SeNsOR.Cut!


“Bercinta itu mengasyikkan, Dik.. Cumbu rayu tak menentu namun mendayu-dayu membuat degup jantung kita makin menggebu. Nafsu menderu. Bahkan bagiku bercinta termasuk cabang olah raga sekaligus rekreasi yang murah meriah..”.

Apakah tulisan seperti itu juga boleh disensor?

Sensor tentu saja bisa terjadi di mana saja. Terutama, yang paling mencemaskan adalah sensor atas nama negara. Buku, film, penampilan di layar kaca, program acara, dan semua hal yang dianggap mengancam dan berbahaya boleh diintervensi. Disunat. “Cekrisss… Auh, sakit!”

Terkadang sensor itu sifatnya ringan. Hanya dipotong sebagian, atau diganti namanya. Namun, untuk sensor kelas berat, total dilarang. Film dilarang ditayangkan, buku dilarang diedarkan, program acara tidak boleh diperpanjang masa tayangnya. Kolom surat kabar dihilangkan. Seperti kolom “asal-usul” harian kompas.

Sensor muncul dari perbedaan posisi tawar. Ada yang berkuasa dan di sisi lain ada yang bermohon. “Saya berkuasa, nah kamu mau apa?”

Ada sensor lainnya yang sebetulnya juga memangkas kreatifitas. Sensor ini dinamakan “kelayakan”.

Semua tulisan di surat kabar, baik kolom maupun pendapat sudah mengalami sensor ringan yang disebut layak dan tidak layak. Ini wajar. Surat kabar punya argumentasi bahwa kualitas tulisan mempengaruhi bobot dan kredibilitas surat kabar di mata pembaca.

Begitu juga dalam dunia hiburan misalnya panggung hiburan, tayangan sinetron, album musik, dan film.

Hanya saja uji kelayakan yang tidak tepat dan cenderung berbahaya adalah atas nama “pasar”.

“Ini kurang komersil”. “Lagu kamu bakal tidak populer”. “Tulisan kamu terlalu nyastra, bikin pusing kepala”. Sensor jenis ini justru akan membelenggu para pembuat karya.

Semuanya akan diawali dengan perhitungan laba-rugi. Populer atau gagal. Rugi bandar atau membikin kita tajir melintir.
Untunglah manusia kreatif ada dan makin banyak yang berpegang teguh pada kemurnian karya. Pada kemerdekaan berpendapat. Namun, tetap dengan rasa tanggung jawab dalam karya-karyanya.

Muncul kemudian apa yang dinamakan blog, band indie, penerbit buku rumahan, forum komunitas internet, milis dengan moderasi ringan.

Dengan adanya berbagai kanal media sebagai alternatif pengejawantahan karya, maka budaya manusia akan terus berkesinambungan. Semua tercatat, semua berpendapat.

Tentu saja arus informasi yang deras, karya kreatif yang membanjir, program acara televisi yang bertubi-tubi akan membawa dampak. Manfaat atau tidak bermanfaat. Damai atau membawa kekacauan.

Tapi bukankah itu asyiknya kehidupan dunia. Terus bergerak, berkecamuk, mengalir, membludak, adil-tidak adil, jahat-baik, kreatif atau menjiplak, untung atau rugi, sementara atau abadi.

Minimal, manusia menemukan jati dirinya, baik sebagai individu, maupun saling berinteraksi dengan individu lainnya, tanpa cemas, tanpa otak, lidah atau tangan yang kelu.

Karena sensor laksana salju. Dingin-dingin empuk yang dapat mematikan! πŸ˜€

Indonesia, 10:52:00 AM, Sun, Nov 29, 2009

Iklan

Seperti Apakah Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum itu?


SBY dalam pidatonya, Senin malam, 23 November 2009:

“Khusus untuk menyukseskan gerakan Pemberantasan Mafia Hukum, saya sedang mempersiapkan untuk membentuk Satuan Tugas di bawah Unit Kerja Presiden yang selama 2 tahun kedepan akan saya tugasi untuk melakukan upaya Pemberantasan Mafia Hukum.

