Hancock Tetap Tipikal Film Hollywood

hancock
poster film Hancock

Ada yang sudah menyaksikan film Hancock?

John Hancock, adalah tokoh dalam film tentang PR (pencitraan), percintaan dan tentu saja kepahlawanan. Baru saja saya tonton filmnya di HBO Hits. Hancock, itu judul filmya.

Hancock yang tanpa sengaja bertemu “mantan istrinya”, dan tiba-tiba seluruh kekuatan supernya hilang. Ia menjadi manusia biasa. Menjadi pemuda, menjadi lelaki, menjadi manusia yang berdarah bila tertembak.

Ada yang berbeda dari film khas hollywood lainnya. Lewat film Hancock, Peter Berg, si pembuat film ingin mencoba ramuan lain untuk menampilkan wajah baru pahlawan yang membumi. Dewa yang menjadi manusia. Namun, lagi-lagi seperti film khas hollywood lainnya, pembuat film tetap gatal untuk menjadikan super hero tetaplah super, dengan akhir cerita yang khas Amerika. Maskulin, tak terkalahkan dan berakhir bahagia.

Film Hancock tak ubahnya seperti kisah Hulk. Pahlawan tempramental yang jatuh cinta pada anak Jendral. Menjadi makhluk hijau mengerikan namun bisa dikendalikan oleh si pujaan hati.

Tentu saja konsep kepahlawanan versi Hollywood berbeda dengan kepahlawanan versi Timur seperti Jepang atau versi Prancis seperti kisah dalam film Taxi (yang sekuelnya hampir menyaingi Sinetron tersanjung itu).

Versi Jepang seperti Sailor Moon, Doraemon, atau Dash Yankuro (walau yang terakhir hanyalah film endorse produk mainan mobil-mobilan Tamiya), namun menampilkan wajah pahlawan yang berbeda dengan Hollywood.

Dalam Sailor Moon, si tokoh wanita digambarkan cengeng, manja dan tergantung. Begitu pun dengan Nobita dalam serial Doraemon. Hal yang sama ditemui dalam kisah Yankuro.

Pahlawan masyarakat timur adalah manusia yang digambarkan dengan sosok kemanusiaan yang lumrah. Dominan dengan segala kelemahannya. Termasuk dalam komik Conan, si detektif SMA yang menjadi anak kecil karena diracun oleh kawanan penjahat.

Hal tersebut juga ditemui dalam film Prancis “Taxi” dengan pernak-pernik kebut-kebutan, kocak, tidak berwibawa, namun memiliki kelebihan pada sisi yang lain.

Lantas bagaimana dengan profil pahlawan dalam film Indonesia?

Film Indonesia, tentu saja sama halnya dengan Jepang. Pahlawan digambarkan seperti manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Sosok Wiro Sableng yang slebor, kisah Catatan Si Boy yang kaya, spion tengah digantung tasbih, di dashboard belakang selalu tersedia sajadah, namun dengan hobi yang stabil: playboy. Atau contoh yang nyata dalam film-film Bunyamin Sueb. Kocak, tengil, namun baik hati.

Sosok ideal dalam budaya timur yang dikatakan sebagai pahlawan ialah sosok yang tidak steril dari kesalahan. Justru upaya berdamai dengan kemanusiaan yang penuh kekurangan, namun dapat bangkit dan memperbaiki kehidupannya itulah yang lebih disukai sebagai figur pahlawan.

Pahlawan yang manusia dan bukannya pahlawan yang hidup bagai dewa.

Maka bila Anda ingin bercita-cita menjadi pahlawan bagi negeri tercinta ini, jangan sekali-kali meniru Hancock yang nyaris sempurna. Jadilah pahlawan yang terbiasa dengan ketidaksempurnaan, yang selalu belajar dari kesalahan. Berani meminta maaf, dan bukannya makin getol menunjukkan sisi maskulin yang angkuh, sulit meminta maaf, dan steril dari segala kesalahan dan terlihat lemah.

Karena proses tarik menarik antara yang baik dan salah, kebenaran dan kebathilan, demokrasi dan otoriter, kesenangan dan kesedihan justru merupakan bumbu kehidupan yang patut diperjuangkan.

Proses berjuang itulah yang penuh pengorbanan dan kerja keras, maka tanpa sungkan akan disebut pahlawan, bila kita berhasil mengendalikan diri dan memperjuangkan yang putih dari cengkeraman kaum hitam.

Hancock adalah pahlawan. Tapi sayang, bukan model seperti itu yang Indonesia butuhkan.

šŸ˜€

[Categories budaya, film, pahlawan, indonesia]

4 Comments

  1. hancock bukannya manusia abadi berkekuatan super yg hidup acakadul ala generasi hippies di amerika.

    kayaknya malah gayanya norwegia bangets deh. kan kayak loki, si dewa kenakalan … hehehe

  2. punten ah…
    wah aku ngblog lagi mas setelah hampir setaun vacum claner hahahahahha

    smoga gak anget2 tai ayam heheheheh

    *sampai sekarang belum pernah nnton hancock heheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s