Privatisasi

privatization

Mas, privatisasi, washington concensus, dan neo liberalisasi itu opo tho?

Mana nih yang ditanya? Privatisasi apa neolib nya?

Privatisasi deh.. Apaan tuh?

Gini, ndul. Awalnya ada pemikiran di Barat sono bahwa BUMN harus “dikomersialisir” dan dibuat layaknya perusahaan swasta.

Barat? Siapa tuh?

Ya, itu. Mereka yang menghuni Downing Street. No 10. Mereka mulai mengkaji soal “korporatisasi” BUMN.

Wah, berarti negara Barat ya yang pertama gagas?

Hooh. Tapi beberapa orang penting seperti Margaret Thatcher dan Keith Joseph justru beranggapan itu saja belum cukup. Pengelolaan BUMN secara profesional, berorientasi profit, dan dikelola dengan baik bukan itu yang dituju.

Maksudnya?

Mereka ingin lebih! Menyuruh BUMN seperti swasta sama seperti “membuat keledai menjadi zebra dengan mengecat strip-strip di punggungnya”. Mereka punya sesuatu yang lebih radikal dan orisinal: mereka ingin pemerintah enyah dari bisnis. Mereka ingin menciptakan bisnis jenis baru, karena memang di negeri maju maupun berkembang, belum punya panduannya tentang apa yang hendak mereka tuju.

Lalu? Jenis baru apa Mas? Bisnis macam apa yang baru?

Lebih praktis dan lebih enak untuk menjualnya saja. Inilah rumitnya. “Bisnis” baru ini perlu nama. Kandidat kuatnya adalah “denasionalisasi”, karena perusahaan yang jadi milik negara dikembalikan ke tangan swasta.

Tapi ada masalah. Contohnya seperti perusahaan tilpun, tak pernah dinasionalisasi. Lha wong awalnya memang bermula muncul sebagai bawahan departemen negara kok. Selain itu “denasionalisasi” ndak enak didengar. Ada konotasi negatif. Maka dipakailah istilah ini: “privatisasi”.

Owalah, ngono tho? Lalu, mulai deh ya privatisasi jadi istilah ngetrend di seluruh dunia, Mas?

Gak juga, ndul! Awalnya justru aneh. Thatcher sendiri ndak suka istilah ini. Justru awalnya ia tak pernah memakai istilah ini. Tapi sama seperti orang lain, akhirnya ia menyerah. Bahkan menteri energinya sekaligus menteri keuangan jaman itu, mister Nigel Lawson bilang gini:
“tak satu pun dari kami punya usulan yang lebih baik. Dan karena sekarang kata ini, atau terjemahan harafiah darinya, dipakai dari Siberia sampai Patagonia, maka boleh deh kita terus pakai istilah ini.”

Wah, ane paham deh kalau gitu. Lalu Indonesia juga latah ngadain privatisasi ya..?

Hhhmm.. Iya ndul. Mungkin juga masih dan semangkin. Lha cawapres nyang baru pan salah satu hobinya privatisasi.😆

Hahaha. Ente kok ngerti sih Mas. Tau dari mana?

Makanya baca buku Ndul! Coba baca “The commanding heights: the battle for the world economy” buatannya Daniel Yergin dan Joseph Stanislaw (2002).

Halah, aku gak percaya ente baca tulisan inggris!

Hihi, yo wis ane ngaku, kalau mau bacaan Indonesia aslii..li..li yang bikin ente ngerti masalah privatisasi, whasington concensus, dan hal ihwal ekonomi beserta istilah neolib, coba baca buku ini: “post whasington consensus dan politik privatisasi di Indonesia”.

Itu nyang bikin Pak Syamsul Hadi dkk dari CIReS (centre for international relation studies) Fisip UI. Terbitan marjin kiri.🙂

Nah! Kalau Mas Kopdang sudah baca, besok ane tak nanya lagi.🙂 Bicara Washington kuwi dan neolib. Otreh?

Monggo..
🙂

Sent from my BlogBerry®
powered by blog kopidangdut
https://kopidangdut.wordpress.com/
~dari urusan serius seperti dangdut hingga hal remeh sekadar politik jenaka~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s