Wangi Di Buntut

Kalau diminta bagian mana dari pesawat yang menjadi favorit ane, maka jawabannya bagian belakang alias buntut.

Iya buntut.

Lebih ke belakang lagi dari letak lavatory. Isinya bahan makanan dan minuman, tapi yang terpenting: wangi.

Tentu saja wangi para pramugari yang kinyis-kinyis mental mentul itu.

Di sana ane bisa minum red wine ditemani cekikikan mbakyu pramugari. Syukur-syukur dapat nomor telepon, jadi bisa dilanjut untuk kopi darat.

Yap! Benar-benar kopidarat. Sungguhan kopidarat!

Minum kopi di darat sembari berharap kita tak hanya berani mabuk di udara. Di buntut pesawat. Namun juga saat menjejak bumi.

Bicara buntut, tentu saja bicara dapur, karena dapur biasanya ada di belakang.

Bukankah jaman peperangan dulu dapur umum dikenal juga adalah tempat yang asyik untuk menemukan jodoh?

“Salah kamu, Dang. Ruangan pilot itu yang asyik..!”

Wah, no comment.

Ada juga yang lebih suka kalau duduk di “aisle”. Tempat duduk yang paling dekat dengan lorong. Lho kenapa?

“Enak Dang, pas pramugari bantu masukkan barang ke kabin biasanya kita dapat bonus wangi dan empuk-empuk..”

Hmmmm..

Tapi, ada juga yang menyukai duduk di “window”. Tempat duduk dekat jendela. Biasanya orang seperti ini inginnya melihat pemandangan, tukang foto, tapi harus kuat nahan pipis. Tapi juga jangan keseringan nengok ya, kalau ndak mau dikira baru naik pesawat.🙂

**
Pesawat panggung cerita.

Selain urusan ketemu dengan yang wangi, senyam-senyum dan mental mentul, naik pesawat itu asyik karena kita bisa stel gaya.

Mau menampilkan kejaiman, mau sok cool, mau gaya kaya eksmud, semua bisa dan mungkin.

Mengapa?

Karena pesawat tak seberapa lama durasinya. Kalau hanya untuk 3-4 jam paling lama, manusia masih sanggup berpura-pura. Kecuali pesawat haji! Dan looooong distance.

Coba bayangkan kalau naik kereta api Solo-Jakarta. Balapan-Gambir. Awalnya, kita masih bisa stel kepribadian yang sesuai keinginan. Masuk Tugu jogja masih oke. Wates masih rapi jali. Kemasan cool sementara ini lancar-lancar saja.

Masuk Purwokerto mulai gak tahan. Kalau ia perokok, maka sudah gak tahan untuk menghisap. Padahal sebelumnya tahan. Yang doyan jajan, mulai clingak-clinguk lihat pedagang yang nekat masuk gerbong untuk berjualan.
(Padahal tadinya kalau pesan menggunakan pesan antar resmi kereta yang ditawarkan bagian restorasi walau harganya mahal).

Ada cowok keren yang tampan di kereta. Tadinya banyak yang suka, namun karena ia tertidur tanpa sengaja, banyak yang hilang selera. Oh mengapa oh mengapa?

Hanya karena suara ngoroknya memnuhi satu gerbong kereta.

😆

Maka dari itu pesawat seperti panggung. Kereta pun bisa, namun kecil kemungkinannya. Apapun latar belakang cerita bisa beda di atas panggung.

**
Kembali ke urusan buntut pesawat.

“Bila ane favorit duduk di sana, maka dimanakah posisi duduk ente disuka?”

Jakarta, 11:58:47 AM

Sent from my BlogBerry®
powered by blog kopidangdut
https://kopidangdut.wordpress.com/
~dari urusan serius seperti dangdut hingga hal remeh sekadar politik jenaka~

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s