Kepergian dan Makna Kesehatan


sehat

a way to a healthy life

Apa makna di balik kepergian?

Kemarin Michael D Ruslim, Presdir Astra tiada. Usianya baru 56th. Lantas saya teringat juga dengan mBah Surip yang beberapa waktu yg lalu telah tiada. Mereka memiliki persamaan: “Meninggal saat di puncak karir”. Saya menulis status itu di twitter. Ouw, rupanya banyak yang me-retweet (RT), seperti yg dilakukan @beritalifestyle -nya okezone.com (http://lifestyle.okezone.com/) Lanjutkan membaca “Kepergian dan Makna Kesehatan”

Iklan

Negeri Pancasila: Anak-anak yang dipelihara oleh cuaca?


“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya” (Ali bin Abi Thalib ra)

Sebetulnya siapa sih yang harus menjaga anak-anak? Orang tuanya, negara atau orang berpunya?Anak-anak yang statusnya berubah menjadi “terlantar” itu bagaimana bisa?

Dalam hukum, ada istilah “mumayiz”. Belum baligh. Siapa yang bertanggung jawab atas pri kehidupannya? Orang tua kan?

Lantas ada juga istilah hak alimentasi yaitu hak anak mendapatkan pengasuhan orang tua. Bukannya begitu aturan mainnya selama ini? Lantas kalau orang tuanya sendiri tak bisa menghidupi dirinya sendiri apa yang dapat diharapkan dari mereka padahal hobby-nya sesuai cita-citanya: Bikin keluarga besar.

Boleh-boleh saja konstitusi berkata: Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Nyatanya? Untuk memelihara keberlangsungan tata negara yang tertib saja sulit. Bagaimana mampu mengurusi hal-hal lainnya?

Lantas muncul cerita ngeri yang lain. Episode kekerasan berlanjut ke bab selanjutnya. Sodomi dan mutilasi kembali mencuat. Ingatan menerawang kembali sebuah nama: Robot Gedeg. Ingat?

Mengapa kisah-kisah pilu macam ini terus saja menghiasi wajah negeri ini?

Ya! Di negeri maju gemah ripah loh jinawi pun tak steril dari dunia kriminal. Pasti ada saja jalan bagi kekerasan menemukan mangsanya. Tapi apa iya kita tak mau berubah, minimal mencegah dan meminimalisir potensi ke arah timbulnya kekerasan tadi.

Jadilah orang tua yang murni dan konsekwen. Bukankah sudah diperingatkan bahwasanya persiapan ekonomi sebelum memiliki buah hati sangat dianjurkan? Bayi laki-laki 2 ekor kambing. Satu kambing bagi bayi jelita. Bukankah itu bermakna bahwa perencanaan dan persiapan adalah mutlak adanya?

Budaya saling tolong menolong di kota besar tanpa ikatan sejarah yang sama, latar belakang ekonomi yang berbeda, jurang pendidikan yang menganga adalah modal dasar bagi kota antah berantah penuh daki kejahatan di sana-sini.

Haruskah kita berbuat sesuatu atau berdiam diri.

Perlukah pemerintah sampai melakukan tindakan represif mengambil atau bahkan merenggut hak pengasuhan orang tua jika terbukti tak mampu. Lantas mau dibawa kemana anak-anak ini?

Apakah negara mampu melakukannya?

Lingakaran setan makin jelas. Orang tua miskin. Akses yang terbatas pada sumber-sumber penghidupan, akses sosial, kesehatan, pendidikan, melahirkan keturunan yang cacat sosial sejak dilahirkan.

Tapi anehnya di satu sisi, sebagian keluarga memiliki akses sosial yang obesitas. Apapun, dimanapun, mau apapun ia mampu. Tinggal tunjuk, hanya mengerdipkan mata, maka semua terjadi.

Keluarga yang termajinalkan secara sosial tak memiliki kemampuan untuk mandiri. Apakah ini yang dinamakan negeri fakir? Ketika diberi makan pagi hari, sore hari mereka tak mampu mencari sendiri?

Atau jangan-jangan cuma hasil dari karakter bangsa yang dimanja ketertindasan, kemalasan dan berharap pada “iba”?

Sungguh malang nasib kita.

Negeri pancasila. Itu saja. Tanpa membawa efek apa-apa..

>Apakah ente punya usul atau pendapat?

UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas: Sudah Saatnya Kita Ciptakan dan Atur Saja Teleportasi


malem

lalin malem hari

Transportasi tentu saja beda dengan teleportasi. Transportasi melibatkan perpindahan fisik melalui ruang dan waktu sedangkan teleportasi merupakan perpindahan fisik yang dapat menembus ruang (dan mungkin) waktu.