Saya sungguh mengharapkan dukungan dan kerja sama dari semua Lembaga Penegak Hukum, dari LSM dan Media Massa, serta dari masyarakat luas. Laporkan kepada Satgas Pemberantasan Mafia Hukum jika ada yang menjadi korban dari praktik-praktik Mafia Hukum itu, seperti pemerasan, jual-beli kasus, intimidasi dan sejenisnya.” ..

Mafia hukum. Seperti apakah mafia hukum itu? Bila kita cermati mafia hukum itu apakah ada? Apa yang mau diberantas? Orangnya atau perbuatannya?

Mengapa tidak dimulai dengan memberhentikan Susno Duadji, Abdul Hakim Ritonga, Bambang Hendarso Danuri, dan Hendarman Supandji, serta mengusut tuntas Anggodo cs.

APA SIKAP MASYARAKAT

Percayalah, bahwa kepercayaan masyarakat kepada SBY semakin luntur, walaupun sejatinya itu bukanlah yang diharapkan masyarakat Indonesia.

Logikanya sederhana. Rekomendasi Tim 8 yang ia bentuk sendiri pun tidak dilaksanakan dengan tegas melalui perintah langsung yang jelas kepada aparat penegak hukum di bawah dirinya untuk segera mengundurkan diri, atau melakukan penghentian kasus.

Untuk apalagi membuat “kue kekuasaan” baru di bawah kendali dirinya.

Tim 8 yang ada saja sudah mendapatkan reaksi antipati oleh Penegak hukum seperti Kepolisian dan Kejaksaan, lantas apa jadinya Satgas Mafia Hukum ini?

Menciptakan posisi baru? Mengalihkan perhatian? Berusaha menentramkan jiwa-jiwa yang haus rasa keadilan dengan menciptakan “gimmick” tak jelas lainnya?

Sudahlah..

Bereskan saja dengan runut permasalahan ini dengan menguraikan satu-persatu, sehingga kekusutan benangnya mulai dapat diketahui. Mana pangkal mana ujung.

KUE KEKUASAAN BARU

Apakah orang media, LSM, dan sebagian aparat penegak hukum diminta untuk menyertakan orang-orangnya dalam Satgas ini?

Apakah tidak cukup dengan memberikan tambahan kursi “wakil menteri”..?

Pembentukan satgas ini adalah pembungkaman secara halus terhadap gejolak masyarakat yang penuh dinamika aspirasi.

Dua tahun keberadaan mafia hukum justru ingin melemahkan kontrol masyarakat untuk berhadapan langsung dengan Presiden dalam menyuarakan keluh kesah rasa keadilan yang sudah babak belur tak berbentuk.

Sudahlah Bapak Presiden. Masyarakat sudah lelah untuk sekadar beradu argumentasi, berlomba menganalisis maksud pernyataan khas Bapak yang retoris dan sulit dimaknai dengan jelas, dan disuguhi macam-macam lembaga karbitan.

Ada baiknya dengarkan apa yang mereka keluhkan, bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap beberapa individu di lingkungan Kepolisian dan Kejaksaan sudah pada ambang batas toleransi.

Copot mereka. Jadikan pejabat-pejabat itu duta besar negara sahabat di Afrika. Minta maaf lah pada Masyarakat dan seraya dengan itu menertibkan tokoh-tokoh partai Demokrat, para sponsor dan penyumbang dana yang akan makin rakus, atas ke-GR-an mereka merasa berjasa mendanai keberhasilan pada Pemilu 2009 kemarin.

Hapus fitnah dengan bukti nyata.

Pastikan pembangunan jembatan Jawa Sumatra bukan sekadar proyek balas budi. Pastikan individu-individu pejabat nista dilengserkan dengan penuh keyakinan, bahwasanya:

“Orang terbaik Bangsa masih banyak yang dapat bicara, mengapa harus mempertahankan sumber daya mafia yang ada..?”

Jadikan kepemimpinan Anda di periode kedua, adalah masa keemasan Bangsa Indonesia menuju masyarakat berpendidikan yang unggul dan sejajar dengan warga negara dunia lainnya.

