Emosi

"emosi?"
AngRy

Apa sih yang lebih hebat dari emosi manusia, tentu saja selain urusan ketuhanan lho ya?

Mesin bisa diatur setelannya. Rumah bisa dirancang mau jadi apa. Tapi emosi manusia, siapa yang bisa atur?

Bahkan dirinya sendiri pun mati-matian menjaga emosi.

Ane ga ngerti juga apakah emosi disini sama dengan nafsu, plus alam pikiran, plus sikap batin, plus suara hati nurani. Tapi yang jelas emosi yang maksud adalah output/ keluaran yang ada dan mempengaruhi pola pikir, pola bicara, pola tindak dan suasana hati kita.

Bisa jadi seorang bos merasa disegani dengan nurutnya seluruh karyawan saat diperintah. Tapi ia tak tahu kalau 90% karyawannya menyimpan dendam kesumat pada bosnya yang begitu otoriter dan tak pernah mendengar. Lama-kelamaan, karyawan akan melakukan hal-hal yang sejatinya merugikan bosnya. Dari memperlama pekerjaan, mengerjakan tugas asal-asalan, berangkat telat dan pulang “tenggo”, dan masih banyak lagi kelakuan anak buah yang sejatinya adalah bentuk dari perlawanan (diam-diam).

Sikap batin sulit diarahkan. Bahkan diciptakan.

Banyak pencipta robot dan rekayasa mesin apapun yang dapat mengerjakan perintah sesuai “task” yang diminta. Tapi belum ada satu pun engine yang mampu menanamkan emosi pada mesin dan robot secara mandiri. Yang ada hanyalah emosi yang ditanamkan sesuai program. Bisa saja unpredictable, namun sesungguhnya hanyalah hasil randomisasi/ pengacakan dari berbagai “if” yang telah dipersiapakan oleh pencipta.

Apakah emosi sama dengan mood?

Bisa jadi. Ane bukan ahli psikologi. Yang ane mau bicarakan adalah bahwa “emosi” sejatinya adalah jati diri kita. Wajah boleh sama, bahkan bagi anak kembar, namun emosi pasti berbeda.

Anak dan Bapak bisa jadi beda muka, namun mirip secara kejiwaan. Ah, tidak juga, tak akan pernah 100% sama. Walaupun mungkin cetak birunya sama.🙂

Atau itu justru memang satu-satunya kelebihan manusia yang ditanamkan oleh Tuhan kepada manusia. Kehendak bebas. Emosi yang dipilihnya sendiri.

Sekarang tinggal dipilih saja. Mengikuti kata emosi atau kita terus berupaya mengendalikannya. Supaya selamat, dan tak diganggu gugat.

🙂

Jakarta, Sat, Dec 26, 2009 12:31:14 PM

Via 9000/4.6.0.266

@kopdang

mas@kopdang.com

https://kopidangdut.org/

[Cat pandir]

1 Comment

  1. manusia memang makhluk yang kompleks. kalo difilsafati kayaknya kembali ke seputar struktural-fungsional, free will-takdir, atau dalam sejarah teologi islam muktazilah-jabbariyah…saya sih cenderung bahwa “manusia itu memilih, tapi pilihannya itu pun bukan pilihan. termasuk emosinya bukan pilihan”
    gitu ya mas? salam kenal. saya penggemar om kopdang, maunya niru blognya tapi blm nyampe’. hee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s