Transportasi membutuhkan kendaraan biar cepat sampai ke tujuan. Motor, Mobil, Pesawat, dan becak merupakan contoh alat transportasi. Khusus motor, mobil dan becak, mereka akan banyak berjumpa dan berinteraksi di jalanan. Belum bila disebutkan juga sepeda, bajaj, bemo, delman, dan transportasi aneh bin ajaib lainnya. Kecepatan, kecanggihan, harga tiap kendaraan berbeda. Bila ingin lebih jauh lagi, pola pendidikan para pengendara pun berbeda. Lanjutkan membaca “UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas: Sudah Saatnya Kita Ciptakan dan Atur Saja Teleportasi”

Keluh Kesah Pegawai Swasta


Ia menyebut dirinya “Rain” (21th), ingin berbagi sbb:

permisi…
sekedar berbagi sedikit mengenai apa yang terjadi pada saya saat ini..
saya seorang karyawan swasta yang baru sekitar 4 bulan bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di Indonesia yang bertaraf internasional..
umur saya baru 21 tahun dan sangat bersyukur ketika mendapat panggilan kerja dari perusahaan disaat saya baru satu bulan diwisuda..sungguh peluang yang baik untuk menjauh dari label “Sarjana Pengangguran”..

Pada awalnya saya bercita-cita ingin jadi PNS yang merupakan profesi favorit di lingkungan tempat tinggal saya, tetapi ternyata keinginan untuk bisa hidup mandiri telah mengalahkan harapan awal saya sehingga ketika ada kesempatan dari perusahaan swasta maka tanpa berpikir panjang saya langsung memanfaatkannya..

Bahkan ketika ada lowongan CPNS, saya sama sekali tidak mencuri-curi kesempatan untuk berebut kursi panas PNS..

Namun akhir-akhir ini saya merasa jenuh dengan pekerjaan saya sekarang ini, hal ini disebabkan berbagai alasan antara lain jam kerja yang “LUAR BIASA”, suasana kerja yang penuh tekanan dan sikap rekan-rekan kerja yang saling menjatuhkan dan masih banyak lagi yang lainnya, sungguh menyebalkan…
kadang-kadang saya merasa iri dengan teman-teman yang baru terangkat jadi PNS, walaupun gaji mereka lebih kecil dari gaji saya tapi waktu mereka untuk berkumpul dengan keluarga, pacar, dan waktu santai sering membuat saya ingin teriak sekencang-kencangnya..

Dilain sisi timbul perasaan dilema dibenak saya, bertahan di Swasta atau memilih PNS.. Lanjutkan membaca “Keluh Kesah Pegawai Swasta”

Saya Suka Ruhut Sitompul


Kalau Gus Dur masih ada, maka ia akan berujar: “gitu aja kok repot..” Terhadap kelakuan Ruhut Sitompel eh Sitompul. Tapi sayangnya Gus Dur sekarang sedang ongkang-ongkang kaki, nyeruput kopi dan ngerjain Munkar Nakir dengan beribu banyolan tiada tara.

Kalau ane jadi boss mah, Ruhut emang oke. Mana mungkin gag nyaman punya anak buah galak, ngelindungin majikannya, dan berani dicerca, mau jadi korban untuk jadi TOA.

Ia berbakat sebagai Prof, sayangnya prof di sini salah eja. Seharusnya prov. Kependekan dari provokator. Atau ya semacem agitator deh.. Itu juga boleh.

Ruhut itu hebat. Wakil rakyat yang mewakili rakyat entah bagian mana. Ane sendiri bingung.

Sebetulnya dengan gaya bicara, sopan santunnya yang elegan, ia lebih pantas beredar di jam sewa, seputaran kampung melayu tanah abang atau pulogadung. Eits, bukan sebagai sopir tembak lho.. Apalagi kernet, karena dua profesi terakhir itu sangat terhormat (asalkan gak oper penumpang seenak ketiaknya). Ruhut pantas jadi bagian calo penumpang. Tinggal nongkrongin halte, cawe’ pakai tangan, bawain barang sedikit, lantas minta duit. Gag dikasih kernet? Atau duit persenan kurang? Tinggal lempar sendal dan teriak-teriak. Lanjutkan membaca “Saya Suka Ruhut Sitompul”

Sejarah dan Semesta Peristiwa Silsilah Bangsa


dari flickr.com

creative commons

Rosihan Anwar mengumpulkan tulisan-tulisannya yang ringkas namun mendalam dalam Sejarah Kecil “le petit historie” yang berjumlah (sementara ini) 3 jilid buku.

Sejarah kecil ini secara sederhana dapat diartikan sebagai kisah-kisah lain yang luput dari garis besar sejarah bangsa. Bukan bagian dari arus utama. Hanyalah anak sungai yang mencabang dalam belantara sejarah Indonesia yang gelap gulita. Cerita tentang si Fulan, tentang si Toyib atau siapapun yang kisahnya asyik untuk diceritakan, walau tidak selalu terkait hal-hal yang besar, yang mengubah arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Beberapa hari yang lalu, ketika di Medan, sembari menyantap sajian makanan laut, ane sempat mengobrol ngalor-ngidul sama sohib ane disana, namanya Ryan. Kami bicara perlunya kita mengambil jarak ketika menelusuri sejarah antara kita sebagai subyek dan pokok bahasan sejarah sebagai objek, sehingga sejarah bukanlah dipandang sebagai sepenggal kisah pembenar atas keunggulan golongan si penelusur, namun semata-mata menyambung puzzle fakta yang terserak dalam berbagai artefak, catatan, buku ekspedisi, tutur lisan yang dapat dipercaya, atau dugaan-dugaan yang selama ini hanya disebut sebagai dongeng belaka.

