Sejarah dan Semesta Peristiwa Silsilah Bangsa

dari flickr.com
creative commons

Rosihan Anwar mengumpulkan tulisan-tulisannya yang ringkas namun mendalam dalam Sejarah Kecil “le petit historie” yang berjumlah (sementara ini) 3 jilid buku.

Sejarah kecil ini secara sederhana dapat diartikan sebagai kisah-kisah lain yang luput dari garis besar sejarah bangsa. Bukan bagian dari arus utama. Hanyalah anak sungai yang mencabang dalam belantara sejarah Indonesia yang gelap gulita. Cerita tentang si Fulan, tentang si Toyib atau siapapun yang kisahnya asyik untuk diceritakan, walau tidak selalu terkait hal-hal yang besar, yang mengubah arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Beberapa hari yang lalu, ketika di Medan, sembari menyantap sajian makanan laut, ane sempat mengobrol ngalor-ngidul sama sohib ane disana, namanya Ryan. Kami bicara perlunya kita mengambil jarak ketika menelusuri sejarah antara kita sebagai subyek dan pokok bahasan sejarah sebagai objek, sehingga sejarah bukanlah dipandang sebagai sepenggal kisah pembenar atas keunggulan golongan si penelusur, namun semata-mata menyambung puzzle fakta yang terserak dalam berbagai artefak, catatan, buku ekspedisi, tutur lisan yang dapat dipercaya, atau dugaan-dugaan yang selama ini hanya disebut sebagai dongeng belaka.

Dalam kesempatan itu kami bicara sejarah pra kemerdekaan. Bagaimana Danau Toba terbentuk, bagaimana dalam budaya batak terdapat gambar perahu, bagaimana warna kulit dan bentuk wajah orang Aceh sangat khas, berbeda dengan suku Batak. Bagaimana Sriwijaya, konon katanya merupakan pusat perkembangan ilmu Budha dan bukannya negeri China. Lantas cerita Arung Palaka, cerita daerah Angke (Jakarta) yang dalam bahasa Makassar Sulawesi Selatan artinya harta diduga merupakan pemberian Belanda atas bantuannya menguasai Batavia-bersama-sama dengan Kapten Jonker dari Maluku (yang mendapatkan jatah daerah Marunda).

Lantas kami beralih bicara penyebaran agama Islam yang berdarah-darah di Sumatera Barat. Bagaimana Haji Miskin dan kaum wahabi menyebarkan pengaruh Islam di barat Pulau Sumatera hingga ke pelosok utara. Juga cerita Pangeran Diponegoro sebagai pewaris tahta, cerita tentang La Galigo, juga Sultan Kerajaan Gowa, mertua Sultan Hasanuddin: Kraeng Patingalloang yang memiliki teropong Galilei, peta dunia yang lebih keren dibandingkan buatan Mercator, hingga kebun binatang paling lengkap jaman itu,

Ah, semakin malam rasanya sejarah semakin koma saja. Tak pernah ada titik. Semakin kita merasa tahu, maka kejadiannya adalah semakin merasa bodoh akan akar kesejarahan.

Lama, atau bahkan tak pernah qta diajarkan tentang sejarah sebagai pergumulan peristiwa yang syarat makna. Bagaimana? Mengapa? dan bukannya Kapan? Siapa? Jaman sekolah SD hingga SMA senantiasa dijejali angka tanggal, bulan dan tahun, dan berhenti di situ. Tak pernah sekalipun guru mempersilahkan qta membuka peluang makna di balik peristiwa secara kritis dan terbuka. Sejarah selalu dianggap titik. Mapan. Permanent. Bukannya sebagai sesuatu yang terus berubah. Ya. Berubah! Karena penemuan fakta baru akan menjadi awal dari kisah yang berbeda.

##
Sejarah jaman Orba adalah sejarah kaum patriarki. Bicara perjuangan yang militeristik. Pahlawan adalah yang angkat senjata. Atau sudah ada patok lakon. Sejarah dengan versi Nugroho Notosusanto yang mengahru biru, akan berbeda dengan sejarah versi Ong Hok Ham, atau Dennis Lombard, atau Pak Sartono, atau Pak Asvi dan atau Bung Pram sekalipun.

Akar sejarah adalah cerita tentang asal-usul, juga nasib dan tentunya martabat individu maupun Bangsa..

Lantas, apakah sejarah qta senantiasa berdarah?

Itulah susahnya, kita terbiasa teledor untuk membuat catatan ringan, dokumentasi yang kronologis, mengarsip semua hal remeh-temeh, juga gampang lupa..šŸ˜€

>> Satu lagi: Apakah ente pernah mencoba untuk mencari jawaban: Siapakah kakek dari kakek kita? Apa profesinya?.. Ya. Minimal, sejarah keluarga sudah pernah kita kupas hingga terkelupas..

šŸ˜€

Jakarta, Mon, Jan 4, 2010, 9:24:45 PM
@kopdang
mas@kopdang.com
https://kopidangdut.org/

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s