Bukan saatnya lagi kita bermain tikus dan kucing, cicak dan buaya, apalagi seakan-akan ada fitnah yang ingin mencelakakan Anda.

Semuanya semata-mata karena rasa cinta kami pada Tanah Tumpah Darah Indonesia!

Maka, urungkan niat untuk membentuk tim satgas “mafia hukum”. Karena sesungguhnya, demokrasi mungkin memang harus meminta biaya yang mahal. Namun, ketegaran jiwa, sikap ksatria, akan dicatatat sepanjang sejarah peradaban manusia.

Sekali lagi: Minta maaflah kepada rakyat, sehingga apa pun hasilnya nanti, perasaan dendam, tidak suka dan dengki perlahan-lahan luruh dalam tidur malam dengan mimpi-mimpi yang begitu indah, tanpa perlu basah..

Satgas?

Lebih baik dananya dihabiskan untuk kesejahteraan masyarakat luar Pulau Jawa.

πŸ˜›

Terima kasih πŸ™‚

Indonesia, 12:31:00 AM, Tue, Nov 24, 2009

Apakah Kita Cinta Negeri Ini?


Semua ada maqamnya. Ada tempatnya. Positioning, kata orang bisnis.

Tapi ada yang lebih akurat untuk hal ini: proporsional dan kontekstual.

Bila semua pihak saling berlomba-lomba lari mencapai garis finish, lantas tak ada penonton dan tak ada wasit, maka namanya bukan lagi lomba..melainkan lari dari kenyataan.

Sekarang, bahkan semua beramai-ramai mempertanyakan sikap Presiden Republik Indonesia. Entah kenapa semenjak Presiden RI ketiga BJ Habibie, dilanjutkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, kemudian Presiden Megawati Soekarno Putri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kewibawaan Presiden tak sehebat zaman Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.

Bahkan Presiden Abdurrahman Wahid yang biasa disebut Gus Dur digantikan Ibu Megawati lewat pemakzulan. Impeachment.

Sedih. Prihatin. Bangsa yang besar dan akan terus besar terancam dikerdilkan.
Energi dihabiskan untuk terus saling menyalahkan. Saling serang. Saling tidak percaya. Saling curiga.

Malaysia, Singapura dan negeri tetangga lainnya sudah melaju penuh akselerasi menuju Negara Gemah ripah loh jinawi. Sedangkan Indonesia berputar-putar seperti berada di labirin tak berujung.

Apakah ini yang dinamakan ongkos demokrasi?

Boleh saja kita menaruh curiga jangan-jangan ini adalah pengkerdilan yang disengaja. Grand design yang sistematis meluluhlantakkan sendi-sendi keguyuban bangsa. Negeri Gotong royong yang tinggal sejarah. Entah berpijak pada prinsip apa.

Saling mengejek ideologi, saling menuduh kepercayaan yang dianut, proses pri kehidupan yang makin lama-makin mereduksi kekayaan moral, bathin terlebih kekayaan alam dan sumber daya manusia Indonesia.

Bagaimana mau jadi bangsa unggul jika tak ada jiwa kebersamaan. Indonesia sudah bukan lagi Indonesia yang bersatu. Melainkan Indonesia tak bertuan yang menjadi gugusan pulau tempat tawuran. Namun, di sisi lain, negeri asing berlomba-lomba menjarah kekayaan negeri ini dan menghabiskan kantong rakyat dengan pola konsumsi yang tak tahu diri.

Bukan zamannya lagi kita terus menerus berdiam diri untuk dikerdilkan. Bangsa ini bangsa yang besar, Kawan..

Semoga, kita semakin paham di mana kita berdiri. Semakin sadar tantangan masa depan yang makin menantang, bukan lagi urusan perseorangan, kelompok tertentu, umat tertentu. Masalah kita, adalah masalah bersama. Masalah negeri nyiur melambai. Negeri subur makmur. Negeri yang terlampau lama tertidur.

