SBY itu Seperti Fernando Torres, JK itu Sama Seperti Raul Gonzales

torres-kb3Susilo Bambang Yudhoyono

Cuy…
Ente pada suka nongton sepak bola kan? Pastinya kenal donk ye ama Fernando Torres, Raul Gonzales, Beckham, Ronaldo atau Anelka..

Mereka pinter banget giring bola, ada juga yang jago ngumpan, ada yang jago cetak gol, tapi juga jangan lupa, mereka pun tak segan-segan menjegal kaki lawan. Gedebruk..klontang-klontang..!

Ente pastinya juga paham di mana mereka bermain. Entah di Liverpool, Madrid, Inter, Milan, MU, Chelsea, atau Arsenal.

Nah, ente juga mestinya paham, mereka punya pelatih di klub masing-masing. Ada Benitez, ada Maurinho, ada si Wenger, dan lainnya. Terkadang pelatih terlihat elegan, pandai membuat strategi namun juga seringkali terlihat arogan.

Mereka membela klub mati-matian. Sikap professional. Biar bisa ngangkat pila kejuaraan, biar ndak dipecat dan biar bisa (tetep) jadi jutawan.

“Lah hubungannya sama SBY dan JK apaan, Boy..?”

Sabar…

Ente juga tentunya suka nongton sampe pagi pan? Begadang, ditemenin kacang, kopi, kemulan sarung, atau bagi yang berduit tentu saja lebih maknyuss kalau dibarengi taruhan duit. Persis kaya kelakuan Herjunot Ali di film “Gara-gara Bola”.

Penggila bola bisa jadi termotivasi kalau timnya menang, atau setidaknya pemain idolanya mencetak gol. Syukur=-syukur malah dapet menag taruhan. Cihuy abizzzz..!

Tapi apakah kita setelahnya terus merasa seneng? Toh esok harinya, paling banter jadi obrolan pagi (hingga berbusa-busa dan beraoma jigong!) dengan teman sekantor, rekan kerja, teman kuliah atau bahan obrolan dengan calon mertua.

Seminggu kemudian?
Sudah lupa…

Begitu pun politik.
Ramenya Cuma pas mau pertandingan. Sebelum Pemilu, sampe saat pertandingan dan obrolan sesaat setelah pemilu. Persis kayak kita abis nongton bola.

Rame dibahas sebelum pertandingan, dengan gaya apal-apalan pemain di klub favorit masing-masing, sok nganalisa, sok berani pasang taruhan. Lalu rame, hingga ejek-ejekan saat pertandingan.

Yang akhirnya menjagokan klubnya dan memang mendukung semenjak kick off, hatinya akan berbunga-bunga, senang bukan kepalang, semangat dan teriak-teriak saat menyaksikannya..

Usai pertandingan? Dibahas..lalu lama-lama lupa.

Pemilu 2009 tak ubahnya seperti Kejuaraan Liga Champion Eropah. Masing-masing partai saling ngotot bahwa partainya lah yang paling oke. Mengagung-agungkan dedengkot partai atau pentolannya yang akan diusung saat pemilihan Capres!

Gegap gempita. Rame. Riuh rendah arak-arakan bergema, saling berebut simpatik.

Padahal, Liverpool juara pun, kita gak untung-untung amat Mau MU juara, atau Madrid yang juara, Beckham yang jadi top scorer,kita gak terlalu terpengaruh.

Lha, mereka di sana-kita di sini. Palingan yang sangat terpengaruh adalah para penikmat bola yang punya “kepentingan”. Mereka-mereka yang pasang taruhan gila-gilaan. Bisa miskin mendadak atau kaya seketika. Minimal setidaknya tebal-tipis dompet bisa terpengaruh atas hasil pertandingan.

Maka, mengingat, menimbang, dan terus menimbang bahwa hasil Pemilu hanya itu-itu saja, dengan anggota dewan yang terhormat kelakuan begitu juga, pemimpin yang ndak berbeda bila seandainya pemimpinnya bukan dia, dapat disimpulkan bahwa Pemilu tak ubahnya pagelaran Kejuaraan sepakbola.

SBY dari Liverpool. JK dari Madrid, dan politikus lainnya dari klub berbeda.
Mau saling jegal, mau saling ludah, mau siapapun yang berhasil mendapatkan piala, sejatinya hanya mereka lah yang merasakan dan mendapat manfaat dari itu semua.

SBY adalah Torres.JK adalah Raul Gonzales.

Kita penonton.

Torres topscorer, ternyata tak membuat kita naik pangkat seketika. Madrid jadi juara,tak membuat si Toing, fans beratnya, langsung mendapat pekerjaan. Nganggur-nganggur juga.

Lebih baik ditempatkan semuanya itu sekadar sajian olahraga. Itung-itung hiburan. Pelepas dahaga. Tapi bukan segalanya.

Seru sebelum pertandingan. Ramai saat pertndingan. Bahagia-kecewa dengan hasilnya.

Seminggu-sebulan-setahun setelahnya?
Kita tak merasakan apa-apa. Hanya ada ingatan di benak. Dan kita jadi paham, bahwa para pemain bola di eropa sana, semata-mata bermain, menjegal, menanduk, menyundul, mengangkat piala hanya karena “kaos yang berbeda”.

“Kalau ente, Mas… dukung klub mana..?”

Kalau ane sih:  “Apapun hasilnye, tetep bonek pilihannya..”

😆

16 Comments

  1. ulasannya keren abiz bro!

    lah yg jadi francesco totti-nya siapa?

    secara qkan romanisti ini bro, hehee..

    salam damae bwt bonek!

  2. @ chic
    “cuih..cuih..!”

    @ Billy
    “Maen bola sepak sekaligus sodok..!..
    kenain bola putih tapi yang sasaran sesungguhnya bola penuh nomor..”

    @ adodo
    Yang Jadi Totti pantesnya Prabowo saja..sama-sama “Pangeran..”😛

    @ Joe
    Mega? Wah pantesnya itu mah Posh Spice.. Bukan Pemain bola tapi menentukan Nasib Taufik Beckham Kiemas..😆

  3. bener kalau bola yang menag kita tidak dapaet apa2. tapi kalau pemimpin yang baru bisa membri perubahan bak yang ke arah yang baik atau perubahan ke arah yang lebih buru. untuk itu tidak sepantasnya kita Golput. pemimpin yag adil setidaknya akan memberikan warna baru bagi kita sendiri. percayalah.

  4. For example, how successful were, famous, effective, accepted by our
    peers or how active members of society we have been.
    You will really get back to some deep and restful sleep.

    It is vital to know the particular subliminal product you aim to purchase and the
    file format you comfortable with.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s