kontekstual. Yang penting manggung!

 

Sakit memang bila kita berdebat secara elegan dengan orang bijak yang berwawasan luas. Kita bisa bertekuk lutut. Namun, banyak makna yang tak terpermanai. Banyak pengetahuan yang kita dapatkan. Ilmu yang tersedot dan masuk ke dalam jiwa raga kita.

 

Namun akan jauh lebih sakit bila kita berdebat dengan orang kerasa kepala namun sejatinya bodoh dan modal nekat. Kita hanya menghabiskan waktu, dan menjadi merugi. Mengapa? Karena tak ada apa-apa yang kita dapatkan. Tiada hikmah, yang ada malah sumpah serapah dan sampah.

 

Terkadang volume suara dalam perdepatan yang live show sangat menentukan. Diskusi jalanan yang benar-benar jalanan. Terkadang ada ekspresi melecehkan, melotot, nyengir kuda meremehkan, hingga suar menggelegar.

 

Beda juga dengan jaman masa kini, bilamana debat berlangsung hiruk pikuk di mailing list dan forum dunia maya. Tidak seperti perdebatan teman-teman Asterix yang meributkan dagangan ikan, daging  dimulai dengan tamparan dan diakhiri dengan tumpuk-tumpukkan para pendebat diiringi alunan sang musikkus Galia, mailing list atau milis biasanya perdebatan dimulai dengan pernyataan SARA, perbedaan pandangan politik, ideologi dan paling utama ya itu tadi, SARA, khususnya masalah agama.

 

Urusan Palestina bisa jadi ajang baku hantam tulisan dan pendapat. Urusan kenaikan harga BBM bisa menjadi persoalan hitung-hitungan dan ketidakbecusan pemerintah. Urusan Ryan atau Muchdi bisa menjadi perdebatan yang melebar ke arah yang ngawur dan tidak kontekstual lagi.

 

Capeeek dech..

 

Seharusnya kita perlu cerdas cermat lagi. Perlombaan ketangkasan menjawab soal yang diajukan panitia. Ya. Tentu saja sebaiknya bukan sekadar urusan cerdas cermat P4. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Namun, melebar menjadi persoalan ideologi alternatif, ilmu politik, teori hukum, hingga urusan bagaimana agar harga cabe kriting tidak melunjak di hari raya.

 

Ilmu terapan lebih diutamakan. Bicara mengapa hujan sebentar bisa bikin banjir ibukota. Mengapa Gubernur Fauzi Bowo lebih memilih memelihara kumis dibanding muncul di media massa. Mengapa blogger lebih suka menurunkan berita porno yang mengundang traffic tinggi tapi tak berguna dan sia-sia. Mengapa setiap mau pemilu selalu ada bank yang hampir kolaps.

 

Atau pertanyaan yang ringan-ringan saja.  

 

Bagaimana peserta bisa menjawab mengapa calon presiden kita justru berasal dari para Jendral sakit hati. Bagaimana calon presiden sipil kita justru orang-orang yang dulunya bergaul dengan Superman. Tak dikenal asal-usulnya, misterius, dan tanpa dipanggil, ujug-ujug menampilkan diri bak pahlawan kesorean.

 

Ya. Masyarakat kita suka sekali dengan budaya lisan. Bila perlu mengapa cabe pedas dan televisi kotak, bukannya bulat pun bisa diperdebatkan. Bahkan dipergunjingkan. Ternyata dalam dunia tulis di jagat maya, pola itu tetap terpelihara. Debat kusir ala warung kopi masih banyak berlangsung dan buang-buang daya dan tak bermakna.

 

Dari pada semua itu, bagaimana kalau kita lebih banyak membaca buku saja?

😉

 

Gambar dari flickr.com creative commons.

 

  

 

   

 

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s