Dicari: “Simfoni Negeri”

Apakah hati selalu bersimfoni? Berarti adakah sang konduktor yang mengatur semua ini?

“Sesuatu yang gampang di bolak balik”, kata sohib ane tentang hati. Perihal Qolbu. Perihal jiwa-jiwa manusia.

Eitts..Tenang saja, ane sedang tidak berniat mengungkit mendiang Manajemen Qolbu😉

Ane lagi demen cerita tentang diri sendiri yang gemas dengar komentar penonton “debat calon presiden” yang konon katanya (karena ane sendiri ndak nongton) seperti ramah tamah antar saudara sepupu. Dekat tapi jarang bertegur sapa.

Pendapat ane, kalau yang dipertontonkan adalah “kesantunan politik” berlebihan dan tidak ada “greget” dan dipenuhi penggunaan bahasa amelioratif, diplomatis binti normatif, lebih baik ketiga calon pemimpin periode baru itu dijadikan dubes saja.

Senyam-senyum, unggah-ungguh yang berlebihan, layaknya utusan negeri seberang yang “wajib berpura-pura untuk santun..”.

Bukankah kita perlu perwakilan untuk menjadi juru bicara Indonesia dalam Forum Internasional, seperti Tuan Ali Alatas yang legendaris itu?

Aneksasi dibilang otonomi yang diperluas, operasi militer dibilang patroli keamanan, penumpasan nyawa rakyat disampaikan kepada media sebagai upaya pengamanan situasi dan kondisi sosial masyarakat untuk terus tertib.

Ane bukan ingin sosok sederhana seperti Ahmadinejad (yang sedang digempur pendukung Mousavi-Musawi), atau menjadikan negeri ini kaya raya seperti Arab Saudi.

Ane lebih suka pemimpin yang visioner, yang mampu membangun jiwa kebangsaan lewat upaya-upaya yang mantap! Bukan menjadikan Indonesia negara kaya, namun menjadi negara maju, dengan perikehidupan yang gemah ripah loh jinawi.

Ane membayangkan: “Anies Baswedan sebagai Capres, dan tiga pemimpin itu panelis yang membacakan pertanyaan para konseptor naskah..”

Ane mengharapkan pemimpin yang rela kerja keras membangun pondasi budaya anak negeri guna menjadi manusia-manusia pemberani!

Berani gagal, berani berdemokrasi dengan tetap mengedepankan esensi bukan termakan janji-janji, apalagi sekadar nyanyian indomie! yang cakap teknologi, yang tahan bekerja keras demi masa depan (minimal dimulai) untuk dirinya sendiri agar mandiri.

Toh, pemimpin bukan segala-galanya, tapi sejatinya tetap saja setiap simfoni butuh pengatur irama dan ritme bunyi.

Toh, kita bukan bangsa pemimpi yang selalu tidur di kala siang hari. Kita kebanyakan tidur malah semakin banyak butuh nasi..

Bukan lagi soal sipil militer, gak jaman urusan pria wanita, bukan soal neolib atau paham ekonomi lainnya, bukan lagi butuh pemimpin yang disegani dan ditakuti.

Cukuplah pemimpin orkestra negeri yang pandai menciptakan simfoni. Sehingga setelah usai Pemilihan Umum nanti, tak ada lagi “sana-sini”, “engkau-kami”, tapi cukup satu saja. Indonesia..!

Sebuah negeri di mana setiap orang berhak menikmati hidup dengan senyum berseri-seri..

😀

Sent from my BlogBerry®
powered by blog kopidangdut
https://kopidangdut.wordpress.com/
~dari urusan serius seperti dangdut hingga hal remeh sekadar politik jenaka~

5 Comments

    1. Lah, kalo gitu siapa donk presidennya, Mas?
      si Ucok kalo ditanya aslinya mana dia jawab Tarutung. Si Slamet ngaku asli Tegal, ane sendiri bukan asli Indonesia tapi Cirebon..sama dengan tempat kelahiran Anies.
      Adhyaksa ngaku orang Mandar..

      Indonesia asli cuma Alim Markus, bos maspion: ” cintailah ploduk-ploduk indonesah..”

      😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s