Gurita Cikeas: Sekadar Makanan Ringan Demi Keuntungan?

Peluncuran Buku Gurita Cikeas

Cara marketing yang ampuh supaya produk cepat laku salah satunya adalah memanfaatkan momen terhadap “trending topics”.

Tentu saja, saat ini yang lagi ramai adalah urusan gurita cikeas.

George Junus Aditjondro memang ahlinya urusan mengintip kekayaan dan kehidupan penguasa.

Dulu ia mempublikasikan tetek bengek keluarga cendana. Sekarang ia berkisah tentang cikeas. Wow! Hobi yang menggiurkan. Intip, hitung, tulis, (kasih bumbu), lantas jual. Apa bedanya dengan infotainment?

Lantas bagaimana substansi dari buku itu, yang katanya sulit ditemui di toko buku? Apakah benar? Apakah fitnah? Atau kah penuh bumbu? Semi-benar (opo iki?)..? Ah, sebelumnya boleh saja kita bertanya: “Apa perlu?”.

Bagi saya ini 100% bermotifkan materialistik alias jualan buku.

Mengapa?
1. Informasi dapat dibagikan via jejaring sosial dan web seperti blog atau facebook.

2. Keuntungan diharapkan makin berlimpah dengan mengambil risiko tinggi. “High risk high return”.

3. Bila informasi yang diakui penulis adalah fakta, maka jalur hukum adalah yang terbaik.

4. Mengail di air keruh. Diakui sangat pandai memanfaatkan momen. Cikeas saat ini adalah sorotan.

5. Lebih mantap bila ditulis dalam kolom koran yang populer, misalnya koran tempo atau majalah tempo.

Itu adalah 5 alasan dari beberapa alasan yang mengindikasikan bahwa buku dimaksud adalah buku cerita silat, buku novel romansa yang ingin memenuhi kecurigaan masyarakat banyak.

Bukankah masyarakat lebih senang dengan hal-hal berbau jengkol di tubuh penguasa? Bila dibandingkan harum semerbak mereka (penguasa-red).

Buku, tak perlu uji kualitas, uji fakta, dan asal sesuai dengan pasar, maka dengan sesegera mungkin dapat diluncurkan. Bedakan bila penulis melakukan penulisan via koran atau majalah secara berseri. Ada kode etik pers yang membelenggu. Buku? Tak perlu.

Ya. Saya belum membaca satu kata pun dalam buku dimaksud. Saya ingin tapi tidak terlalu menggebu-gebu.

Untuk apa sih penulis meluncurkan buku? Edukasi masyarakat? Pemerataan informasi? Menguak tabir kelam?

Lakukanlah secara elok seperti yang dilakukan Bondan Winarno dalam kasus Busang (perusahaan tambang Kanada Bre-X). Tulislah di koran. Bila tak ada yang mau memuatnya di dalam negeri, kirim lah di harian luar negeri. Tapi kuncinya, penulis mau susah payah mengikuti kode etik jurnalisme. Bukan bergaya bak novelis silat apalagi cerita stensilan.

>Selamat pagi, semoga gurita enak dijadikan santap malam saja.. 😀

Jakarta, 9:32:50 AM Mon, Dec 28, 2009

Iklan