Kawan, kita bangsa yang Merdeka. Bukan bangsa para koruptor. Bukan bangsa kuli. Bukan bangsa kaum fakir. Bukan bangsa terjajah. Kita adalah ANAK INDONESIA, yang memiliki kewajiban melahirkan anak-cucu penuh martabat.

Bangsa besar yang mampu bersatu, mampu menegakkan keadilan tanpa perlu mengorbankan pri kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kita cinta diri sendiri? Cinta keluarga sendiri? Cinta kelompok sendiri? Cinta partai sendiri? Cinta umat agama sendiri? Semoga tidak!
Karena kita Cinta tumpah darah Indonesia.

Apakah Anda cinta negeri ini?

INDONESIA,
4:21:48 PM Sat, Nov 21, 2009

Pahlawan Sosial (Media) Budaya


 

Romo_Mangun_by_lasigared

Sudah saatnya kita luruskan arti pahlawan. Bukan lagi kaum ksatria pembela negeri yang memanggul senjata, berlumuran darah, dan berbau milterisme. Ya, memang bukan berarti jajaran “pahlawan” Indonesia melulu dipersepsikan dengan kaum militer, namun setidaknya dominasi dan yang terngiang di benak kita arti kata pahlawan adalah pria berani mati yang bertempur dan menyusun strategi dalam perlawanan fisik.

Pahlawan lahir juga dari kaum sipil. Diplomasi tiada henti, mendidik anak negeri, pemrakarsa cipta rasa karsa dalam budaya yang mengisi kemerdekaan, juga dapat dikatakan pahlawan. Lanjutkan membaca “Pahlawan Sosial (Media) Budaya” β†’

Hikmah Cicak Buaya Dalam Iklim Keterbukaan Informasi


Pada tingkatan tertentu, sepertinya kita memang harus berbagi kesusahan. Dapat dibayangkan bila saja Bibit dan Chandra berjalan sendirian, atau Susno berkelahi tanpa teman, mungkin gak terlalu heboh dan tidak ada banyak cerita yang dapat kita ambil hikmahnya.

1. Rahasia sangat dekat dengan kebohongan, karena kerahasiaan akan memberi kesempatan pada ketidakjujuran. Berbeda dengan berksikap transparan, semua pihak tahu, maka bila ada kebohongan akan terkuak dengan cepat. Birokrasi harus terus berusaha bersikap transparan. Bukan materi atau substansi yang memang perlu ada rahasia, tapi pada β€œproses”.

2. Polisi perlu terus didukung masyarakat. Kekuasaan tanpa dukungan rakyat, sama saja seperti cebok pake tisu. Gak marem dan terus-menerus diikuti perasaan tidak nyaman.

3. Media makin mengambil peranan sebagai kekuatan baru. Apalagi dengan tingkat peradaban yang makin maju dan kemajuan cara berkomunikasi, dalam sekejab informasi tersebar tanpa dapat dikendalikan secara penuh. Hidup new media!

4. Opini publik makin gampang untuk dipancing, namun ya itu tadi, sulit untuk dikendalikan. Kalau untuk beberapa waktu, pengelabuan wacana hangat dengan menghembuskan berita baru yang lebih heboh dan menarik perhatian memang manjur, namun ingat. Nuarani masih ada di sini, Bung!

5. Hikmah terbesar adalah, penguasa tak lagi menganggap remeh masyarakat, terutama kelas menengah yang bekerja, dengan asumsi terdekat lebih berpendidikan, lebih kritis dan terpenting: berani mengambil sikap. Apakah kita perlu bicara substansi?

Maka coba tim pencari fakta Bibit-Chandra dibubarkan saja, dan ganti dengan Tim-tim pencari fakta berikut ini:

1. Kasus Century

2. Kasus Dana Yayasan Kepedulian apa gituh. (ane lupa) yang dewan pembina isinya terdiri dari 4 menteri yang sekarang bercokol.

3. Jangan coba berani-berani BIN dikepalai Polisi. Bakal runyam mulu ntar.

4. Mereview kasus Bank Indonesia dengan melibatkan besan.

Apalagi ya…?