Gurita Cikeas: Sekadar Makanan Ringan Demi Keuntungan?


Peluncuran Buku Gurita Cikeas

Cara marketing yang ampuh supaya produk cepat laku salah satunya adalah memanfaatkan momen terhadap “trending topics”.

Tentu saja, saat ini yang lagi ramai adalah urusan gurita cikeas.

George Junus Aditjondro memang ahlinya urusan mengintip kekayaan dan kehidupan penguasa.

Dulu ia mempublikasikan tetek bengek keluarga cendana. Sekarang ia berkisah tentang cikeas. Wow! Hobi yang menggiurkan. Intip, hitung, tulis, (kasih bumbu), lantas jual. Apa bedanya dengan infotainment?

Lantas bagaimana substansi dari buku itu, yang katanya sulit ditemui di toko buku? Apakah benar? Apakah fitnah? Atau kah penuh bumbu? Semi-benar (opo iki?)..? Ah, sebelumnya boleh saja kita bertanya: “Apa perlu?”.

Bagi saya ini 100% bermotifkan materialistik alias jualan buku.

Mengapa? Lanjutkan membaca “Gurita Cikeas: Sekadar Makanan Ringan Demi Keuntungan?” ā†’

Iklan

Emosi


"emosi?"

AngRy

Apa sih yang lebih hebat dari emosi manusia, tentu saja selain urusan ketuhanan lho ya?

Mesin bisa diatur setelannya. Rumah bisa dirancang mau jadi apa. Tapi emosi manusia, siapa yang bisa atur?

Bahkan dirinya sendiri pun mati-matian menjaga emosi.

Ane ga ngerti juga apakah emosi disini sama dengan nafsu, plus alam pikiran, plus sikap batin, plus suara hati nurani. Tapi yang jelas emosi yang maksud adalah output/ keluaran yang ada dan mempengaruhi pola pikir, pola bicara, pola tindak dan suasana hati kita.

Bisa jadi seorang bos merasa disegani dengan nurutnya seluruh karyawan saat diperintah. Tapi ia tak tahu kalau 90% karyawannya menyimpan dendam kesumat pada bosnya yang begitu otoriter dan tak pernah mendengar. Lama-kelamaan, karyawan akan melakukan hal-hal yang sejatinya merugikan bosnya. Dari memperlama pekerjaan, mengerjakan tugas asal-asalan, berangkat telat dan pulang “tenggo”, dan masih banyak lagi kelakuan anak buah yang sejatinya adalah bentuk dari perlawanan (diam-diam).

Sikap batin sulit diarahkan. Bahkan diciptakan.

Banyak pencipta robot dan rekayasa mesin apapun yang dapat mengerjakan perintah sesuai “task” yang diminta. Tapi belum ada satu pun engine yang mampu menanamkan emosi pada mesin dan robot secara mandiri. Yang ada hanyalah emosi yang ditanamkan sesuai program. Bisa saja unpredictable, namun sesungguhnya hanyalah hasil randomisasi/ pengacakan dari berbagai “if” yang telah dipersiapakan oleh pencipta.

Apakah emosi sama dengan mood? Lanjutkan membaca “Emosi” ā†’

Hancock Tetap Tipikal Film Hollywood


hancock

poster film Hancock

Ada yang sudah menyaksikan film Hancock?

John Hancock, adalah tokoh dalam film tentang PR (pencitraan), percintaan dan tentu saja kepahlawanan. Baru saja saya tonton filmnya di HBO Hits. Hancock, itu judul filmya.

Hancock yang tanpa sengaja bertemu “mantan istrinya”, dan tiba-tiba seluruh kekuatan supernya hilang. Ia menjadi manusia biasa. Menjadi pemuda, menjadi lelaki, menjadi manusia yang berdarah bila tertembak.

Ada yang berbeda dari film khas hollywood lainnya. Lewat film Hancock, Peter Berg, si pembuat film ingin mencoba ramuan lain untuk menampilkan wajah baru pahlawan yang membumi. Dewa yang menjadi manusia. Namun, lagi-lagi seperti film khas hollywood lainnya, pembuat film tetap gatal untuk menjadikan super hero tetaplah super, dengan akhir cerita yang khas Amerika. Maskulin, tak terkalahkan dan berakhir bahagia.

Film Hancock tak ubahnya seperti kisah Hulk. Pahlawan tempramental yang jatuh cinta pada anak Jendral. Menjadi makhluk hijau mengerikan namun bisa dikendalikan oleh si pujaan hati.

Tentu saja konsep kepahlawanan versi Hollywood berbeda dengan kepahlawanan versi Timur seperti Jepang atau versi Prancis seperti kisah dalam film Taxi (yang sekuelnya hampir menyaingi Sinetron tersanjung itu).

Versi Jepang seperti Sailor Moon, Doraemon, atau Dash Yankuro (walau yang terakhir hanyalah film endorse produk mainan mobil-mobilan Tamiya), namun menampilkan wajah pahlawan yang berbeda dengan Hollywood. Lanjutkan membaca “Hancock Tetap Tipikal Film Hollywood” ā†’

Prita, maukah kamu jadi bintang iklan rumah sakit?


Saya cuma iseng. Bayangkan bahwa sekarang perlawanan cerdas sudah darurat dibutuhkan untuk tidak memperdalam masalah.

Prita.
New york times sudah membahasnya. Kisah perlawanannya melawan omni hospital makin ramai dan tak berkesudahan.

Ada cara terbaik, yang win-win solution.
Cari saja rumah sakit mahal yang berani menjadikan Prita bintang iklan. Bayarannya cukup Rp204juta.

red cross

kotak nyawa

Prita cukup tampil dengan mengatakan:
“Rumah sakit ini, jauh lebih baik..”

Ringkas, mengena, baik, dan tidak tendensius.

Rumah sakit yang lain itu sebaiknya rumah sakit swasta skala internasional, yang mampu dan cukup cerdas memanfaatkan momen ini.

Lantas, gerakan koin untuk keadilan?
Silahkan saja tanyakan pada penggagasnya mau diapakan.

Biasanya kaum influencer, punya banyak cara kreatif, selain menarik perhatian..

šŸ˜€