Pembangunan Politik Indonesia: SDM yang memprihatinkan..

Pembangunan Politik Indonesia511px-Garuda_Pancasila%2C_Coat_Arms_of_Indonesia_svg

Pembangunan politik adalah pembangunan yang intangible. Wujudnya tak kelihatan, namun dampaknya begitu dominan.

Seperti pembangunan-pembangunan lainnya, faktor utama tentu saja sumber daya manusia yang unggul, mumpuni dan berintegritas.

Apakah SDM politik kita sudah memenuhi syarat dimaksud?

Untuk lebih mudahnya buatlah permisalan bahwa membangun kehidupan politik seperti membangun rumah.

Tanah kavling yang akan dibangun sebagai rumah harus legal. Dalam hal ini tentunya dapat diartikan bahwa negara ini sudah berdaulat dan diakui oleh negara lainnya.

Indonesia, tentunya diakui oleh hampir seluruh negara, dan memiliki hubungan diplomatik yang sangat luas. Berbeda dengan Taiwan, Israel atau Negeri Tibet yang masih penuh dengan tarik-ulur mengenai kedaulatan dan hubungan diplomatik dengan negara lainnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwasanya secara legal formal, keberadaan tanah kavlingan Indonesia, sudah benar dan legal bersertipikat.

Lantas bagaimana dengan pondasinya..?

Pondasinya tentu saja sudah cukup kuat. Pancasila mengajarkan adanya bentuk kerakyatan (yang berdaulat) yang diarahkan berdasarkan kebijaksanaan dalam  permusyawaratan dan perwakilan. Hal ini adalah suatu hal pokok bagaimana jalannya negara didasarkan pada kedaulatan rakyat dan diberikan amanah kepada masing-masing perwakilan yang telah ditunjuk.

Prinsip yang cespleng. Demokrasi yang aduhai.  Modal yang sudah kuat berlipat-lipat.

Bagaimana dengan tiang penyangga dan dindingnya?

Yap. Cukuplah..

Kebebasan berpendapat, pengaturan kewenangan Presiden, Ketentuan mengenai Dewan Perwakilan sudah sedemikian rupa ditata dengan baik dalam Undang-undang Dasar, bahkan jaminan pemilu yang jujur, .

Kerangka sistem berpolitik sudah dijamin dalam undang-undang.

Bagaimana dengan atap gentingnya?

Undang-undang mengenai partai politik, undang-undang mengenai pemilu, undang-undang mengenai hal lain yang menunjang kehidupan berpolitik sudah lumayan.

Jalinan yang saling berhubungan layaknya atap rumbia.

Bukan hal yang sempurna, namun, minimal bangunan rumah sudah dapat dikatakan “rumah”.

Tapi sayang-beribu sayang. Bila dimisalkan bahwa rumah itu dibangun dengan menggunakan tender, maka pengadaan seluruh material bangunan dan isi perabotan di dalamnya tidak dilaksanakan dengan menggunakan ketentuan tender yang baik dan benar.

Ada kongkalikong di dalamnya, ada mark-up terhadap harganya, bahkan penunjukkan pimpinan proyek pun tidak didasari oleh aturan permainan yang benar dan konsekwen.

Andaikan pimpinan proyek adalah Presiden, maka patut disayangkan manakala proses tender tidak dilaksanakan dengan baik. KPU adalah wakil pimpro.

SDM politisi diibaratkan dengan perabotan. Perabotan masih acakadut, tidak difilter dan penuh dengan intrik. Ngakunya kayu jati, padahal Cuma kayu nangka. Ngakunya sudah diplitur dan diwarnai dengan cara cat “duco”, kenyataannya hanya diamplas seadanya dan dicat seadanya.

Penghuni gedung DPR gak jelas asal-muasalnya dan kapabilitasnya. Patut dipertanyakan kompetensi dan integritasnya.

Juga untuk kursi eksekutif, perabotan yang dipakai dari berbagai merek tanpa melihat kondisi ekterior. Menyenangkan semua penjual furniture. Rumah gado-gado dengan tanpa etika berpolitik yang jelas.

Mau dia dari banteng, mau dia dari bintang, mau dia dari beringin, mau dia dari si biru, merah, oranye, kuning hingga pelangi, yang penting Pimpro aman dan banyak dapat uang saku tambahan.

