Malaysia dan Kekuatan Jahat Sesungguhnya

“Persayaratan yang dibutuhkan oleh kekuatan jahat untuk berkuasa hanyalah bahwa orang-orang baik berdiam diri” (Sir Edmund Burke).

Malaysia adalah negeri serumpun dengan Indonesia. Maka dari itu, jaman TVRI masih jadi satu-satunya stasiun televisi, ada program acara yang dinamakan “Titian Muhibah”. Isinya adalah pertukaran penyanyi masing-masing negara untuk tampil di studio. Jadi, Sheila Madjid tampil di TVRI Senayan, sedangkan Harvey Malaiholo, bernyanyi di studio pada stasiun televisi Malaysia. Kedua-duanya disiarkan langsung di kedua negara.

Hal itu bisa terjadi, karena sesama bangsa melayu, selera bermusik tak beda-beda amat. Ami Search dengan “Isabela”-nya dapat menjadi lagu paling dikenal di Indonesia, pada jamannya. Juga “Suci dalam Debu” yang dinyanyikan bersama Inka Christie.

Dalam hal budaya, kita, Indonesia dan Malaysia layaknya pengantin baru. Mesra banget gitu looooh! Tapi itu: dulu.

Selain itu, bisa jadi Sipadan-Ligitan, Ambalat dan Manohara belum muncul untuk menjadi objek pertentangan kepentingan. Walaupun masalah Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia sudah mulai banyak yang bermasalah. Dengan tanpa adanya konflik terbuka antara Malaysia dan Indonesia, maka “kita” masih baik-baik saja.

Berbeda dengan jaman “Ganyang Malaysia! Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”. Sebelum ada program barter penyanyi, Bung Karno pernah marah besar pada Malaysia.

Sekarang, di jaman SBY, Malaysia membantu kita untuk mempertanyakan kembali KeIndonesiaan kita.

Kapal perang di perairan Ambalat sedang meniru aksi adegan film kartun Tom and Jerry. Bermain petak umpet, berkejar-kejaran, kucing-kucingan dan mirip film jaman Piala Citra masih bergengsi: “Kejarlah Daku, Kau Kutangkap”.

Bagi saya, kasus Ambalat hanyalah permainan politik belaka. Stelan petinggi kedua negara. Ada dua kemungkinan:

1. SBY minta tolong Malaysia untuk mengalihkan perhatian publik untuk menemukan “musuh bersama”. Gaya yang diterapkan George.W Bush terhadap Osama dan Saddam.

2. Malaysia dan Indonesia sedang diperalat oleh kekuatan multinasional yang sungguh kaya dan berkuasa, yang Dikenal dengan “oil company”.

Sama halnya dengan perusahaan Amerika yang lebih memilih membayar sebagian kecil bagi hasil dan “biaya keamanan” bagi Indonesia dalam rangka mengeruk bumi Papua di Tembagapura dibandingkan ongkos yang jauh lebih besar dengan membiarkan Papua merdeka dan menghadapi konflik tak berujung. Hal ini sekadar itung-itungan di meja kasir. Kita “r” atau “l”. Rugi atau Laba.

Korban permainan oil company hingga saat ini adalah Negeri Arab. Pertempuran panjang antara Syarief Husin, sang penguasa, yang dikalahkan oleh Ibnu Saud, raja Hejaz dan Nejd dan daerah taklukannya.

Maka hingga saat ini, negeri Arab diberi tambahan bonus nama: “Saudi”- diambil dari keluarga Ibnu Saud yang terus berkuasa hingga saat ini…

Jakarta, 7 Juni 2009
Via 9000/4.6.0.247

15 Comments

  1. Ralat dan info tambahan.
    1. Acara Titian Muhibah tidak menukar artis di masing-masing negara, namun hanya menyiarkan secara langsung di kedua negara. Jadi artis tetap di studio masing-masing.
    2. Penyanyi Suci dalam Debu adalah Salim Iklim dr Malaysia duet bersa Inka Christie.
    3. Ibnu Saud menang dari musuh-musuhnya dr perang panjang pada tahun 1927.

    1. Koreksi Nomer 2 :
      Lagu “Suci dalam Debu” dinyanyikan oleh Salem Iklim, setahu saya blom pernah duet ma Inka Christy.
      Klo Penyanyi yg duet Inka Christy yaitu Amy Search dalam lagu “Cinta Kita”.
      Sebelumnya Amy Search bersama Band-nya muncul dg lagu Isabella…

      begono mas Kopdang
      salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s