Dalam kesempatan itu kami bicara sejarah pra kemerdekaan. Bagaimana Danau Toba terbentuk, bagaimana dalam budaya batak terdapat gambar perahu, bagaimana warna kulit dan bentuk wajah orang Aceh sangat khas, berbeda dengan suku Batak. Bagaimana Sriwijaya, konon katanya merupakan pusat perkembangan ilmu Budha dan bukannya negeri China. Lantas cerita Arung Palaka, cerita daerah Angke (Jakarta) yang dalam bahasa Makassar Sulawesi Selatan artinya harta diduga merupakan pemberian Belanda atas bantuannya menguasai Batavia-bersama-sama dengan Kapten Jonker dari Maluku (yang mendapatkan jatah daerah Marunda). Lanjutkan membaca “Sejarah dan Semesta Peristiwa Silsilah Bangsa”

Garuda Puasa Minum


eagles

burung garuda

Apa pendapat Anda?

###
Minggu, 03/01/2010 16:37 WIB
Tak Angkut Bos Freeport, Garuda Tak Diberi BBM di Timika -Indra Subagja – detikNewsJakarta –

Garuda dengan nomor penerbangan GA 652 rute Jakarta-Denpasar- Timika-Jayapura tidak diberi bahan bakar saat mendarat di Bandara Timika, Papua. Persoalannya hanya karena pilot pesawat itu menolak mengangkut rombongan bos PT Freeport dari Jayapura.

“Rombongan Presdir PT Freeport itu seharusnya naik pesawat GA 653, bukan pesawat GA 652. Kita sudah menjelaskan itu tidak memungkinkan, karena masing-masing sudah ada dokumen dan pesawat sendiri,” jelas Kepala Humas PT Garuda Indonesia, Pujobroto, saat dikonfirmasi melalui telepon, Minggu (3/1/2009).

Pujo menjelaskan, pesawat GA 652 semestinya tidak ke Jayapura, namun ke Timika, sesuai dengan rute penerbangan yakni dari Denpasar ke Timika.

“Karena cuaca di Timika tidak memungkinkan saat hendak mendarat, jadi pergi ke Jayapura lebih dahulu. Setelah cuaca baik, kemudian baru ke Timika,” terangnya.

Nah, saat di Jayapura itulah, rombongan Presdir PT Freeport menginginkan untuk ikut bersama pesawat GA 652, padahal tiket yang mereka kantongi untuk pesawat GA 653.

“Itu tidak memungkinkan, rombongan itu mempunyai dokumen sendiri. Dan tentu itu juga akan membuat delay lebih panjang,” ujar Pujo.

Pesawat yang dipiloti Kapten Manotar Napitupulu itu kemudian berangkat dengan tidak mengangkut rombongan PT Freeport. Namun kemudian, setibanya di Timika dan hendak kembali di Denpasar, mereka tidak diberi izin untuk mengisi BBM.

“Padahal Kapten Manotar sudah menjelaskan kepada pihak Bandara Timika mengenai alasan tidak diangkutnya rombongan PT Freeport. Tapi di pihak bandara tidak mengerti,” terangnya. (ndr/nrl)

###

Makin hebat khan negeri ini?
😀

Inul dan Gus Dur


Entah kenapa, setiap inget Gus Dur, otomatis ane inget sama si goyang ngebor, Inul.

Dua-duanya lucu. Gus Dur lucu karena kepinterannya, dan Inul lucu karena kepolosannya. Dua-duanya dari Jawa Timur. Dua-duanya dekat dengan masyarakat “bawah” seperti ane. Makanya, waktu Gus Dur diberitakan telah kembali, ane merasa merugi.

tebak siapa dia?

inul-ku

Gus Dur itu kocak. Bikin terhibur. Semua hal adalah banyolan. Justru itu ane demen banget dah! Sudut pandang yang indonesia banget. Love melulu. Mangan-ora mangan sing penting haha-hihi.

Setiap orang pasti punya kesan sendiri-sendiri tentang beliau.

Begitu pun dengan Inul. Entah mengapa ia sekarang jarang muncul. Kisah nyata bagaimana puan polos yang menarik hasrat sebagian pria saat berlenggak-lenggok menghibur kita semua.

Saya yakin ia bukan mengutamakan liukan tubuh. Tapi semangat dan enerjiknya yang begitu serta-merta. Mantap! Bukan syahwat yang ane dapat, tapi sekadar hiburan semata. Sungguh. 😀

Gus Dur dan Inul adalah fenomena. Mereka Indonesia banget, tak didapat dan ditemukan di negeri lain. Sama halnya seperti Waljinah, atau Sudjiwo Tedjo. Mereka begitu khas. Lanjutkan membaca “Inul dan Gus Dur”