SDM Politikus

Sumber daya manusia politik Indonesia sungguh memperihatinkan dengan tanpa mengikuti ritme, dan genderang etika berpolitik secara umum. Bukan lagi politik dagang sapi, tapi sudah menjadi jual-beli sapi glonggongan, yang dari sononya, sudah illegal untuk diperjualbelikan.

Untuk jadi pedangang perlu ilmu pemasaran, kesabaran, keuletan dan hitung-hitungan. Untuk menjadi dokter butuh kepandaian, kebijaksanaan dan ketelatenan menghadapi pasien, Untuk menjadi seorang pegawai harus lulus adminitrasi, tes psikologi, tes kesehatan hingga wawancara.

Lalu apa yang dibutuhkan untuk lulus tes menjadi politisi?

Apakah cukup sekadar haha-hihi dan kepandaian melobby..?

Patut dipertanyakan hasil Pemilu 2009 ini. Bagaimana manusia yang mewakili dewan perwakilan tidak diketahui asal-usul rimbanya, akar kompetensi dan integritasnya, diperparah dengan acakadutnya penyelenggaraan pemilu, dengan penuh intrik dan tarik-menarik kepentingan dengan lakon sandiwara yang makin membuat bingung pemegang kedaulatan tertinggi: Seluruh rakyat Indonesia.

Pembangunan Politik, sekali lagi adalah pembangunan yang tidak kasat mata. Pembangunan yang tidak wadag terlihat wujudnya. Namun pengaruhnya sungguh besar. Menentukan simpul-simpul kehidupan lainnya.talk_politics_free_hand

 

Perlu disadari oleh kita semua, bahwa Indonesia tidak dibangun dan merdeka hanya untuk seratus tahun ke depan, namun tak berhingga selama bumi terus ada.

Maka, tak pantas lah bila kehidupan berpolitik dimainkan sedemikian rupa bagaikan permainan monopoli sembari menunggu waktu berbuka puasa. Saat adzan tiba, ditinggal begitu saja.

Kehidupan berpolitik perlu kesantunan, dan terutama etika moral yang mendasarinya. Pengakuan diri sejauh mana ia bisa mengemban tugas. Juga kesadaran bahwa kesinambungan semangat berpolitik, tidak boleh diberhangus oleh kepentingan sesaat, kepentingan pribadi.

Karena kita, bertanggung jawab atas tujuh, delapan hingga ribuan keturunan ke depan.

13 Comments

    1. mampir mas liat-liat, salam kenal…!

      semoga kehidupan berpolitik di indonesia tidak dilandasi nafsu pribadi atau kelompok, tp untuk membangun bangsa indo menuju kesejahteraan

    2. Wah mu ngomen bingung nyari tempat komengnyah…

      Sayangnya dinegara kita ini sebagian besar SDM politik (yang ada dipemerintahan) diperoleh dengan syarat banyak uang. Ironi… Klo nyari pegawai kantor aja seleksinya begitu ketat, kenapa ga ada seleksi yang sama untuk mencari para birokrat inih?😦

  1. aku mahasiswa FISIP, mas tolongin aku dong, lagi dapat tugas makalah dari dosen untuk milih salah satu : 1. pembangunan politik & integrasi nasional 2. pembangunan politik & budaya politik 3. pembangunan politik & partisipasi politik. barangkali ada makalah salahsatu tsb diatas, thank’s sebelumnya

  2. Mungkinkah Indonesia bisa jadi pedoman untuk negara-negara dunia dalam hal pembangunan,,dan mencapai pembangunan yang ideal seperti apa yang dicita2 kan…….dan sampai kapan masyarakat kita terus terpuruk dan menderita akibat ulah para pejabat yang KKN,,,boleh minta materi mengenai pembanguanan …makasih

  3. Berbicara soal pembangunan politik itu gampang2 susah.artinya kalau kita memahami dan memiliki disiplin ilmu yg spesifik tentang politik tentu gampang.Nah bagaimana kalau justru terjadi sebaliknya?.Maka disitulah kelemahan,kebobrokan sistem politik di republik ini.Walaupun di ibaratkan seprti membangun sebah rumah dimana kavlingan dan kesiapan material lainnya lengap,tapi kalau arsitek yang mendesain rumah yang di inginka tidak profesional dan bukan ahlinya ya otomatis tidak kepuasan.Olehnya itu perlu perbaikan SDM tadi.Yang lebih memprihatikan kita semangat berargumentasi tentang pembangunan politik sedangkan pendidikan atau sekolah2 politik di indonesia di batasi,kan aneh.jadi bangun dulu sekolah politik baru negara ini memiliki masyarakat yang paham politik,sehingga ketika kita mengarahkan politik tdk ada kesulitan.

