UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas: Sudah Saatnya Kita Ciptakan dan Atur Saja Teleportasi

malem
lalin malem hari

Transportasi tentu saja beda dengan teleportasi. Transportasi melibatkan perpindahan fisik melalui ruang dan waktu sedangkan teleportasi merupakan perpindahan fisik yang dapat menembus ruang (dan mungkin) waktu.

Transportasi membutuhkan kendaraan biar cepat sampai ke tujuan. Motor, Mobil, Pesawat, dan becak merupakan contoh alat transportasi. Khusus motor, mobil dan becak, mereka akan banyak berjumpa dan berinteraksi di jalanan. Belum bila disebutkan juga sepeda, bajaj, bemo, delman, dan transportasi aneh bin ajaib lainnya. Kecepatan, kecanggihan, harga tiap kendaraan berbeda. Bila ingin lebih jauh lagi, pola pendidikan para pengendara pun berbeda.

Kendaraan bermotor perlu kecakapan khusus, maka dari itu Surat Izin Mengemudi diperlukan. Kalau becak dan sepeda, tak perlu. Asalkan Ente bisa mengayuh pedal dan mahir mengendalikan arah, kapanpun, di manapun ente bisa mengendarainya. (kecuali Jakarta yang anti-becak). Dengan disparitas kondisi dan kepentingan, maka perlu ada aturan. Bukan siapa cepat ia dapat. Bukan siapa yang kendaraannya canggih maka ia berhak lebih. Seharusnya bukan begitu kan?

Jalan raya sejatinya utamakan kepentingan umum. Bus Umum, Kereta Api, dan angkutan umum, harus diprioritaskan dalam berlalulalang. Mengapa? Karena mereka memuat banyak orang, banyak kepentingan dan secara resmi memang bertujuan sebagai sarana transportasi publik.

Lha, mobil dan motor pribadi?

Itu ada karena dua hal. Pertama karena mereka sungkan naik kendaraan umum yang tak terawat, semrawut, dan kotor. Kedua, mereka ingin praktis karena tujuan yang akan mereka lalui menyasar ke banyak tempat dan akses yang dilalui tidak memungkinkan menggunakan kendaraan umum.

“Ah, ada juga mobil pribadi yang dipakai buat kerja atau kuliah dengan rute yang sebetulnya mudah menggunakan kendaraan kok Mas. Mereka sekadar mau pamer ya?”

Aha, jangan begithu tho. Bisa jadi mereka hanya ingin kenyamanan dan keamanan. Selebihnya memang susah juga kita analisis. Apakah kendaraan terlalu murah, atau pajak kendaraan juga dianggap ringan, atau mereka karena sudah muak dengan alat transportasi umum yang selalu ugal-ugalan, semrawut, dan susah dipercaya (suka ngoper penumpang ke kendaraan lainnya).

Jadi gimana Mas?

Ya, itulah dia. Selama sistem transportasi dengan pelayanan umum yang masih belum tertata jelas maka aturan represif belum perlu. Jangan paksakan kesemrawutan dengan hal-hal tegas namun bikin celah baru menyuburkan praktik penyuapan di jalan raya.

Maksudnya?

UU Nomor 22/2009 tentang lalu Lintas. Bagi ane seperti aturan dewa di saat bencana alam merajalela. Lingkungan lalu lintas dan berkendaraan yang masih belum dilengkapi sarana dan prasarana memadai dipaksakan untuk dilaksanakan dengan ideal. Harusnya Kepolisian, Departemen Perhubungan dengan DLLAJR dan Pemda masing-masing wilayah melakukan koordinasi, menyiasati semakin banyaknya kendaraan pribadi menguasai jalan raya hingga gang kelinci.

[+] bonus:

  • UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas: uu22-2009
  • ulasan Kompas tentang UU Lalin yang Baru: di sini

(selama SIM masih jadi obyekan sebagian pihak dan rebutan antara DepHub dan Polisi, maka jalan akan eperti rimba raya)

1 Comment

  1. kami sepakat dengan persepsinya tetapi kami sebagai masyarakat awam tidak pernah sepakat lw polantas menilang orang dengan pasal yang belum tersosialisasikan, keadaan ditlantas skarang dari sekian-sekian pasal UU.NO.22 thn 2009 yang tersosialasasikan pasalnya hanya sekitar 0,5 % saja selebihnya itu menjadi lahan pembohongan masyarakat……………………………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s