  4. mengenai politik sebagian besar orang berpendapat “politik itu kotor, busuk dan tak bermoral. benar juga pendapat2 itu krna memang begitulah situasi pol di republik ini; pol dijadikan sebagai wadah/tempat menimbun harta benda, pol gudang korupsi, dan kecurangan. tetapi sesungguhnya polittk itu adalah government vs people untuk kesejahteraan bersama. bukan untuk tujuan tujuan yang busuk!!

  5. Saya senang bahas bangsa dan negara di dunia, sebenarnya masalah yang terjadi di zaman sekarang focus pada aturan main yang gampang diabaikan bahkan tidak menikmati permainan untuk jujur dan benar menjalankan pengelolaan sebuah negeri/dunia. Mungkin urusan jadi kacau pemicunya dari unsur kepercayaan kepada rekan kerja, unsur pemahaman pada urusan yang diembankan dan unsur serah terima atas perkara yang dititipkan. Pada dasarnya negeri yang merdeka dapat dikatakan sejahtera dan aman, namun mengherankan banyak masyarakatnya tetap menyerupai gembel. Untuk hal demikian butuh pembelajaran baru di masa depan kepada kaum cerdik pandai dan ahli agama. Hal yang sederhana jadi sangat nyata lagi dibutuhkan masyarakat ke zaman sekarang terutama di suatu negeri, bagaimana cara negeri yang bersangkutan tetap hijau dan dilimpahkan hasil bumi dari buah-buahan yang segar dari pohonnya di setiap sudut taman kota yang diciptakan mereka serta sapi betina yang tetap beranak untuk hidangan, semoga urusan lekas clear ada hikmah.

  6. Aku suka bahas bangsa/negara di dunia baru, sebenarnya problema yang tampil di zaman sekarang focus untuk aturan main yang enteng diabaikan bahkan aturan tadi dipermainkan demi sebuah nilai kejujuran dan kebenaran di masyarakat. Sehingga pemikiran jadi rumit, mungkin pemicunya dari unsur kepercayaan atas rekan kerja, kebutuhan informasi tepat atas pemahaman urusan dan ketertiban/kebijaksanaan atas amanah bersama. Pada dasarnya negeri yang merdeka dapat dikatakan sejahtera lagi aman, namun mengherankan banyak masyarakatnya tetap menyerupai gembel. Untuk hal demikian butuh pembelajaran baru di masa depan kepada kaum cerdik pandai dan ahli agama. Hal yang sederhana jadi sangat nyata lagi dibutuhkan masyarakat ke zaman sekarang terutama di suatu negeri, bagaimana cara negeri yang bersangkutan tetap hijau dan dilimpahkan hasil bumi dari buah-buahan yang segar dari pohonnya di setiap sudut taman kota yang diciptakan mereka serta sapi betina yang tetap beranak untuk hidangan, semoga urusan lekas clear ada hikmah.

  7. Sorry jika tanggapan jadi tiga. Pada akhirnya membicarakan sebuah negeri yang jiwa mereka ada di sana, aku rasa perkara yang wajar bukan tanda menghinakan/menistakan. Sebab hasil pembahasan sebagai bukti yang nyata dari proses capai cita-cita. Prinsipnya dengar dan lihat, spesial kasus politik di Indonesia maka aku merasakan umpama dua sopir kendaraan yang bertengkar untuk tugasnya di satu mobil demi bantu majikan masa kerja. Bagusnya perkara umum demikian wajib di blokir dari media masa. Ganti dengan berita bagaimana keadaan petani di desa untuk menyediakan beras kepada mereka selama mereka masih hidup di kota ! Cari tahu keadaan petani apa mereka masih ada air bersih demi pengairan/irigasi dan uang untuk beli pupuk serta bibit pertanian/perkebunan selama beliau masih hidup di desa. Ganti channel televisi dirimu jadi acara tani ! Masyarakat mesti berlomba-lomba bantu keberhasilan petani, hingga mereka yang ribut politik dialihkan pemikiran pada keadaan jiwa lagi nyata dirasakan petani, coba dibuktikan saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s